Dalam mewujudkan iman dalam kehidupannya, Abraham memiliki pergumulan hidup yang sangat berat. Dengan menerima kasih karunia, yaitu dipanggil untuk menjadi “bapa orang percaya,” perjalanan hidup Abraham menjadi berat. Lebih berat dari perjalanan hidup orang-orang pada zamannya yang tidak terpanggil menjadi umat Allah. Hal ini menginspirasi kita, bahwa dengan mengikut Yesus perjalanan hidup kita tidak menjadi mudah; sebaliknya, menjadi berat. Tidak ada orang percaya yang boleh hidup tanpa memikul salib. Salib adalah “atribut mutlak” yang harus dipikul setiap orang percaya. Itulah sebabnya, di dalam semua yang diajarkan oleh Yesus, Ia tidak pernah menjanjikan kenyamanan dan kemapanan hidup di bumi. Sebaliknya, Yesus menawarkan perjalanan hidup seperti yang Dia jalani. Terkait dengan hal ini Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:59). Jadi, sangatlah keliru kalau Injil dipandang sebagai jalan untuk memiliki kemudahan hidup di bumi. Injil adalah kabar baik bagi mereka yang bersedia mengiring Yesus dengan berani melewati perjalanan hidup yang sukar dan berat.
Abraham harus melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Kehendak Allah yang diperintahkan kepada Abraham untuk dilakukan adalah hal-hal yang sangat berat. Hal-hal yang tidak mudah dimengerti oleh pikiran normal atau pikiran wajar manusia. Kehendak Allah tersebut menyangkut atau melibatkan seluruh hidupnya dengan segala pertaruhan yang membuat Abraham tidak dapat menyisakan sesuatu untuk dirinya sendiri. Pergumulan iman Abraham dimulai ketika ia harus meninggalkan tanah leluhurnya sampai ketika ia harus menyembelih anak kandung satu-satunya. Dari pergumulan tersebut, kita bisa menemukan peragaan iman seorang yang disebut sebagai “bapa orang percaya,” yaitu bagaimana iman itu diwujudkan, diselenggarakan, dan digelar secara benar. Hal ini menunjukkan bahwa hidup beriman menyita seluruh kehidupan ini.
Ternyata, untuk menjadi “bapa orang percaya,” Abraham harus membayar mahal, yaitu seluruh kehidupannya harus dipertaruhkan. Ini berarti memiliki iman yang benar atau sejati bukanlah hal yang mudah. Allah tidak akan menganugerahkan iman dengan mudah dan secara otomatis dalam kehidupan seseorang. Jadi, sangatlah keliru kalau ada yang berpandangan bahwa seseorang bisa beriman kepada Allah karena Allah menaruh iman dalam kehidupan seorang secara ajaib, sehingga secara otomatis di luar kesadaran dan sepengetahuannya ia dapat memiliki iman. Pemikiran mistis seperti ini sangat membahayakan, karena membangun iman palsu. Pastilah iman yang dimiliki orang yang berpandangan seperti ini adalah iman yang tidak membawanya kerpada proses keselamatan yang benar. Orang Kristen yang memiliki iman seperti ini memang dapat menjadi orang beragama yang baik, tetapi tidak dapat menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula. Orang-orang Kristen yang memiliki pengertian seperti ini tidak mungkin dapat membangun kehidupan kekristenan yang benar seperti standar Yesus. Iman adalah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh setiap individu. Inilah sesungguhnya perlombaan iman yang dimaksud oleh penulis surat Ibrani (Ibr. 12:1-2). Dalam perlombaan tersebut, iman artinya penurutan terhadap kehendak Allah, dan Allah mau membawa orang percaya kepada iman yang sempurna, artinya memiliki ketaatan kepada Bapa seperti ketaatan Yesus.
Kalau seseorang mengaku orang beriman, berarti harus mengikuti iman Abraham. Memang pada dasarnya, orang percaya adalah anak-anak Abraham dalam iman, atau umat pilihan dalam iman; bukan berdasarkan darah daging keturunan Yahudi, tetapi karena memiliki iman seperti yang dimiliki oleh Abraham. Kalau memerhatikan kehidupan kebanyakan orang Kristen hari ini, nyatalah mereka tidak menunjukkan perjuangannya untuk percaya atau beriman dengan benar sesuai dengan pola hidup beriman yang Alkitab ajarkan yang mengac...