Betapa berbahayanya liturgi yang diselenggarakan tanpa pengertian yang benar, karena hal ini berpotensi menipu jemaat dan menempatkan jemaat dalam kebodohan atau kesesatan. Kita harus memahami bahwa liturgi atau kebaktian di gereja bukanlah segalanya dalam hidup kekristenan. Liturgi sebenarnya hanya sebuah pertemuan bersama yang acaranya diatur sedemikian rupa agar tertib, tetapi bukanlah ibadah dalam arti lengkap atau utuh. Pada umumnya, liturgi disusun dan dikemas sedemikian rupa agar memberi kesan khidmat, berwibawa, agung, dan rohani. Sejatinya, liturgi yang semakin dielaborasi dengan berbagai variasi justru malah semakin sarat dengan kepura-puraan dan sandiwara. Sebenarnya, hal ini terjadi karena pengaruh agama-agama suku atau agama-agama yang tidak mengenal kebenaran Allah. Bagi mereka, seremonial atau upacara agama adalah segalanya, artinya yang menentukan kualitas hubungan mereka dengan dewa mereka. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan Kristen yang benar. Kekristenan adalah jalan hidup, yaitu hidupnya Yesus, bukan sekadar jalan hukum dan kegiatan seremonial seperti agama-agama pada umumnya.
Liturgi bukanlah ibadah yang sejati atau yang sebenarnya, karena ibadah yang sejati adalah penggunaan potensi jasmani dan rohani secara maksimal bagi Allah dalam sepanjang waktu hidup (Rm. 12:1), tentu segala sesuatu dilakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah atau bagi kemuliaan Allah (1Kor. 10:31). Inilah yang dimaksud oleh Yesus dengan “menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.” Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran adalah sikap hidup yang berkenan kepada Tuhan setiap saat, kapan pun, dan di mana pun orang percaya berada. Sejatinya, inilah liturgi kehidupan yang sejati, yaitu seluruh kehidupan kita dan di sepanjang waktu hidup kita.
Dalam liturgi, orang Kristen hanya mengucapkan kalimat yang memuat doxology, pujian penyembahan, pengucapan kredo, mendengarkan khotbah, dan lain-sebagainya. Hal ini dapat dilakukan tanpa pertaruhan segenap hidup. Yang penting adalah bagaimana membuat liturgi itu seakan-akan bisa mewakili relasi mereka dengan Allah. Padahal, kekristenan yang sejati pertaruhannya adalah segenap hidup. Kalau orang Kristen tidak mempertaruhkan hidupnya guna mengikut Yesus setiap saat atau meneladani hidup-Nya setiap saat, maka dalam berliturgi, pasti dia munafik, berpura-pura, atau bersandiwara. Dalam hal ini, pergi ke gereja dan mengikuti liturgi justru membuat dosanya semakin banyak.
Aspek yang dapat menyesatkan banyak orang Kristen dalam liturgi adalah mereka merasa sudah menghayati kehadiran Allah secara penuh dan benar. Padahal, penghayatan terhadap kehadiran Allah haruslah dalam kehidupan setiap hari dan dalam segala peristiwa kehidupan. Sering kali liturgi hanya membawa seseorang pada sebuah fantasi. Fantasi mengenai Allah dalam liturgi, tetapi bukan dalam perjumpaan pribadi dengan Allah secara riil. Sebenarnya, hal ini secara tidak langsung merupakan sikap melecehkan Allah, dimana seakan-akan Allah adalah Allah yang cukup puas jika umat berinteraksi hanya melalui seremonial atau upacara agama atau liturgi. Orang-orang Kristen yang memiliki pemahaman seperti ini, pasti orang-orang Kristen yang kualitasnya rendah. Mereka tidak memiliki kesetiaan yang sejati kepada Kristus, dan biasanya hanya setia kepada lembaga gereja atau tokoh-tokoh agamanya. Sampai pada level tertentu, mereka tidak sanggup memercayai Allah yang hidup. Hal itu akan sangat terasa pada waktu mereka ada di ujung maut atau dalam situasi-situasi yang sangat genting. Ternyata, dalam situasi-situasi seperti itu, mereka tidak sanggup meyakini Allah beserta mereka atau Allah hadir.
Penjelasan di atas ini bukan bermaksud untuk menghalangi orang melakukan liturgi di gereja, melainkan hendak menegaskan bahwa tidak mungkin seseorang bisa menghayati keadilan Allah dalam waktu sesaat, pada waktu di gereja saja. Bagaimana seseorang bisa menghayati kehadiran Allah dalam satu kali kesempatan liturgi kalau setiap harinya tid...