Sambil menyeberangi sepi
kupanggil namamu, wanitaku
Apakah kau tak mendengarku?
***
Malam yang berkeluh kesah
memeluk jiwaku yang payah
yang resah
kerna memberontak terhadap rumah memberontak terhadap adat yang latah
dan akhirnya tergoda cakrawala.
***
Sia-sia kucari pancaran sinar matamu.
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu
yang kini sudah kulupa.
Tak ada yang bisa kujangkau
Sempurnalah kesepianku.
***
Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi. Dan dua belas ekor serigala muncul dari masa silam merobek-robek hatiku yang celaka. Berulang kali kupanggil namamu Di manakah engkau, wanitaku? Apakah engkau juga menjadi masa silamku? Kupanggil namamu. Kupanggil namamu. Kerna engkau rumah di lembah. Dan Tuhan ? Tuhan adalah seniman tak terduga yang selalu sebagai sediakala hanya memperdulikan hal yang besar saja. Seribu jari dari masa silam menuding kepadaku. Tidak Aku tak bisa kembali. Sambil terus memanggil namamu amarah pemberontakanku yang suci bangkit dengan perkasa malam ini dan menghamburkan diri ke cakrawala yang sebagai gadis telanjang membukakan diri padaku Penuh. Dan Prawan. Keheningan sesudah itu sebagai telaga besar yang beku dan aku pun beku di tepinya. Wajahku. Lihatlah, wajahku. Terkaca di keheningan. Berdarah dan luka-luka dicakar masa silamku.