Perubahan hidup tidak bisa terjadi atau berlangsung secara drastis atau instan. Harus melalui proses yang bertahap. Ketika Tuhan Yesus berkata, “manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah,” secara implisit, sebenarnya ditunjukkan kepada kita adanya proses bertahap. Misalnya, dalam pertumbuhan fisik seorang anak manusia, ia tidak langsung menjadi besar dengan makan roti dua kwintal, melainkan dari 2 ons, 3 ons, bahkan tidak sampai. Mungkin 1 ons saja. Semua itu harus melalui proses bertahap. Demikian pula dalam perubahan hidup. Sampai kita mengalami kelahiran baru, mengenakan kodrat ilahi. Di sini, waktu sangat berperan dan menjadi sangat berharga. Karena di dalam waktu ada momentum-momentum yang berharga, dimana Tuhan membentuk kita atau membangun kehidupan kerohanian (kekristenan) kita. Tuhan membentuk lewat proses yang bertahap. Kalau bisa secara instan, tentu kita lebih enak. Kita cukup berdoa 5 menit, dalam sekejap kita bisa menjadi dewasa rohani. Kita berkata, “Tuhan, silakan Tuhan ubah hidupku untuk menjadi serupa dengan-Mu,” lalu seketika itu juga kita menjadi dewasa. Perubahan tidak terjadi secara demikian
Tuhan tidak melakukan hal itu. Kalau kita berdoa, “Tuhan, buat aku rendah hati,” tidak seketika kita bisa rendah hati. “Tuhan, buat aku sabar,” tidak seketika kita menjadi sabar. “Tuhan, buat aku bisa mengendalikan nafsu-nafsuku,” tidak seketika kita bisa mengendalikan nafsu kita. Tetapi, kita harus diproses dari menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Jadi, usaha Tuhan mengembalikan kita ke rancangan-Nya yang semula adalah proses yang bertahap, berlangsung secara berkesinambungan. Pasti Tuhan memiliki program atau kurikulum atas setiap individu. Tuhan pasti memiliki program untuk mengubah seorang anak manusia yang percaya kepada Yesus, yang mengasihi Allah. Mengasihi Allah artinya orang yang bersedia meninggalkan percintaan dunia dan bertekad untuk hidup suci, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Walaupun sejatinya masih ada unsur duniawi atau memiliki ikatan dosa, tapi kita bisa memiliki komitmen Komitmen itu adalah “aku mau meninggalkan percintaan dunia, aku mau hidup suci.” Komitmen dan tekad ini bisa membuat seseorang digarap Tuhan. Dalam Roma 8:28-29, firman Tuhan mengatakan bahwa yang digarap Allah adalah orang-orang yang mengasihi Dia.
Jadi, Allah memiliki program bagaimana mengubah seseorang. Kalau dikatakan “Allah bekerja dalam segala hal,” perlu dipertanyakan, hal apa? Tentu dalam segala hal, dalam kebijaksanaan-Nya Tuhan memilih kejadian-kejadian apa yang perlu kita alami. Tuhan memiliki sebuah “kurikulum,” bagaimana mencerdaskan rohani kita. Kalau kurikulum yang tersaji di sekolah atau perguruan tinggi memiliki tujuan bagaimana mencerdaskan seseorang di dalam bidang-bidang tertentu. Adapun Allah memprogram setiap kejadian dalam hidup kita. Allah menyusun kurikulum, apa saja yang harus kita alami dan bagaimana seharusnya kita bersikap, agar kita serupa dengan Yesus (Rm. 8:29). Banyak orang tidak mengerti hal ini. Mereka berpikir, kalau nanti waktunya baik, mereka baru mau sungguh-sungguh menjadi Kristen. Mereka tidak pernah akan menjadi sungguh-sungguh, karena, “waktu baik” itu tidak boleh ditunggu. “Waktu baik” harus digunakan, karena sudah ada. Saat ini juga adalah waktu yang baik. Kalau orang berkata, “nanti tunggu waktu yang baik, saya akan sungguh-sungguh,” maka dia tidak akan pernah sungguh-sungguh di dalam Tuhan.
Orang sering berpikir bahwa masih ada banyak waktu untuk bertumbuh dan berubah. Ini pikiran sesat yang membuat seseorang bisa binasa. Mestinya yang dipikirkan adalah “Aku tidak akan memiliki waktu lagi.” Hal ini dimaksudkan agar kurikulum Tuhan bisa kita pahami dan jalani, dan program Tuhan bisa terwujud dalam hidup kita, begitu kita bangun tidur, kita harus memerhatikan apa yang Tuhan mau kerjakan dalam hidup kita. Komitmen kita harus bulat,