
Sign up to save your podcasts
Or


Sir Roger Gilbert Bannister CH CBE FRCP (23 Maret 1929– 3 Maret 2018), kenalkah Anda dengan sosok ini? Nama dia tidak sefamiliar atlet Muhammad Ali atau Maradona. Namun, di dunia olahraga lari, dia adalah legenda.
Bannister adalah seorang atlet jarak menengah sekaligus dokter ahli saraf Inggris yang berlari menembus waktu psikologis di bawah empat menit. Artinya, persepsi orang saat itu adalah tidak mungkin ada pelari yang sanggup memecahkan rekor di bawah angka itu.
Pada Olimpiade 1952 di Helsinki, Bannister mencetak rekor Inggris di cabang lari 1500 meter. Prestasi ini memperkuat tekadnya untuk menjadi atlet pertama yang menyelesaikan lari dalam waktu kurang dari empat menit. Dia mencapai prestasi ini pada 6 Mei 1954 di lintasan Road Iffley di Oxford. Ketika penyiar Norris McWhirter menyatakan, “Waktunya tiga ...”, sorak-sorai kerumunan penonton meledak ketika melihat catatan waktu Bannister yang sebenarnya, yaitu 3 menit dan 59,4 detik. Dia telah mencapai rekor ini dengan pelatihan minimal sambil berlatih sebagai dokter junior.
Pecahlah anggapan orang bahwa tak mungkin berlari 1500 meter dalam waktu kurang dari 4 menit. Hal yang luar biasa, rekor Bannister hanya bertahan 46 hari. Atlet lari pun “mudah” untuk menjebol rekor baru itu.
Anda pernah meragukan diri Anda sendiri? Menilai diri Anda tidak sehebat kapasitas Anda? Tengoklah keberhasilan orang lain.
“Kalau orang lain bisa, saya juga bisa!” Itulah pola pikir yang perlu kita miliki. Maka, ketika Anda ingin berhasil, mau melangkah maju, ubah pola pikir Anda dan lihat diri Anda sebagai hasil karya Tuhan yang sangat sempurna. Masterpiece-Nya. Tidak ada negative self-image. Kalau orang lain berhasil, Anda pun bisa.
Karena itu, dalam bab ini, saya ajak Anda untuk berfokus membahas tiga hal, yaitu:
• Mengapa gambar diri yang sehat berkaitan dengan
tingkat kesuksesan seseorang?
• Mengapa seseorang dapat memiliki gambar diri
negatif?
• Bagaimana cara membentuk gambar diri yang sehat
jika gambar diri sudah rusak?
Kita bahas lebih detail bagian per bagian berikut ini.
Gambar diri adalah faktor yang menentukan tingkat kesuksesan Anda. Sebelum Edmund Hillary dan Tenzing Norgay menaklukkan Puncak Everest tahun 1953, tidak ada seorang pun yang percaya bahwa puncak gunung tertinggi di dunia ini bisa dipanjat sampai titik yang paling tinggi. Mengapa? Ya, karena tantangan untuk sampai di puncak benar-benar membuat merinding. Selain karena ketinggi- annya yang teramat sangat, mendekati jangkauan mak- simal pesawat terbang, medan menuju puncak Gunung Everest bersalju, licin, berbahaya, berjurang-jurang, dan hanya mengandung sedikit oksigen. Oleh karena itu, izin mendaki Gunung Everest bagaikan membeli one-way ticket. Pernah menonton film “Everest”? Mereka berhasil mendaki sampai ke puncak, tetapi beberapa anggota tim yang terlibat dalam pendakian tidak berhasil turun dengan selamat.
Setelah penaklukan gunung tersebut, mendaki dan mengibarkan bendera di Puncak Everest tiba-tiba menjadi sesuatu yang tidak lagi luar biasa. Terbukti, banyak orang yang berhasil menembus rute sampai puncak gunung yang tertinggi. Bahkan, salah satu orang Indonesia ada yang sudah berhasil mencapai puncaknya. Mengapa? Karena mental kita terbuka setelah melihat atau mendengar keberhasilan orang lain.
Jebol-lah persepsi orang bahwa puncak bersalju abadi itu tertutup untuk manusia. Ya, selama ini orang selalu melihat memanjat Gunung Everest adalah hal mustahil. Mereka melihat dirinya sendiri sebagai seorang yang tidak mungkin bisa memanjat gunung itu. Namun, ketika ada satu orang yang berhasil memanjatnya, gambar diri pun berubah. Mereka melihat dirinya bukan lagi sebagai orang yang tidak mampu menaklukkan gunung itu, tetapi sebagai manusia yang mampu menaklukkannya.
“Kalau orang lain bisa, berarti saya bisa!” dan gambar diri mereka pun berubah. Kini, mendaki Gunung Everest adalah wisata petualangan yang sangat memikat. Asalkan Anda cukup uang dan sehat secara fisik, tidak mustahil untuk mendaki sampai Puncak Everest.
Melihat keberhasilan orang lain bisa menjadi salah satu cara mengembalikan self-image negatif dan membentuknya menjadi positif. Selain penaklukan Everest, ada lagi cerita lain.
Sir Roger Gilbert Bannister CH CBE FRCP (23 Maret 1929– 3 Maret 2018), kenalkah Anda dengan sosok ini? Nama dia tidak sefamiliar atlet Muhammad Ali atau Maradona. Namun, di dunia olahraga lari, dia adalah legenda.
Bannister adalah seorang atlet jarak menengah sekaligus dokter ahli saraf Inggris yang berlari menembus waktu psikologis di bawah empat menit. Artinya, persepsi orang saat itu adalah tidak mungkin ada pelari yang sanggup memecahkan rekor di bawah angka itu.
Seperti ada hitam dan ada putih, demikian pula ada orang yang dengan santai berjalan menuju kesuksesan dan ada pula yang berusaha mati-matian untuk sukses namun tidak pernah mencapai kesuksesan tersebut. Ingat, kerja keras memanglah penting, namun jangan lupa, berkat Tuhan-lah yang menjadikan kaya. Boleh dibilang, susah payah tidak menambahinya.
Ada tipe orang yang tidak perlu mati-matian untuk memperoleh sukses. Walaupun bukan lulusan S2 dengan IQ supertinggi, apa pun pekerjaan yang dikerjakannya, bisnis yang dibukanya, dan rencana yang dirancangnya selalu berhasil sesuai harapan. Kehidupannya pun tampak harmonis bersama keluarga dan rekan kerja.
Namun, di tempat lain ada orang yang sudah mati-matian bekerja keras, menyusun banyak rencana bisnis, bahkan bersekolah sampai S2, pekerjaannya selalu gagal. Dia mungkin pernah sesekali memperoleh keberhasilan kecil. Bisa jadi juga dia sudah berjalan beberapa langkah menuju kesuksesan, namun ujung-ujungnya selalu bertemu kegagalan.
Jika Anda termasuk tipe seperti ini, ada kabar baik untuk Anda! Anda bisa berubah menjadi orang yang dengan santai diikuti kesuksesan. Ada banyak sekali kunci ke- uksesan yang dapat mengubah keadaan keuangan Anda, namun Anda perlu memiliki kunci kesuksesan pertama dan paling dasar, yaitu gambar diri yang sehat.
Kepintaran dan kerja keras saja tidak cukup. Kita umpamakan gambar diri negatif seperti rantai sepanjang lima meter yang mengikatkan Anda pada tiang besi. Tidak peduli sekuat apa pun berusaha, Anda hanya bisa lari sejauh lima meter dari tiang itu. Sekalipun dengan IQ sangat tinggi, keuangan Anda hanya bisa berlari sejauh lima meter dari tiang besi. Hanya setelah lepas dari rantai itu, Anda bisa lari sejauh yang Anda inginkan. Hanya jika Anda lepas dari gambar diri negatif, keuangan Anda bisa berlari tanpa batas.
Ya, gambar diri sehat adalah langkah awal menuju kesuksesan. Gambar diri adalah cara kita memandang diri sendiri.
Bagaimana Anda memandang diri Anda sendiri? Apakah Anda memandang diri Anda sebagai orang sukses atau gagal? Sudahkah Anda melihat diri Anda sebagai ciptaan Tuhan yang dilahirkan untuk berhasil? Ataukah Anda melihat diri Anda sebagai orang yang gagal?
Budi dikenal sebagai sosok yang sangat rajin bekerja. Setiap hari, dia bangun pagi sekali untuk bersiap- siap memulai pekerjaannya. Motivasinya dalam
bekerja benar-benar tidak terkalahkan. Tidak hanya rajin, Budi juga pintar, berpengetahuan luas, dan menguasai pekerjaannya.
Namun, ada yang aneh. Sekeras apa pun Budi berusaha untuk sukses, hasilnya selalu gagal. Walaupun terus mencoba bekerja lebih keras dan membaca lebih banyak buku, ujung-ujungnya kegagalan juga yang dia dapati.
Pada akhirnya, Budi merasa lelah. Dia mulai bertanya- tanya dalam hati. “Bukankah saya ini orang yang rajin dan pintar? Mengapa segala usaha saya tidak berhasil?” Merenung dan mengevaluasi dirinya, Budi teringat ke- jadian sewaktu dia berumur tujuh tahun. Waktu itu, Budi berbuat salah dan mendapat marah ayahnya. Ayahnya sangat emosi dan tidak sengaja melontarkan perkataan pedas kepadanya.
“Budi! Kamu sangat nakal! Kamu anak sial. Besar nanti pasti kamu jadi orang yang gagal!”
Perkataan pedas itu masuk ke dalam pikiran Budi, yang lantas memahat gambar dirinya. Aku anak nakal, anak sial, anak gagal. Sejak saat itu, Budi mulai melihat dirinya sesuai citra itu. Gambar dirinya tidak lagi sehat dan berubah menjadi negatif. Budi tidak pernah melihat dirinya sebagai orang yang sukses, tetapi sebagai orang yang gagal.
Gambar diri Budi yang terlukai ini sangat memengaruhi kehidupan pekerjaannya. Walaupun pintar dan pekerja keras, gambar diri yang rusak ini selalu membawa arah hidupnya pada kegagalan, bukan pada titik keberhasilan.
Bagaimana dengan diri Anda? Bagaimanakah cara Anda memandang diri Anda? Apakah Anda memiliki pengalaman yang buruk seperti Budi? Atau, apakah sudah melihat diri Anda sebagai orang yang gagal?
Raja Salomo pernah berkata: “For as he think in his heart, so is he.” Sebuah pesan yang sangat bagus. Apa yang di- pikirkan seseorang dalam hatinya tentang dirinya sendiri, begitulah dia. Salah satu penyebab kegagalan yang sering dialami seorang pekerja keras adalah gambar diri yang terluka. Walaupun suka bekerja dan sangat ingin sukses, jika tidak melihat dirinya sebagai orang sukses, pekerjaannya akan sering berujung pada kegagalan.
GAMBAR DIRI YANG SEHAT. Berhentilah melihat diri Anda sebagai orang gagal dan mulailah melihat diri Anda sebagai orang sukses.
Hal-hal yang tidak kelihatan sering kali lebih kuat (power- ful) daripada hal-hal yang kelihatan. Tidak percaya? Ber- ikut bukti yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari- hari.
• Listrik tidak kelihatan, namun mempunyai tegangan
yang dapat menghidupkan lampu rumah Anda.
• Angin tidak kelihatan, namun dapat dirasakan dan bisa menghasilkan angin topan yang cukup kuat untuk menghancurkan satu kota.
• Keangkuhan tidak kelihatan, namun dapat dirasakan.
• Kerendahan hati tidak kelihatan, namun menimbulkan rasa nyaman.
• Cinta tidak kelihatan, namun dapat membuat seseorang melakukan hal-hal yang mustahil.
“Tapi Eric, saya tidak percaya dengan hal-hal yang tidak kelihatan.”
Apakah Anda dapat melihat oksigen? Tentu tidak. Namun, bagaimana jika hidup Anda tanpa oksigen?
Apakah Anda dapat bernapas?
Apakah Anda dapat hidup selama satu jam, bahkan lima menit saja tanpa oksigen? Saya yakin, tidak.
Oleh sebab itu, hal-hal yang tidak bisa dilogikakan, tidak bisa dipahami, atau tidak kelihatan bisa jadi adalah hal- hal yang dibutuhkan untuk mengubah keadaan Anda saat ini.
Ada IQ. Ada juga EQ. Bagaimana dengan SQ? SQ adalah kependekan dari Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual. SQ inilah yang dapat menembus batasan- batasan yang selama ini menghalangi keuangan Anda. SQ inilah yang bisa mengubah faktor “X” atau nasib buruk dalam kehidupan Anda. Ingat, “orang pintar” bisa meramal nasib Anda (walaupun tidak sepenuhnya benar), namun tidak bisa mengubah nasib Anda. Hanya Tuhan yang bisa mengubah nasib seseorang. Oleh sebab itu, kita membutuhkan SQ untuk melibatkan Tuhan untuk melepas batasan-batasan kita, membuang semua faktor “X”, dan mengubah nasib kita.
Kunci-kunci kesuksesan yang saya berikan tidak hanya membahas IQ dan EQ, tetapi juga SQ. Saya berharap kunci-kunci kesuksesan ini dapat mengubah kehidupan keuangan Anda sepenuhnya. Jika selama ini Anda terlilit utang, saya berharap utang itu bisa lunas dalam waktu cepat. Jika bisnis Anda selama ini hanya sampai pada kondisi hampir berhasil, saya berharap bisnis Anda bisa benar-benar berhasil. Jika omzet bisnis Anda mengalami stagnasi selama bertahun-tahun, saya berharap batasan-batasan yang “mengerangkeng” bisnis Anda dapat di- hancurkan.
Mari kita gunakan semua kunci kesuksesan Anda dalam hidup ini. Bukan untuk cinta uang, bukan untuk keegoisan pribadi, melainkan untuk mengubah kegagalan Anda menjadi kesuksesan, mengusir belalang-belalang pela- hap yang memakan butir-butir rezeki Anda, dan menjadi manfaat untuk orang-orang sekitar.
Salam sukses!
Singa adalah raja hutan yang sangat kuat. Jika dirantai dengan rantai besi sepanjang 5 meter, singa itu tidak akan bisa berjalan lebih dari 5 meter. Walaupun otot-ototnya sangat kuat, dia tetap tidak bisa melewati batas 5 meter. Dia hanya akan bergerak bebas atau berputar- putar seluas 5 meter, namun tidak bisa lebih dari 5 meter.
Dalam hidup pun ada yang namanya batasan. Biasanya, penghasilan seseorang akan terus naik sampai terbentur batasan keuangan. Anda mungkin pernah menjumpai seseorang yang bisnisnya naik dengan sangat cepat. Hanya dalam waktu enam bulan sejak bisnisnya didirikan, omzet perusahaannya sudah mencapai 300 juta rupiah per bulan! Setelah menembus angka 300 juta, omzet perusahaannya mulai berhenti dan itu berlanjut dalam waktu sangat lama. Orang ini terbentur batasan keuangan di angka 300 juta. Perusahaannya tidak gagal, tidak mengalami kerugian bahkan terbilang cukup “lumayan”, tetapi perkembangannya mengalami stagnasi batasan keuangan sehingga jika tidak ditembus bisa berhenti dalam waktu 5 tahun, 10 tahun, atau seumur hidup.
Ada lagi keanehan lain. Ada tipe orang yang awal bisnisnya sangat baik, namun ketika hampir mencapai titik tersuksesnya, tiba-tiba mengalami permasalahan yang menyebabkan bisnisnya tutup dan bangkrut. Orang
ini kembali memulai usaha di bidang lain dan sedikit lagi panen keuntungan besar, tiba-tiba ada saja kendala yang menyebabkan bisnisnya gagal.
Ada juga tipe orang yang selalu dikejar-kejar utang. Orang ini bisa jadi bukan orang yang malas atau bodoh. Namun, sekeras apa pun bekerja, utang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi. Jika tidak diubah, faktor “X” ini bisa terus berlangsung seumur hidup hingga ke anak cucunya.
Penting!
Ada batasan, faktor “X”, atau nasib buruk yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kerja keras dan kepintaran. Namun, ada kunci kesuksesan yang dapat mengubah batasan-batasan, faktor “X”, atau nasib buruk itu.
Dalam bab berikut, Anda akan menerima kunci-kunci kesuksesan yang dapat membuka pintu-pintu keuangan Anda yang selama ini tertutup dan menutup pintu-pintu yang selama ini menyebabkan kerugian. Ingat, kunci-kunci kesuksesan dalam buku ini sering kali tidak diajarkan dan tidak disadari oleh banyak orang. Kunci-kunci kesuksesan itu juga tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh otak manusia secara logika dan tidak semuanya dapat dilihat dengan mata, Anda hanya dapat merasakan dampaknya.
EQ adalah nilai kecerdasan emosi seseorang. EQ berbicara tentang seberapa tinggi disiplin Anda, seberapa keras kerja Anda, seberapa tangguh mental Anda, seberapa sering Anda tidak menyerah, dan seberapa pintar Anda berkomunikasi dengan orang lain.
Apakah EQ dapat membantu Anda menuju kesuksesan? Saya jawab bisa, namun terbatas.
Orang yang hanya mengandalkan IQ dan EQ tinggi akan kesulitan mengatasi nasib buruk, faktor “X” yang menghalangi kesuksesan, atau “batasan-batasan” level keuangan.
Seseorang memang dapat bekerja sekuat tenaga, punya rencana bagus, dan punya tingkat kepintaran otak yang sangat dahsyat. Namun, jika ada faktor “X” atau nasib buruk yang tidak mendukung, seperti kecelakaan, lampu mati, tiba-tiba macet total di jalan ketika akan meeting penting, atau ada faktor lain yang menghalangi bisnis untuk maju, sesempurna apa pun rencana bisnisnya bisa gagal.
Ada juga orang yang sebenarnya hanya sedang jalan-jalan di mal dan tidak sedang merencanakan bisnis apa pun, lalu tiba-tiba bertemu seorang investor bisnis. Sambil makan bersama, mereka berdiskusi tentang dunia bisnis.
Dan, akhirnya, orang itu malah mendapatkan investasi yang sangat besar dalam bentuk uang!
Anda kenal penyanyi Justin Bieber? Awal mulanya, Justin merekam dirinya ketika bernyanyi dan mengunggahnya ke YouTube. Saya yakin saat itu Justin tidak punya rencana apa pun apakah akan menjalankan sebuah bisnis besar atau bagaimana. Namun, ternyata video itu meledak dan sekarang Justin malah menjadi superstar dengan kesuksesan maksimal.
Mengapa ada orang yang sepertinya terlihat santai malah sukses tanpa harus jungkir balik mencari uang?
Orang yang hanya mengandalkan EQ akan sangat susah menembus batasan. Dalam sebuah keluarga besar kita akan sering menemui batasan keuangan. Contohnya, jika kakek buyutnya adalah orang terkaya di keluarganya dengan penghasilan maksimal 50 juta tiap bulan, akan sangat susah bagi anak cucunya untuk menembus omzet senilai sama setiap bulannya! Tidak mudah juga bagi keturunannya untuk menembus angka 500 juta atau 5 miliar rupiah setiap bulan. Padahal, orang sukses yang kakek buyutnya berpenghasilan 50 miliar tiap bulannya, anak cucunya akan sangat mudah menembus omzet 50 miliar tiap bulan. Ini yang namanya batasan dalam keluarga.
From the publisher's feed