Pada umumnya, sebagai orang Kristen pasti kita mengaku sebagai anak-anak Abraham. Bukan berdasarkan darah daging, melainkan berdasarkan iman. Kalau orang Israel adalah keturunan Abraham berdasarkan darah daging, tetapi anak-anak Abraham secara iman adalah orang percaya yang kualitas percayanya seperti Abraham. Jika demikian, sebenarnya banyak orang Kristen yang belum menjadi anak-anak Abraham karena tidak memiliki tindakan iman seperti tindakan iman Abraham. Lagipula, iman yang dimiliki orang-orang Kristen itu belumlah iman yang menyelamatkan, sebab iman yang menyelamatkan adalah tindakan seperti yang Abraham lakukan; bertindak melakukan apa yang Allah kehendaki.
Banyak orang Kristen yang sejatinya masih menjadi anak-anak dunia. Mereka tidak bertindak seperti apa yang Allah kehendaki, tapi bertindak sesuai dengan apa yang mereka ingini—dan yang diingininya adalah hasil “suntikan” dari pengaruh dunia. Apa yang mereka lihat di dunia, diikuti. “Aku mau buat ini, aku mau buat itu; aku mau punya ini, aku mau punya itu; senanglah kalau aku pergi ke sana; senanglah aku kalau mencapai kedudukan itu; senanglah aku kalau dipuji orang,” dan seterusnya. Ini adalah gaya hidup anak-anak dunia. Sebagai anak-anak Abraham, kita harus mengikuti teladan iman Abraham yang taat sepenuhnya pada Allah Bapa, bahkan melakukan hal yang pasti bertentangan dengan keinginannya sendiri; mempersembahkan anaknya, Ishak. Sekarang di dalam kehidupan orang percaya, kita mengenal sosok Tuhan Yesus, yang prinsip-Nya adalah melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yesus adalah potret atau profil dari Anak Allah. Maka kalau kita mau menjadi anak Allah, profil kita juga harus seperti Yesus.
Jadi, bukan karena kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat lalu kita menjadi anak-anak Allah. Bukan! Itu adalah pembodohan dan sesat. Kita menjadi anak-anak Allah karena kita percaya kepada Yesus, dan percayanya itu seperti percayanya Abraham; menaati apa pun yang Allah perintahkan. Masalahnya, kita sudah menaati apa yang Allah kehendaki, belum? Seperti Yesus melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, maka kalau kita mau menjadi anak-anak Allah, kita pun harus taat seperti Yesus taat. Keselamatan memang bukan hanya karena perbuatan baik. Sebaik apa pun perbuatan seseorang, tidak akan menyelamatkan. Keselamatan terjadi karena kurban Yesus di kayu salib. Kalau kita percaya dengan kurban itu, maka kita harus memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus. Sebaliknya, kalau kita tidak menjalani hidup seperti yang dijalani oleh Yesus, berarti kita tidak percaya kepada-Nya.
Yang menyesatkan banyak orang Kristen hari ini adalah pengajar, pembicara, teolog, yang mengajarkan: “Pokoknya, asalkan Saudara sudah percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, Saudara sudah menjadi anak-anak Allah.” Itu salah! Kalau Alkitab berkata: “Yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,” yang diterima itu bukan hanya sosok Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melainkan kebenaran yang diajarkan Yesus. Ingat, pada mulanya adalah Firman. Firman yang berkuasa menciptakan langit dan bumi, Firman itu adalah kebenaran. Jadi kalau kita menerima Yesus, berarti kita juga menerima logos, menerima kebenaran. Kalau kita tidak menerima kebenaran, maka kita tidak memiliki hak sebagai anak-anak Allah. Ingat, kuasa itu hak. Jadi, kalau kita menerima kebenaran dan hidup kita diubah oleh kebenaran itu, barulah kita memiliki hak sebagai anak-anak Allah.
Jadi, masuk surga itu bukan tidak bersyarat. Syarat yang utama—yang tidak bisa dibayar oleh siapa pun—adalah kurban Yesus di kayu salib yang membenarkan orang percaya. Itu anugerah. Kalau orang menerima anugerah itu—yaitu dengan mengikuti jejak Yesus—maka barulah dia bisa masuk surga. Maka, tidak heran kalau Yesus berkata “orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak dikenal-Nya dan dibuang.” Maksud Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak kenal kamu, kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa,