Tulisan Paulus dalam Roma mengenai kodrat dosa merupakan uraian yang sukar dipahami. Jika salah memahami, maka pembaca bisa memiliki asumsi yang sesat. Berulang-ulang dalam kitab Roma Paulus menyatakan fakta adanya kodrat dosa di dalam diri manusia, juga di dalam dirinya. Hal tersebut menggerakkan seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Roh.
Fakta ini tidak dapat dibantah, dengan jelas Paulus menulis: Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Rm. 7:15-20). Dari hal ini dapat ditemukan betapa rentan dan rawannya hidup orang percaya. Inilah yang menjadi titik persoalan berat orang percaya sebagai anak-anak Allah yang harus hidup berkodrat Ilahi dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus, agar layak disebut sebagai anak-anak Allah.
Kodrat dosa dalam kehidupan orang percaya bukan hanya harus ditekan dan diarahkan untuk tidak melanggar tatanan hukum dan etika kehidupan secara umum, tetapi dimatikan sama sekali, untuk digantikan dengan kodrat baru.
Agama dan pendidikan budi pekerti memiliki wilayah “menjinakkan kodrat dosa” ini. Mereka berusaha untuk dapat berhasil mengatasinya. Dalam level tertentu mereka dapat mengatasinya secara terbatas, tetapi tidak akan pernah sanggup mematikannya. Mereka hanya bisa menekannya saja atau sekadar menjinakkannya, tetapi tidak akan bisa mematikannya sama sekali dan menggantikannya dengan kodrat baru, yaitu kodrat Ilahi. Hanya keselamatan dalam Yesus Kristus yang dapat menjawab masalah ini.
Kodrat dosa dalam kehidupan manusia tidak dapat diarahkan untuk bisa sinkron dengan kehendak Roh, juga tidak dapat diarahkan untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Tuhan Yesus. Kodrat dosa mengunci manusia dalam keadaan tidak berdaya mencapai kesempurnaan dan kekudusan yang dikehendaki oleh Tuhan. Hanya kodrat Ilahi yang dapat membuat keadaan moralnya sinkron dengan kehendak Roh, dan dapat mengarahkan seseorang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang percaya harus mengenakan salah satunya, kodrat manusia atau kodrat Ilahi. Dalam Kekristenan harus ada yang dikorbankan atau dimatikan, kodrat Ilahi atau kodrat manusia. Kita tidak boleh menghidupi dua-duanya, karena tidak pernah ada titik temu di antara keduanya. Dalam hal ini kita mengerti, mengapa Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.
Dari tulisan Paulus kita dapati pergumulan berat Paulus dan kesan frustasi yang dialaminya. Ia menyatakan: Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku (Rm. 7:21). Dalam tulisan ini ia menyaksikan adanya tarik menarik yang terjadi di dalam dirinya, yaitu antara kodrat dosa dan kodrat baru yang sedang ditumbuhkan, yaitu kodrat Ilahi. Paulus sangat menyadari adanya kejahatan di dalam dirinya. Kata “kejahatan” dalam teks aslinya adalah kakos (κακός), yang artinya kodrat yang buruk (bad nature), juga bisa berarti model berpikir (mode of thinking), suatu kesalahan (wrong).
Kata kakos memang tidak memiliki unsur kejahatan yang parah seperti kata adikia (kejahatan) atau parabasis (pemberontakan). Tetapi kakos menunjuk kepada keadaan yang belum sesuai dengan standar kesucian Tuhan.