Kesukaan Allah Bapa adalah kehendak-Nya dilakukan atau dipenuhi dalam kehidupan setiap individu. Kehidupan ini diadakan memang hanya untuk kesenangan dan kepuasan hati Allah Bapa. Jika tidak demikian, berarti sebuah kesesatan, dan seseorang di pihak Iblis atau sedang tertawan dalam kuasa kegelapan. Oleh sebab itu, kekristenan adalah hubungan dengan Allah Bapa yang benar-benar dialami, untuk dapat menyukakan hati-Nya atau melayani perasaan-Nya. Orang yang tidak hidup dalam pelayanan terhadap perasaan Allah atau tidak hidup untuk kesukaan hati Allah, tidak akan pernah berdamai dengan Allah. Kalau seseorang baru menjadi Kristen atau belum dewasa, bisa dimengerti kalau hidup hanya untuk kesenangan sendiri. Tetapi kalau mestinya sudah dewasa tetapi tidak hidup menyukakan hati Allah, maka ia akan tidak bisa berdamai dengan Allah untuk selamanya.
Tentu menyukakan hati Allah Bapa adalah dengan kehidupan yang hanya melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Bukan sekadar kehendak kita yang dipimpin oleh Dia, melainkan kehendak-Nya yang kita lakukan. Jadi, kehendak kita adalah mengerti apa yang Allah ingini dan melakukannya. Inilah yang dimaksud dengan isi Doa Bapa Kami: “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Inilah isi dan maksud perdamaian dengan Allah. Tentu hal ini menciptakan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Kehidupan seseorang yang tidak melukai dan merugikan orang lain. Kehidupan yang tidak memiliki kebencian terhadap orang lain.
Sebagai sekutu Allah, hidupnya tidak akan dikuasai oleh percintaan dunia. Dan akhirnya, kehendak Allah adalah keselamatan jiwa-jiwa, agar tidak seorang pun binasa (1Tim. 2:4; 2Ptr. 3:9). Orang percaya yang benar-benar peduli terhadap keselamatan jiwa orang lain akan berusaha bagaimana dirinya menjadi manusia yang berkenan kepada Allah dan mengusahakan orang lain juga dapat hidup berkenan kepada Allah. Usaha yang dilakukan adalah mempertaruhkan segenap hidupnya tanpa batas. Usaha ini merupakan satu-satunya agenda hidupnya. Inilah yang dimaksud Paulus bahwa baginya hidup adalah Kristus (Flp. 1:21).
Betapa besar jebakan bagi seorang pendeta yang merasa ada di dalam pelayanan, tetapi sebenarnya mencari nafkah kehidupan. Betapa besar jumlah korbannya. Biasanya, salah satu cirinya adalah ia masih mengingini kehidupan wajar seperti manusia lain, mengumpulkan kekayaan dalam bentuk aset yayasan atau gereja yang pada akhirnya diwariskan kepada keluarganya. Menimbun uang untuk hari esoknya di bumi, padahal semua itu bisa digunakan untuk pekerjaan Tuhan di waktu yang sisa dan singkat sekarang ini. Orang yang beruntung adalah orang yang menggunakan “mamon” sebagai sarana untuk bersahabat dengan Allah atau mengabdi kepada-Nya.
Mereka yang tidak mengerti isi dan maksud perdamaian dengan Allah, hanya sibuk menyusun deskripsi mengenai perdamaian tanpa mengalami perdamaian secara konkret. Mereka sering berkutat dengan masalah doktrin dengan menyerang secara langsung sesama orang Kristen dengan menyesat-nyesatkan orang lain. Mereka merasa sedang membela kebenaran padahal membuat gaduh terhadap sesama orang Kristen dan merusak pekerjaan Tuhan. Orang yang menghayati bahwa dirinya adalah warga Kerajaan Surga, pasti dapat menghormati Allah sebagai Bapa dengan patut, dan menundukkan diri kepada Tuhan Yesus sebagai Raja serta hidup dalam perjuangan untuk menjadi utusan Tuhan Yesus demi keselamatan manusia.
Rasul Paulus oleh ilham Roh menyatakan: Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat (Flp. 3:20). Kata “kewargaan” dalam teks aslinya adalah politeuma (πολίτευμα), yang bisa berarti homeland, commonwealth, state, citizenship (tanah air, persemakmuran, negara bagian, kewarganegaraan). Filipi 3:20 dalam terjemahan sehari-hari diterjemahkan: Tetapi kita adalah warga negara surga. Dari situlah juga Raja Penyelamat kita, Tuhan Yesus Kristus, akan datang.