Banyak orang Kristen berpikir bahwa Allah akan menolerir sikap orang-orang Kristen yang masih merasa memiliki diri sendiri, dan berpikir bahwa secara bertahap dapat dimiliki oleh Allah sepenuhnya. Biasanya, hal ini disebut sebagai “proses.” Ini adalah kesalahan yang dilakukan dan dimiliki oleh banyak orang Kristen sejak dulu. Kalau Yesus sudah membayar kita tunai, mestinya kita harus bersikap demikian, yaitu bahwa kita telah dimiliki oleh Tuhan tidak secara bertahap, tetapi sudah secara sah sepenuhnya dimiliki oleh Tuhan. Kita harus berpikir bahwa kita telah dimiliki Tuhan sepenuhnya, sejak kita mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan kita. Pendewasaan melalui perubahan menuju kesempurnaan memang harus melalui sebuah proses, tetapi komitmen untuk dimiliki oleh Allah bukan suatu proses. Hal tersebut adalah komitmen yang tegas, satu kali untuk selamanya.
Banyak orang berpikir bahwa dirinya tidak bermaksud mengkhianati Tuhan dengan keadaan belum menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan. Mereka berpandangan bahwa seiring dengan perjalanan waktu dan pendewasaan rohani, mereka akan dapat secara bertahap menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Itulah sebabnya, mereka tidak berani membuat komitmen yang bulat, tidak menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan. Sikap seperti ini adalah tindakan penyerahan secara mengangsur atau bertahap. Mereka berpikir harus menunggu menjadi dewasa terlebih dahulu, baru dapat menyerahkan segenap hidupnya bagi Tuhan. Pada kenyataannya, mereka tidak pernah menjadi dewasa dan menyerahkan segenap hidup bagi Tuhan. Pada akhirnya, orang-orang Kristen seperti ini menjadi mangsa kuasa kegelapan.
Kita harus menerima kenyataan bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar. Ini berarti kita sudah tidak memiliki diri kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Komitmen untuk menyerahkan diri segenap hidup bagi Tuhan seharusnya sudah dilakukan dengan bulat. Kita harus berani berkata, “Aku serahkan hidupku menjadi milik-Mu. Dunia bukan rumahku, aku mau pulang ke surga. Aku mau hidup suci, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Aku hidup hanya mau melayani Engkau dan mengabdi kepada-Mu. Segenap hidupku adalah milik-Mu.” Penyerahan diri seperti ini tidak boleh dilakukan secara bertahap, tetapi harus dilakukan dengan tuntas. Selanjutnya, proses pendewasaan membuat kita bisa memenuhi secara benar komitmen kita, sesuai dengan standar yang dikehendaki oleh Yesus. Jadi, harus berkomitmen terlebih dulu, barulah mengalami proses pendewasaan.
Seperti orang kaya di Matius 19:16 yang berkata, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Tuhan menunjukkan jalannya, bahwa untuk memiliki hidup yang berkualitas, ia harus menjadi orang yang menuruti hukum. Orang kaya tersebut harus taat pada hukum agar memiliki hidup yang kekal. Orang kaya ini ternyata bukan hanya kaya secara materi, melainkan juga saleh di mata masyarakat orang beragama. Orang kaya tersebut berkata bahwa dirinya sudah melakukan semua hukum dengan baik. Yesus tidak membantah. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus mengakui bahwa dia sudah melakukan hukum. Tetapi ketika orang kaya tersebut menambahkan dengan pernyataan: “Apalagi yang kurang?” Tuhan melihat, dia menginginkan porsi yang sempurna, maka Tuhan berkata kepadanya, “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datang ke mari, ikutlah Aku.” Orang kaya tersebut harus melepaskan segala miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Tetapi ternyata, ia tidak bersedia, ia menolak dan pergi meninggalkan Yesus dengan sedih karena banyak hartanya.
Seandainya orang kaya itu melakukan apa yang Tuhan perintahkan, apakah sekaligus ia menjadi sempurna? Tentu saja tidak. Untuk menjadi sempurna, bagaimana pun harus melalui proses. Seandainya orang kaya tersebut melakukan yang Yesus perintahkan, belum tentu ia dapat meninggalkan percintaan dunia di dalam hatinya. Orang kaya ini sudah hidup dengan gaya hidup dan cara berpikir seperti lingkungannya selama bertahun-t...