Dalam 1 Korintus 6:19-20 Alkitab menulis: Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Dari apa yang dikemukakan dalam ayat-ayat ini jelas sekali bahwa setelah seseorang memberi diri ditebus, maka ia harus melepaskan semua haknya. Ini berarti ia bisa menjadi lebih miskin dari orang miskin. Sebab semiskin-miskinnya seseorang, ia masih merasa memiliki hak, sekecil apa pun hak tersebut. Tetapi orang percaya yang memberi diri ditebus, segenap hidupnya menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Dalam ayat ini dikatakan bahwa: orang yang ditebus bukan lagi miliknya sendiri. Masalahnya sekarang adalah bagaimana implikasi dan aplikasi konkret dari kehidupan orang yang memberi diri ditebus oleh Tuhan Yesus?
Orang yang memberi diri ditebus oleh darah Tuhan Yesus harus menyerahkan segenap hidupnya bagi Tuhan. Bentuk kesediaannya menyerahkan segenap hidupnya kepada Tuhan, tidak cukup dengan memberi uang, menjadi aktivis gereja, bahkan menjadi pendeta. Tetapi harus mengisi bejana hatinya dengan kebenaran Tuhan, sehingga dapat memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Fil 2:5-7), atau yang sama dengan cara berpikir Tuhan Yesus. Hal ini dimaksudkan agar diri orang yang ditebus tersebut menjadi alat peraga Tuhan. Sebenarnya inilah inti dari keselamatan, yaitu bagaimana Tuhan bergerak melalui dan di dalam diri orang percaya. Sehingga akhirnya orang percaya bisa berkata seperti Paulus dalam Galatia 2:20 – … namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
Tubuh atau kehidupan yang sudah dibeli dengan harga lunas dibayar harus menjadi bait Roh Kudus. Dengan menjadi bait Roh Kudus, tubuh dan segenap kehidupan harus digerakkan sesuai dengan keinginan Roh Kudus, bukan keinginan manusia yang sebelumnya memiliki tubuh tersebut. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan proses penyesuaian yang sangat berat. Di sini terjadi pergumulan dan perjuangan orang percaya untuk mengendalikan kendaraan hidupnya sesuai dengan Roh Kudus.
Orang percaya yang rendah hati
dan memiliki hati yang tunduk kepada Allah akan berusaha menyesuaikan diri
terhadap kehendak Allah,
walau melalui perjuangan yang berat.
Dengan demikian menunjukkan bahwa ia memberi diri menjadi anak tebusan Tuhan. Menolak unutk menyesuaikan diri dengan kehendak Roh Kudus, berarti menolak penebusan. Ini juga berarti menolak keselamatan yang Tuhan berikan.
Perjuangan untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Roh Kudus sama dengan perjuangan memperagakan kehidupan Yesus. Memperagakan kehidupan Yesus berarti mengubah kodrat, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Kehidupan Yesus adalah model dari kehidupan “Manusia” yang mengenakan kodrat Ilahi. Inilah standar kehidupan yang berkenan kepada Allah. Hanya dengan cara demikian seseorang baru bisa dikatakan sebagai memuliakan Tuhan. Dalam hal ini Bapa tidak cukup dimuliakan dengan nyanyian dalam liturgi, tidak cukup dengan perbuatan baik, tetapi keadaan diri dimana kehidupan Yesus dapat diperagakan secara permanen. Secara permanen artinya karakter seseorang benar-benar diubah secara permanen menjadi serupa dengan Yesus.
Dengan demikian, orang yang mengaku ditebus oleh darah Yesus
-tetapi tidak semakin seperti Yesus-
berarti ia menipu dirinya sendiri
dan menipu sesamanya.
Dengan perjuangan tersebut di atas, maka terjadi atau berlangsung proses “pengkloningan” orang percaya untuk menjadi serupa dengan Yesus. Hal ini sama dengan proses memiliki gambar dan rupa Allah, yang merupakan maksud keselamatan diberikan.