Semakin kita mengenal kebenaran, semakin kita menghayati kehidupan, maka semakin terasa bahwa pelayanan pekerjaan Tuhan itu sangat berat. Beratnya bukan terletak pada kegiatan organisasi, masalah kebutuhan, keuangan, dan berbagai masalah teknis, melainkan pada tanggung jawab. Karena kita semakin bisa menghayati betapa dahsyatnya keadaan orang yang terpisah dari Allah. Apalagi dunia kita hari ini semakin tidak memedulikan Allah. Dari kanak-kanak, sajian konten di media sosial menyampaikan pesan yang secara implisit tidak disadari, yaitu: “Allah tidak ada, Allah tidak perlu ada.” Bukan Tuhan yang meninggalkan manusia, melainkan manusia yang meninggalkan Tuhan. Dan itu tragis. Dunia yang tidak menghayati kehadiran Allah, yang tidak memedulikan Tuhan, sehingga mereka juga tidak mempersoalkan kengerian, kedahsyatan kengerian terpisah dari Allah. Dan juga tidak memikirkan kedahsyatan, kemuliaan di dalam Rumah Bapa.
Ibarat domba, dunia—termasuk orang Kristen—sudah semakin tercerai-berai, semakin liar. Tidak bisa diarahkan untuk menuju satu tujuan yang benar. Domba yang baik adalah domba yang mengikut ke mana Sang Gembala menuntun dan selalu dengar-dengaran suara gembalanya; Gembala Agung, yaitu Tuhan Yesus. Dalam Yohanes 10:4 tertulis, Jjika semua dombanya telah dibawa keluar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena sura orang-orang asing tidak mereka kenal.”
Ironis, makin banyak domba yang lari dari Gembala yang baik, lalu mengikuti orang asing. Dunia ini merupakan gambaran orang asing dengan prinsip-prinsip dan cara berpikir yang menyesatkan. Misalnya, harus punya uang banyak supaya bisa jalan-jalan, bisa punya fasilitas ini itu karena itulah kebahagiaan. Dan pada umumnya hampir semua orang begitu. Kondisi seperti ini sulit untuk membawa domba-domba itu ke arah yang benar. Apalagi kalau gembala kecil—hamba Tuhan atau pendeta—tidak memiliki arah perjalanan hidup yang benar. Tidak sedikit yang menjadikan pelayanan sebagai mata pencaharian dan untuk menikmati fasilitas. Kalaupun mereka membuat berbagai kegiatan, hal itu hanya untuk sebuah aktualisasi diri atau prestise. Mereka tidak serius untuk mengarahkan jemaat ke surga.
Mengemukakan hal ini kiranya menyadarkan kita betapa sulitnya masuk Kerajaan Surga. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 13:23-24, “Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: ‘Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?’ Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ‘Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.’” Di dunia yang semakin fasik, ada perasaan krisis apakah kita benar-benar sudah jadi manusia rohani, sudah benar-benar memiliki semacam sertifikat yang karenanya Tuhan berkata, “Aku kenal kamu.” Jangan sampai di hadapan Tuhan, kita dipermalukan. Yang berjuang sungguh-sungguh saja, tidak mudah. Apalagi kalau kita tidak berjuang. Kita tidak pernah rohani, karena kita hidup wajar seperti manusia lain.
Kita sudah deklarasikan dan terus kita mau mantapkan, ada di hadirat Tuhan 24 jam. Sehingga ketika kita mau berbuat sesuatu yang salah, kita takut. Kita mau bicara sesuatu yang akan merugikan seseorang yang tidak ada di situ, orang tidak dengar, kita takut. Kehidupan yang takut akan Allah, hidup di hadapan Tuhan itu harus dikembangkan terus. Namun, sedikit sekali orang yang benar-benar merindukan Tuhan, yang benar-benar hidup di hadirat Allah dan berjuang mematikan keinginan daging. Kita punya kesempatan berbuat dosa. Setiap hari ada peluang untuk memuaskan nafsu yang mana orang tidak lihat. Namun, karena kita mengembangkan hidup di hadirat Allah 24 jam setiap saat, kita takut. Ini bukan perjuangan yang mudah.
Belum lagi nanti Tuhan bicara, “Aku mau yang itu kamu lepaskan. Aku mau kamu buat ini,” kita lakukan. Berat,