Truth Daily Enlightenment

KUDETA TERHADAP ALLAH


Listen Later

Karena Allah tidak kelihatan dan seakan-akan diam, maka hal ini berpotensi atau memberi peluang bagi seseorang untuk bisa memberikan pandangan mengenai Dia sesuka-sukanya dan sebebas-bebasnya. Teologi dimanipulasi menjadi komoditas dalam berbagai aspek, termasuk untuk kepentingan politik. Dalam sejarah gereja—khususnya sejak kaisar Roma memberi maklumat yang disebut sebagai maklumat Milan (edict of Milan), dimana orang Kristen diberi keleluasaan untuk menjalankan keimanannya pada tahun 313—pada dekade itu, kekristenan mulai diterima oleh negara dan masyarakat luas, kaisar-kaisar Roma mulai memeluk agama Kristen, teologi menjadi alat politik kaisar demi mempersatukan masyarakat. Tetapi, para teolog dan pemimpin gereja tidak sadar kalau mereka diperalat oleh kaisar, sehingga terjadi pertikaian teologi yang menyakitkan antara mereka.
Sampai hari ini, kebiasaan melakukan perdebatan teologi yang membuahkan percideraan diwarisi oleh orang-orang Kristen yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah secara benar. Perdebatan yang membuahkan percideraan bukanlah perilaku yang diajarkan oleh Yesus. Perdebatan-perdebatan tersebut hanya membangkitkan dan memuaskan kesombongan atau arogansi diri yang pasti membawa korban. Perbedaan selalu ada, tetapi tidak harus dibawa ke ranah perdebatan yang membuahkan percideraan. Kalau seorang Kristen benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, ia tidak akan terjebak dalam perdebatan teologi yang melahirkan percideraan. Orang Kristen yang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah dan “telah selesai dengan dirinya sendiri” pasti memiliki “roh yang lemah lembut dan tenteram” dalam seluruh perilakunya.
Konsili Nicea (tahun 325) adalah bagian dari manuver pemerintah yang masih kafir untuk menghindari perpecahan di dalam wilayah kekaisaran, pada waktu mana kekristenan telah memiliki pengaruh luas di masyarakat. Mau tidak mau, kaisar sebagai kepala pemerintahan harus berpihak kepada kelompok yang diperkirakan memiliki kekuatan yang lebih besar. Seperti kaisar Konstantinus, ia lebih berpihak kepada Athanasius, sedangkan dirinya sendiri, sebelum meninggal dunia dibaptis oleh Eusebius, rohaniwan yang pandangan teologinya sama dengan Arius, lawan Athanasius. Baik Eusebius maupun Arius memiliki pandangan sama mengakar pada seorang teolog Origenes yang mengajarkan bahwa Bapa lebih besar dari Anak (subordinasionisme). Hal itu bertentangan dengan pandangan Athanasius yang dibela kaisar pada konsili Nicea.
Kaisar Konstantinus memang sebenarnya tidak peduli teologi, ia hanya memedulikan kepentingan kekaisarannya. Ia menggunakan teologi hanya untuk kepentingan politik. Memang, ketika kaisar memprakarsai adanya konsili—yaitu pertemuan para teolog dan pemimpin gereja—pada waktu itu, dia sendiri belum dibaptis dan menurut catatan, ia masih memiliki hubungan dengan agama kafir dan masih duduk sebagai salah seorang imam tingginya (pontifex maximus). Sangat ironis, seorang imam agama kafir menjadi pemrakarsa sebuah pertemuan para hamba Tuhan yang mestinya bermartabat lebih dari siapa pun, bahkan lebih dari seorang kaisar. Pertemuan tersebut tidak membuahkan buah kehidupan yang baik yang menjadi kesaksian bagi masyarakat luas yang sebagian masih kafir. Pertikaian teologi merusak persaudaraan di dalam Tuhan yang diajarkan oleh Yesus dalam Yohanes 17:20-21, yaitu Ut omnes unum sint (supaya mereka semua menjadi satu).
Kalau kita memerhatikan gereja mula-mula yang dikisahkan dalam Kisah Rasul, sama sekali tidak ada praktik pertikaian dari perdebatan teologi, apalagi sampai membuahkan percideraan. Sangat besar kemungkinan ada perbedaan pendapat antara para rasul atau orang Kristen mula-mula, sebab mereka baru menjadi orang Kristen. Selain faktor Roh Kudus yang menuntun mereka (sebagai faktor dominannya), mereka hidup dalam persekutuan yang benar dalam kasih Kristus yang mereka peragakan, sehingga tidak terjadi pertikaian seperti sejak maklumat Milan. Kalaupun sebelum maklumat Milan sudah ada perb...
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings