Pada akhirnya, kita dapat melihat bahwa Doa Bapa Kami sebenarnya pola hidup dari orang-orang yang dikembalikan ke rancangan semula. Begitu kita memanggil Allah sebagai “Bapa,” menjadi sangat besar konsekuensinya bagi hidup kita. Kita sudah tidak bisa lagi hidup sama seperti mereka yang tidak berstatus anak bagi Allah sebagai Bapa. Sejak kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita harus mengabdi sepenuhnya bagi Dia. Dalam Roma 12:1-2, dijelaskan pengertian ibadah yang sejati—yaitu mempersembahkan segenap hidup, dan mengalami pembaharuan pikiran atau sikap batin. Kita harus mengembangkan semua potensi yang ada pada kita untuk kepentingan Kerajaan Allah atau kesenangan Allah. Kita harus memandang hal ini sebagai kehormatan. Kalau kita diperkenan menjadi anak Allah, kita harus memandang ini sebagai kehormatan. Kalau kita memandang hal ini sebagai suatu kehormatan, kita dapat mengabdi kepada Allah bukan sebagai suatu beban. Kita melakukannya dengan rela, bahkan sukacita.
Berdoa secara benar dalam konteks umat Perjanjian Baru adalah mempersembahkan seluruh hidup bagi Allah. Kalau dalam kehidupan beragama pada umumnya mempersembahkan hidup bisa hanya berupa tindakan tertentu, pada waktu tertentu, tempat tertentu, dan kadang-kadang dengan cara tertentu. Tetapi, berdoa bagi orang percaya berarti mempersembahkan seluruh hidup berupa seluruh tindakan, kapan pun, dan di mana pun tanpa batas, karena bagi orang percaya, berdoa adalah relasi setiap saat. Kalau kita mempelajari Doa Bapa Kami dengan benar, kita dapat memahami yang dimaksud kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu.” Kerajaan Allah tidak hanya hadir di dalam gereja atau di ruang doa dalam waktu beberapa jam. Kerajaan Allah hadir dalam hidup kita, yaitu dalam seluruh waktu hidup kita.
Jadi, orang yang mau membangun doa yang benar dalam hidup sebagai orang Kristen, hidupnya harus dipersembahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita akan menyesal kalau tidak menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran ini. Kita tidak boleh memiliki kepentingan apa pun. Kita harus melayani perasaan Bapa. Di dalam doa, kita membangun relasi setiap saat. Tidak ada satu detik pun yang terputus. Jadi, bagi kita, umat pilihan, upacara atau seremonial agama atau pun liturgi di gereja tidak lagi menjadi media utama untuk bersekutu dengan Allah. Oleh sebab itu, kita harus mengenal siapa Allah kita.
Banyak orang Kristen yang pengertiannya mengenai berdoa tidak berbeda dengan orang non-Kristen, karena pemahaman mereka mengenai berdoa masih seperti orang-orang beragama pada umumnya. Seperti misalnya orang Yahudi yang sengaja berdoa di tempat terbuka dan menyerukan suara yang keras. Allah yang agung dan cerdas bukan Allah yang bisa “disuap” dengan seremonial semacam itu. Allah yang benar memerhatikan batin, dan batin pasti terekspresi dalam perilaku dan perbuatan setiap hari. Karena tidak mengenal Allah yang benar, kehidupan doa orang beragama tidak sesuai dengan kehendak Allah yang benar. Dan hal ini sangat memengaruhi keseluruhan hidup orang tersebut.
Banyak kalangan komunitas Kristen masih terkungkung dengan ibadah seremonial seperti agama-agama samawi lain. Mereka berpikir bahwa dengan menyanyi dan menyembah dalam bentuk kata-kata, Allah pasti bertakhta di atas puji-pujian dan dipuaskan. Mereka sudah merasa puas bisa melakukan hal itu dan merasa sudah memenuhi ibadah yang utuh kepada Allah. Inilah pola agama samawi—seperti agama Yahudi—yang sebenarnya hanya sebuah seremonial. Pola ibadah seperti ini belumlah mewakili ibadah yang sesungguhnya kepada Allah. Harus dimengerti, dalam hal ini, bukan berarti kalau kita menyanyi sambil mengangkat tangan itu salah. Tetapi hal tersebut tidak bisa mewakili hubungan kita dengan Allah secara benar. Jadi, orang Kristen tidak boleh merasa puas dengan ibadah seremonial seperti itu. Hal ini bukan berarti kita tidak perlu menyanyi dan menyembah Tuhan dengan kata-kata, tetapi hendaknya hal ini tidak dianggap sebagai ...