
Sign up to save your podcasts
Or


Delivered by Jeniffer Arcilla from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ephesians 5: 21-33; Rs psalm 128: 1-2.3.4-5; Luke 13: 18-21.
FAITH OF MUSTARD SEEDS
Our meditation today has the theme: Faith of MustardSeeds. Every time when we see a Sunday school activity, we see how the teacheror guide teaches children to pray. Children are trained to make the sign of thecross, attach their hands on their chests, recite the words of prayer such as"In the name of the Father", "Our Father", "HailMary". They show very clearly that the beginning of their journey of faithis so little and simple. The same thing happens to all of us when we started tobelieve in God.
The beginning of faith is small and simple and Jesus describesin the parable of the mustard seed. The kingdom of God is manifested in thepresence of God through various instruments either things or persons. Theperfect existence of the Kingdom is Jesus Christ. In and with Jesus, weexperience a spiritual bond when we pray, a unity of hearts when we listen the Word of God and celebrate the Eucharist, anda power of ministry when we accompany those who are desperate and sick. Thebeginning of experience of God is obviously very simple and little.
Our first experience of enlightenment and orientationof faith is also so little and simple. There was boy of 4th grade inelementary school doing an assignment from his religion class. He asked hisfather who was not a Catholic to help him. The father was not able to do muchwith questions about Catholicism. But he loved his son very much and wanted tohelp him. This small event became the starting point for him to decide tochange his faith orientation and becoming a Catholic. Thus, he and his wife couldraise and educate their children in the Catholic way.
Faith of mustard seed indeed reveals various forms of realitythat the Lord God and His Kingdom are present in a small, simple, and often unawaresituation of man’s daily life. There is no doubt to accept that in everything,small and different elements come together to shape the actual existence of abeing. These elements are often never seen or ignored. A husband and wife wholive in harmony depend greatly on the character and sincerity of each other'slove. Likewise, Christ's relationship with the holy Church, his Body, isbasically shaped by the faithfulness of every member of the Church and the typeof services they offer to God and people of the world.
Faith of a mustard seed actually reminds us of twoimportant things here, namely the process and every element that operated in theprocess. We need to always be obedient to the process and every element must bepart of that process. These are the very fundamental things in the journey ofour faith to perfection.
Letus pray. In the name of the Father ... O gracious God, accept our expression offaith, as we hear and meditate on Your words delivered through these readingand reflection. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit ...In the name of of the Father ...
Dibawakan oleh Seren Regina Wilhelmina Bupu Mame dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Efesus 5: 21-33; Mazmur tg 128: 1-2.3.4-5; Lukas 13: 18-21.
IMAN BIJI SESAWI
Renungan kita pada hari inibertema: Iman Biji Sesawi. Anda coba perhatikan setiap kali diadakan sekolahMinggu, bagaimana para guru atau kaka pembina mengajarkan anak-anak berdoa.Anak-anak memang harus dilatih membuat tanda salib, mengatupkan tangan di dada,melafalkan kata-kata doa seperti “Dalam nama Bapa”, “Bapa Kami”, “Salam Maria”.Mereka menampakkan dengan sangat jelas bahwa awal perjalanan iman merekasangatlah kecil dan sederhana. Hal yang sama terjadi pada kita semua ketikamulai beriman.
Permulaan iman yang kecil dansederhana itu diumpamakan oleh Yesus seperti biji sesawi. Kerajaan Allah ituberwujud pada kehadiran Tuhan yang menjelmah dalam aneka penampilan berupa hal,benda, dan pribadi. Wujudnya yang sempurna ialah pribadi Yesus Kristus. Dalamhubungan dengan Yesus itu, kita mengalami suasana rohani seperti kita berdoa,suasana persekutuan seperti medengarkan firman dan merayakan ekaristi, dansuasana pelayanan seperti kita mendampingi mereka yang putus asa dan sakit.Permulaan terjadinya hubungan itu jelas sekali berwujud sangat sederhana dankecil.
Permulaan sebuah pengalamanpencerahan dan orientasi iman juga berwujud kecil dan sederhana. Seorang anakkelas 4 sd mengerjakan tugas pelajaran agama. Ia minta bapaknya yang bukanKatolik untuk membantunya. Bapak tidak bisa berbuat banyak dengan pertanyaan-pertanyaanseputar agama Katolik. Padahal ia sangat sayang anaknya dan ingin membantunya.Peristiwa kecil tersebut menjadi titik awal ia memutuskan untuk mengubahorientasi imannya melalui menjadi seorang penganut Katolik. Dengan demikian, iadapat bersama isteri membesarkan dan mendidik anak-anaknya secara Katolik.
Iman biji sesawi menyingkapkanberbagai bentuk kenyataan bahwa Tuhan Allah dan Kerajaan-Nya tampil dalamkeadaan yang kecil, sederhana, dan sering tidak disadari manusia. Alasannyakarena apa pun dan bagaimana pun, suatu penampilan senantiasa dibentuk olehunsur-unsurnya yang kecil dan berbeda satu sama lain. Unsur-unsur itu seringtidak pernah dilihat atau disadari. Suami istri yang hidup harmonis sangatbergantung pada karakter dan ketulusan cinta masing-masingnya. Demikian jugahubungan Kristus dengan jemaat yang menyatu, sangat ditentukan oleh ketahananiman setiap anggota jemaat dan jenis-jenis pelayanan yang dilakukan paraanggotanya.
Iman biji sesawi mengingatkankita akan dua hal yang penting di sini, yaitu proses dan setiap bagian yangberproses. Kita perlu selalu taat dengan proses dan setiap elemen harus ikut didalam proses itu. Itu adalah hal-hal yang sangat fundamental dalam perjalananiman kita kepada kesempurnaan.
Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Tuhan maha murah, terimalah pernyataan imankami, ketika kami mendengar dan merenungkan firman-Mu yang disampaikan melaluibacaan dan renungan pada hari ini. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ... Dalam nama Bapa ...
Delivered by Evan Valino Pui from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ephesians 4: 32 - 5: 8; Rs psalm 1: 1-2.3.4.6; Luke 13: 10-17.
TO LIVE IN THE LOVE OF CHRIST
The theme for our meditation today is: To Live in theLove of Christ. How wonderful and happy for those who live in the love ofChrist. Those who have a good relationship with God truly feel the meaning andimportance of God's love. A family that has a good habit of doing regularprayers and they pray fervently, likewise in daily life there is a goodpractice of caring toward each other and mutual respect among its members,obviously it experiences the love of Christ.
In this family, the father and mother reallyexperience how patience makes their relationship so enjoyable. Each is patientwith the other when there are differences in opinion, the need to listen and tounderstand become so vital in the process to settle problems in the family. Inthis way, each one always tries to avoid interest to win or tendency to blamethe other. Children are obedient to their parents and carry out their dutiesproperly in the house and their studies . This family is also known to theneighbors as a good and faithful Catholic family.
This family represents the reality of many families ofthe same level that we can find around us. It could be your own family or maybeyour neighbors. When Saint Paul spoke in his letter to the Ephesians which isthe first reading today, he was actually referring to our families andcommunities that always try to live in the love of Christ. Our families andcommunities have a very important duty in Christian witness, that is a way oflife centralized in Jesus Christ. This must become the message that we need toshare with others.
Saint Paul advises that in maintaining this lifestyle,every member of the family and community must avoid sinful acts such asfornication and other forms of defilement, greed, and foul language. All evilplans and actions must be terminated and never given them any slight oftolerance. In fact, to react against persons or groups of people who spreadthese evil doings, Saint Paul advises us not to become friends or collaboratorsof them. For the sake of charity and hope for salvation, it is necessary thatwe pray for their repentance. We have to avoid cooperating with them or havingany kind of connection with them because it will be useless.
Every person, family, community and nation expects tolive in a common world which is comfortable and peaceful. We all are childrenof Abraham, who have privilege to the protection and life with dignity. Peoplewho are sick, isolated and marginalized are the priority of the mission ofJesus Christ, where they may experience joy and have a life in abundance ofgrace which is to live in the love of Christ.
Let'spray. In the name of the Father ... O Lord Jesus, in the midst of troubles anddangers of life, we come to You to beg your mercy and protection. Hail Mary,full of grace ... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Madeline Meggie Kurniawan dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Efesus 4: 32 - 5: 8; Mazmur tg 1: 1-2.3.4.6; Lukas 13: 10-17.
HIDUP DALAM CINTA KASIH KRISTUS
Tema renungan kita pada hari iniialah: Hidup Dalam Cinta Kasih Kristus. Alangkah indah dan bahagia bagi orang yang hidup dalam cinta kasihKristus. Mereka yang sedang hidup dalam suatu relasi yang baik dengan Tuhan,sungguh merasakan hidup dalam cinta kasih Tuhan. Satu keluarga yang memilikikebiasaan baik yaitu berdoa secara teratur dan rutin, ditambah denganperwujudan nilai kesetiaan dan saling menghargai di antara anggotanya, sangatwajar menyatakan diri mengalami cinta kasih Kristus.
Bapa dan ibu di dalam keluargasungguh menikmati seperti apa kesabaran itu dihayati. Masing-masing sabarterhadap yang lainnya bila ada perbedaan pendapat, mendengarkan dan memahamisatu sama lain menjadi nomor satu. Dengan begitu setiap dari mereka menghindarisikap menang sendiri atau kecenderungan menekan yang lain. Anak-anak sangatpatuh kepada orang tua dan menjalankan dengan benar tugas-tugasnya baik didalam rumah maupun di luar rumah. Mereka semua juga dikenal orang-orang disekitarnya sebagai keluarga katolik yang baik dan setia.
Pengalaman hidup keluargatersebut menggambarkan kenyataan banyak keluarga di sekitar kita. Bisa saja ituadalah keluarga Anda sendiri, atau mungkin tetanggamu. Ketika Santo Paulusberbicara di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus yang menjadi bacaan pertamahari ini, ia sebenarnya menyinggung keluarga-keluaga dan komunitas kita yangselalu berusaha hidup dalam cinta kasih Kristus. Jika dibutuhkan sebuahkesaksian kristen dari keluarga-keluarga dan komunitas kita, cara hidup sepertiitu mesti ditampilkan dan diwartakan kepada siapa pun dan ke mana pun.
Santo Paulus memberikan nasihatsupaya dalam mempertahankan gaya hidup tersebut, setiap anggota keluarga dankomunitas perlu menghindari perilaku negatif seperti percabulan dan rupa-rupapencemaran, keserakahan, dan perkataan kotor. Semua rencana jahat dantindakannya harus dapat dicegah dan dimatikan. Bahkan, terhadap oknum ataupihak-pihak yang menyebarkan sikap-sikap jahat tersebut, Paulus nasihatkansupaya mereka tidak boleh dijadikan teman atau rekan sekerja. Mereka dapatdidoakan untuk bertobat, tetapi tidak untuk sebuah kerja sama dan membangunpersekutuan.
Setiap orang, keluarga,masyarakat, dan bangsa mengharapkan hidup yang nyaman, damai, dan bertenggangrasa. Mereka semua adalah anak-anak Abraham, yang memiliki hak untuk dijaminhidupnya yang bermartabat. Orang-orang sakit dan terkucilkan adalah yang diutamakanoleh Yesus untuk dipulihkan supaya mereka dapat mengalami suka cita dan hidupdalam cinta kasih Kristus seperti yang dialami oleh orang-orang kebanyakan disekitarnya.
Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Yesus, di tengah kesulitan dan sakit, kamimendambahkan belas kasih dari-Mu. Berkatilah setiap usaha dan kerja kami dalammeringankan sakit dan penderitaan sesama kami. Salam Maria, penuh rahmat ...Dalam nama Bapa ...
Delivered by Kezia Angel, Ivanna Edrea Santoso, and Martinus Dominikus Lanang from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Exodus 22: 21-27; Rs psalm 18: 2-3a.3bc-4.47.51ab; 1 Thessalonians 1: 5c-10; Matthew 22: 34-40.
THE CHALLENGE OF LOVE
The theme for our meditation on this 30thSunday in ordinary time is: The Challenge of Love. There are two children, abrother and his sister, who always love each other. They have never been quarrellingor fighting. The brother who is 9 years old realizes that he must be a goodbrother to his 5 year old sister. The younger one is so happy to have a verycaring brother.
One example of this brother's loving care is thatwhenever there is thunder and lightning, he always tries to hug and protect hissister. The younger sister is so afraid of thunder and lightning. If she is notaccompanied and hugged she will cry, she will be very afraid and she becomes sosad. The parents are happy with the brother who can be entrusted to look afterhis younger sister.
This act that the brother makes towards his youngersister is a reflection of what we call the challenge of love. What we mean bythe challenge of love is the act of love and care which is accompanied by theexperience of difficulties and even sacrifices of those who love. An ordinaryact of mutual care is not a challenge of love.
For example, a teacher teaches regularly andresponsibly according to his duties, this is not a challenge of love. If wegreet and smile to our relatives or friends when we meet, this is also not achallenge of love. A challenge of love, apart from going beyond duties,obligations and ordinary expressions of everyday relationships, is an act ofextraordinary sacrifice.
The Lord Jesus Christ is our ultimate model and saintssuch as Virgin Mary and the holy martyrs are also worthy models for us. The lawof love regarding loving God with all our hearts and loving others as we loveourseves is the power to support all of our acts of sacrifice. One of thechallenges of love that the reading of the Scriptures today illustrates is thatwe must be able to love the least and most suffering people, which arerepresented by three categories namely strangers, widows and orphans. In ourChurch and society today, these groups of people are multitude with varioussituations and they are in dire need of love and care.
This challenge of love is enormous because there areso many people to be given care and love. It seems that all the amount ofwealth in this world is not enough to meet all their needs. But we will stilltry to serve them with all our might, because in them we find the living andtrue God, in the spirit of loving service of the Lord Jesus Christ.
Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, fill us with Your sincere love sothat we can also love those in need with a sincere and hopeful heart. OurFather who art in heaven ... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Diana Kartini Pinontoan dan Agatha Erna dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Keluaran 22: 21-27; Mazmur tg 18: 2-3a.3bc-4.47.51ab; 1 Tesalonika 1: 5c-10; Matius 22: 34-40.
TANTANGAN CINTA
Tema renungan kita pada hari Minggu Biasa ke-30ini ialah: Tantangan Cinta. Ada dua bocah kakak dan adik yang selalu salingmengasihi. Mereka tidak pernah terlihat bertengkar. Sang kakak yang laki-lakiberusia 9 tahun menyadari bahwa ia harus menjadi kakak yang baik bagi adiknyaperempuan berusia 5 tahun itu. Sang adik begitu senang memiliki kakak yangsangat perhatian.
Salah satu contoh perhatian sang kakak ialahsetiap kali guntur dan kilat, ia selalu berusaha memeluk dan melindungiadiknya. Sang adik sangat takut dengan guntur dan kilat. Jika tidak ditemanidan dipeluk ia akan menangis, sangat ketakutan dan menjadi sedih. Orang tuasenang dengan sang kakak yang dapat dipercayakan untuk menjaga adikperempuannya itu.
Tindakan yang dibuat oleh kakak kepada adiknya inimerupakan sebuah refleksi tentang tantangan cinta. Yang dimaksudkan dengantantangan cinta ialah perbuatan mencintai dan mengasihi yang diwarnai olehkesulitan bahkan pengorbanan tertentu dari orang yang mencintai. Suatuperbuatan yang biasa dalam relasi saling memperhatikan bukan termasuk tantangancinta.
Misalnya seorang guru mengajar dengan teratur danbertanggung jawab sesuai dengan tugasnya, ini bukan tantangan dalam mencintai.Kalau kita memberi salam dan tersenyum kepada saudara atau teman pada saatbertemu, ini juga bukan tantangan mencintai. Sebuah tantangan cinta selainmelampaui tugas, kewajiban dan ungkapan relasi sehari-hari yang biasa,merupakan perbuatan-perbuatan berupa pengorbanan yang luar biasa.
Tuhan Yesus Kristus adalah model utama kita danorang-orang kudus seperti Bunda Maria dan para martir juga layak sebagaimodel-model kita. Hukum cinta kasih mengenai mengasihi Tuhan Allah dengansegenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri merupakan kekuatan untukmendukung semua perbuatan pengorbanan kita. Salah satu tantangan cinta yangdigambarkan oleh bacaan Kitab Suci hari ini ialah bahwa kita harus dapatmengasihi orang-orang yang paling kecil dan menderita, yang diwakili oleh tigakategori yaitu orang asing, janda dan yatim piatu. Di dalam Gereja danmasyarakat kita, golongan orang-orang ini sangat banyak dan mereka sangatmembutuhkan kasih sayang.
Tantangan cinta ini amatlah besar karena jumlahmereka sangat banyak. Tampaknya sebanyak dan seberapa apa pun kekayaan di duniaini tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka. Tetapi kita tetap akanberusaha untuk melayani mereka dengan segala daya upaya, sebagai pengabdiankita kepada Allah yang hidup dan benar, dalam semangat kasih dan pelayanan TuhanYesus Kristus.
Marilah kita berdoa.Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, penuhilah kami dengan kasih-Mu yang tulussehingga kami dapat mengasihi orang-orang yang berkekurangan dengan hati yangtulus pula dan berpengharapan. Bapa kami yang ada di surga ... Dalam nama Bapa...
Delivered by Lucius Gregorio Nino and Theresia Cheryl from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ephesians 4: 7-16; Rs psalm 122: 1-2.3-4a.4b-5; Luke 13: 1-9.
REPENT, BE SAVED
Our meditation today has the theme: Repent, Be Saved.The call and the need to repent was initiated by God in the name of His loveand mercy. God indeed wishes His people to be saved. Man was originally good inthe moment of creation, and man also is made holy or given the fullness ofgrace after receiving the sacraments through the ministries of the Church, however,on the basis of freedom he can fall again into sin.
Like the compassionate and merciful God, the Church asa mother is also merciful when she experiences on how her members take thewrong path against her and God as well. Sin and evil in the world havedestroyed the lives of some members of the Church to some extent that they areprevented from finding light and truth that can help them to change theirorientation of life. Beside that, the families are also sad and suffering thelost of their children who have been in various evils and sins. The larger scopesuch us the society and surrounding environment are also affected by thissetback in the life of the Church.
We as individuals and in the fellowship of the peopleof God do experience certain lost and we are disappointed when one or two of usbehave rudely and unfairly toward one another. To act against all these sinfulsituations and the reality of life that is against the will of God, ourChristian spirit requires us one common act which we call repentance. The Lordindeed calls, so also the Church, families, and neighbors who have the samedesire, that their members must repent from their sinful lives. When the onecalled hears and realizes his or her sinful situation, it's mostly hoped thathis or her heart knocked and this is the beginning way to repentance.
Our sacred readings today show that the Lord Jesus highlightsthe call to repentance. He speaks in a clear and resounding voice. This calloriginates from Jesus Christ Himself, who firmly declared that repentance isthe only path by which sinners may attain salvation. Among the many sins thatmen and women normally do, the one Jesus highlights today is the act ofpointing out the sins of others while remaining oblivious to one’s own—ahypocritical style that of the Pharisees and the scribes. According to the LordJesus, this sin of hypocrisy is far graver than the transgressions of those whohave already been condemned for specific misdeeds.
Saint Paul, in his letter to the Ephesians in today'sfirst reading, provides us a solution to overcome this sinful act. We need tostrengthen our fellowship as one people of God and to have true knowledge ofJesus Christ, to gain Christian maturity and to grow in the fullness of Christ.In other words, when we stop sinning in words and deeds, we will be saved.
Let'spray. In the name of the Father ... O Lord, watch over us as Your servants whohope always for Your mercy and pardon our sins that we have made against Youand our neighbours. Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Yohanes Don Bosco Subekti dan Maria Ecclesia dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Efesus 4: 7-16; Mazmur tg 122: 1-2.3-4a.4b-5; Lukas 13: 1-9.
BERTOBATLAH, SUPAYA SELAMAT
Renungan kita pada hari inibertema: Bertobatlah, Supaya Selamat. Seruan dan desakan untuk bertobatpertama-tama dibuat oleh Tuhan atas nama kasih dan kerahiman-Nya yangmenghendaki supaya manusia ciptaan-Nya dapat selamat. Tuhan Allah begitukasihan atas manusia yang pada awalnya diciptakan baik adanya, atau pernahdiampuni melalui rahmat sakramen, tetapi atas nama kebebasannya ia terlanjurjatuh lagi di dalam dosa.
Sama dengan Tuhan, Gereja sebagaiIbu juga menjadi kasihan ketika melihat dan mengalami sendiri bagaimana paraanggotanya hidup jauh dari dirinya dan Tuhan. Dosa dan kejahatan terlampaumenyelimuti hidup pihak-pihak tertentu anggota Gereja sehingga merekaterhalangi untuk menemukan terang dan kebenaran supaya berubah. Selain Tuhandan Gereja, keluarga juga menjadi sedih bahkan terpukul, karena anak-anakmereka jatuh dalam aneka kejahatan dan dosa. Lingkungan masyarakat yang lebihluas juga ikut ternoda.
Kita sebagai pribadi dan bersamadalam persaudaraan merasa kehilangan dan kecewa ketika satu atau dua di antarakita berlaku tidak sopan dan melakukan tindakan kejahatan. Terhadap semuakeadaan berdosa dan kenyataan hidup jauh dari Tuhan seperti ini, semangatKristen memiliki satu sikap utama yaitu panggilan untuk pertobatan. Tuhanmemanggil, demikian juga Gereja, keluarga, dan sesama ingin supayaanggota-anggotanya bertobat. Ketika orang yang dipanggil itu dapat mendengaratau menyadarinya, harapannya ia dapat terketuk hatinya dan mulai mengambillangkah untuk pertobatan.
Pada hari ini Firman Tuhanmelalui bacaan-bacaan liturgis ingin menyuarakan dengan lantang panggilanpertobatan itu. Panggilan itu dimulai dari Yesus Kristus, ketika Ia sendiridengan tegas menyerukan bahwa pertobatan merupakan jalan satu-satunya bagi orang-orangyang berdosa untuk dapat memperoleh keselamatan. Di antara banyak dosa padamanusia, dosa yang ditekankan oleh Yesus pada hari ini ialah menunjuk kepadaorang lain yang berdosa, sementara diri sendiri tidak diperhatikan dosanya. Iniadalah cara yang munafik, sebagaimana para Farisi dan ahli Taurat perbuat.Menurut Tuhan Yesus, dosa kemunafikan ini jauh lebih besar dari pada merekayang sudah terhukum karena telah melakukan kesalahan tertentu.
Santo Paulus dalam suratnyakepada jemaat di Efesus, memberikan kitasolusi untuk mengatasi sikap yang munafik. Kita perlu mencapai kesatuan-imandan pengetahuan yang benar tentang Kristus, kedewasaan penuh dan tingkatpertumbuhan sesuai dengan kepenuhanKristus. Jadi jika kita berhenti berbuatdosa dalam segala kemunafikan, maka kita akan menjadi selamat.
Marilahkita berdoa. Dalam nama Bapa ... Ya Tuhan, pandanglah kami sebagaihamba-hamba-Mu yang berharap selalu belas kasih-Mu. Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan RohKudus ...Dalamnama Bapa ...
Delivered by Theodorus Kefi and Yohanes Catur Lastiatama from Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, in the Archdiocese of Jakarta, Indonesia. Ephesians 4: 1-6; Rs psalm 24: 1-2.3-4ab.5-6; Luke 12: 54-59.
ONE BODY OF JESUS CHRIST
The theme for our meditation today is: One Body ofJesus Christ. Pornography today is greatly endorsed in its spread and hasbecome a large business field by information technology and internet. Humanthoughts and feelings are naturally easily tempted, their sensations grow andtheir sexual desires getting intensified when they find how the body of womenor men are presented so openly through internet-based media. Such expose hasvarious motivations.
The effect of this exploitation of human body, amongothers, is to enhance the enjoyment of the flesh in which the body of men andwomen are not treated as sacred entities and of having human dignity, butmerely the objects for the satisfaction of worldly pleasure. This worldly viewof human body will obscure its spiritual image, namely the one body of JesusChrist who makes all human bodies sacred. In his preaching to the community ofbelievers at Ephesus Saint Paul with confidence teaches that we, who belong tothat one body, have an obligation to be one with Jesus Christ and he himself,because it was Jesus who had offered His sacred body to suffer and so to redeemus from sins. The major part of our sins is caused by the inclinations for theflesh and the influence of the life style in the world.
The Lord Jesus Christ was the one that brings deliveranceand salvation. He had proved it by dying in His own body, which is the body whobore the sins of mankind and the body of this entire world that has been affectedby sins. So Saint Paul indeed wanted to follow the example of Jesus Christ. Thepictures and videos on pornographic sites remain in the digital system reallycreated for their purposes, and they don't do anything extraordinary except anappealing attraction to our senses. It is about our thoughts and feelings thatmove us to certain degree of wanting or likeness, which is normally understoodas temptation to sin.
Those pictures and videos are actually rebuking us: Oh... sacred human bodies, God indeed chooses to live right inside you! Thisshould lead us not abuse our own bodies and that of others. We need to care forour own bodies, because in them are the souls that open the way for us topraise God. In following Saint Paul, we should not indulge our bodies just forworldly pleasure. We have to care for them responsibly, because God reallychooses to live in them.
We have one body in Jesus Christ which is sacred andwhich sanctifies us in one holy Church. Through that one body we have the rightto be saved as a flock of God's people, the disciples of Jesus Christ. We havea responsibility to protect and care for our own bodies and the bodies of ourneighbors who might be now in danger or at risk of being excluded from the pathto God. We take this responsibility as the good shepherds.
Let'spray. In the name of the Father ... O God almighty, stay always within us, sothat our hearts will always experience joy and peace. Our Father who art inheaven ... In the name of the Father ...
Dibawakan oleh Josephine Yuni Harnani dari Saint Peter's School Kelapa Gading, Jakarta Utara, di Keuskupan Agung Jakarta, Indonesia. Efesus 4: 1-6; Mazmur tg 24: 1-2.3-4ab.5-6; Lukas 12: 54-59.
SATU TUBUH, YAITU YESUS KRISTUS
Tema renungan kita pada hari ini ialah: Satu Tubuh, YaituYesus Kristus. Pornografipada zaman ini sangat dibantu penyebarannya dan menjadi ladang bisnis yangbesar oleh teknologi informasi dan internet. Pikiran dan perasaan manusiasecara alamiah gampang tergoda, bertumbuh sensasinya dan terbakar naluriseksualnya ketika ia menemukan tubuh wanita atau laki-laki ditampilkan denganbegitu terbuka melalui media-media berbasis internet. Tubuh manusia benar-benardipertontonkan dengan motivasi-motivasi yang beragam.
Efekpenonjolan tubuh manusia ini antara lain menyinggung kenikmatan daging di manatubuh manusia pria dan wanita tidak dipandang sakral tetapi sekedar objek untukpemuasan nafsu-nafsu kenikmatan. Pandangan tubuh yang cenderung duniawi akanmengaburkan gambaran tubuh secara rohani yaitu satu tubuh Yesus Kristus. Kepadajemaat di Efesus Santo Paulus secara tegas mengajarkan bahwa kita sebagaibagian dari satu tubuh tersebut, memiliki kewajiban untuk menyatu denganKristus dan Paulus, yang merelakan tubuh untuk menderita demi pembebasan kitadari dosa-dosa yang disebabkan oleh kecenderungan kedagingan dan pengaruh duniayang hanya sementara.
YesusKristus sebagai pokok pembebasan itu. Ia telah buktikan dengan mati atastubuh-Nya sendiri, tubuh umat manusia yang berdosa, dan tubuh dunia ini yangsudah diselimuti dosa. Maka Paulus ingin mengikuti teladan Yesus Kristus.Gambar-gambar dan video dalam situs-situs porno tetap berada di dalam sistemdigital yang diciptakan, mereka tidak bikin apa-apa terhadap mata yangmemandang. Pikiran dan perasaan pemilik mata itu bergerak menjurus semaunyadia, yang seperti kata orang tergoda untuk berdosa.
Gambar-gambardan video-video sedang menegur kita: Oh...tubuh manusia yang sakral, Tuhanmemilih untuk tinggal di dalamnya. Tidak usah terlalu memuja atau melecehkantubuh milik orang lain. Kita perlu menjaga dan merawat tubuh sendiri, karena didalam tubuh ada jiwa yang terbuka untuk memuji Tuhan. Mengikuti Santo Paulus,kita mestinya tidak memanjakan tubuh kita hanya untuk sebuah kenikmatanduniawi. Kita lebih memilih untuk memeliharanya secara bertanggung jawab,karena Tuhan memilih untuk tinggal di dalamnya.
Kitamemiliki satu tubuh dalam Yesus Kristus yang sakral dan yang menguduskan kitadalam satu Gereja. Melalui satu tubuh itu kita memiliki hak untuk diselamatkansebagai satu kawanan umat Allah, murid-murid Kristus. Kita mempunyai tanggungjawab untuk menjaga dan melindungi tubuh sesama kita yang terlanjur beradadalam ancaman dan bahaya terkucilkan dari jalan kepada Tuhan. Tanggung jawabini melekat dalam diri kita sebagai gembala yang baik.
Marilah kita berdoa. Dalam nama Bapa ... Tuhan mahakuasa, tinggallah selalu di dalam diri kami, sehingga hati kami senantiasamengalami suka cita dan damai sejahtera. Bapa kami yang ada di surga ... Dalamnama Bapa ...
From the publisher's feed

2,542 Listeners