Dalam nasihat Tuhan Yesus berkenaan dengan pelayanan tanpa menuntut upah, Ia berkata: “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Luk. 17:10). Dalam pernyataan Tuhan Yesus tidak tersirat sama sekali adanya upah sebagai motivasi seseorang melakukan suatu tugas atau kewajiban yang diberikan. Secara jelas Tuhan Yesus mengajarkan bahwa dalam segala sesuatu yang kita kerjakan bagi Dia, kita tidak boleh mengharapkan atau menantikan upah. Kita harus mempertimbangkan, bahwa kita telah berhutang nyawa atau berhutang keselamatan dari Tuhan Yesus. Hutang ini tidak dapat kita bayar dengan apa pun. Walaupun kita bisa mengambil bagian dalam pelayanan gerejani atau pelayanan dalam bentuk apa pun bagi pekerjaan Tuhan selama ribuan tahun, maka itu pun tidak cukup untuk dapat membalas kebaikan Tuhan, yaitu keselamatan yang telah diberikan kepada kita. Kalau kita bisa terhindar dari api kekal, sesungguhnya itu adalah berkat tidak ternilai yang Tuhan berikan; lebih dari segala berkat yang lain.
Apakah kalau Paulus berkata bahwa ia boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa ia tidak mempergunakan haknya sebagai pemberita Injil, juga Tuhan Yesus juga mengajar kita untuk melayani tanpa mengharapkan upah, apakah berarti seorang pelayan Tuhan fulltimer tidak berhak mendapat upah? Tentu upah yang dimaksud dalam 1 Korintus 8:19 tersebut adalah upah di dunia ini, yaitu jaminan hidup sebagai seorang pelayan Tuhan. Seorang pelayan Tuhan yang mengerti kebenaran tidak mengharapkan upah apa pun di bumi ini. Diperkenan melayani pekerjaan Tuhan itu sendiri sudah merupakan kehormatan yang luar biasa. Selain kita memang diciptakan untuk melayani Tuhan, kita juga diperkenan menjadi sekutu Tuhan. Menjadi sekutu artinya bisa sepenanggungan dengan Tuhan. Dengan melayani Tuhan kita diperkenan menjadi sahabat-Nya (Yoh. 15:14-15). Siapakah kita diperkenan menjadi sahabat Tuhan? Menjadi sahabat Tuhan berarti mendapat tempat bersama-sama dengan Tuhan dalam Kerajaan-Nya (Yoh. 14:1-3). Inilah yang menjadi kerinduan Paulus sehingga ia menyatakan: … tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Flp. 3:12-14).
Bukan karena upah itu kita melayani Tuhan, tetapi setiap pelayanan dan kesetiaan pasti mendatangkan upah. Dan upah orang percaya tersedia dalam kerajaan-Nya. Melayani Tuhan memiliki dampak yang tidak terukur. Pengorbanan dalam pelayanan bagi Tuhan di dunia ini dapat diukur, tetapi buah dari pelayanan bagi Tuhan tidak terukur. Itulah sebabnya dikatakan dalam Firman Tuhan: bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita, orang percaya (Rm. 8:18). Hanya orang-orang bodoh yang tidak berakal yang tidak memanfaatkan kesempatan ini. Orang-orang bijaksana memberi hidupnya untuk melayani Tuhan dengan apa pun yang dapat dilakukan bagi Tuhan. Doanya adalah: “Tuhan ambil hidupku untuk melayani Engkau. Bukan emas dan perak yang kuminta tetapi beri aku kesempatan untuk mengabdi kepada-Mu”
Pengorbanan yang ditunjukkan oleh orang percaya kepada Tuhan Yesus dengan motif yang benar, tidak pernah dilupakan oleh Tuhan. Pengorbanan mereka terhadap Tuhan bisa dianggap gratis, sebab memang Tuhan telah membeli setiap orang percaya dengan darah-Nya dan setiap orang percaya memang harus mengabdi bagi Tuhan. Tetapi Tuhan tetap memperhitungkan dengan teliti dan memberi upah di dalam Kerajaan-Nya (Luk. 22: 28-30; Why. 14:13). Kita dipanggil Tuhan untuk menerima berkat abadi ini dengan melayani Tuhan. Dengan demikian seharusnya dalam pelayanan pekerjaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita, kita menerimanya sebagai suatu kehormatan. Jika demikian,