Dalam Perjanjian Lama, tercatat bahwa Allah undur dari kehidupan manusia sehingga manusia pada umumnya tidak bisa lagi berinteraksi dengan Allah secara ideal sesuai rancangan semula (Kej. 6:3). Hal ini terjadi bukan karena Allah berkehendak demikian, melainkan karena manusia telah berkeadaan tidak bisa bersekutu dengan Allah, atau tidak bisa hidup di hadirat-Nya. Undurnya Roh Allah dari manusia merupakan kerugian yang tidak ternilai bagi manusia, lebih dari kehilangan apa pun. Kehilangan Allah berarti kehilangan kehidupan itu sendiri. Inilah yang disebut kebinasaan atau hidup yang tidak memiliki nilai sama sekali—kebalikan dari hidup kekal—atau hidup yang tidak berkualitas. Pada prinsipnya, hanya Allah yang bisa memberi nilai dalam kehidupan ini.
Keadaan manusia yang tidak dapat hidup di hadirat Allah sebenarnya dimulai sejak diusirnya Adam dan Hawa dari Eden. Tidak ada ada fragmen yang lebih tragis daripada peristiwa itu. Tidak ada sesuatu yang dapat menggambarkan keadaan tragis dimana manusia dihalau dari Eden (Kej. 3:23). Hal ini terjadi karena manusia berkeadaan tidak sesuai dengan maksud manusia diciptakan oleh Allah. Manusia tidak mencapai keadaan segambar dan serupa dengan Allah. Dihalaunya manusia dari hadapan Allah di Eden mengakibatkan manusia secara individu tidak bisa berinteraksi dengan Allah sesuai dengan rancangan Allah semula. Dalam keadaan yang tidak mencapai keadaan sesuai dengan rancangan Allah, manusia tidak dapat berinteraksi dengan Allah. Manusia tidak dapat hidup di hadirat Allah secara ideal sesuai rancangan semula. Hal ini berarti manusia kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).
Dalam hal ini, hendak dikemukakan bahwa kualitas atau nilai diri manusia terdapat pada kualitas persekutuannya dengan Allah. Itulah kemuliaan yang dapat dimiliki manusia, yaitu kemuliaan Allah. Manusia tidak memiliki nilai sama sekali kalau tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hal ini sama dengan kalau seseorang tidak hidup di hadirat Allah, maka hidupnya tidak berkualitas sama sekali. Dalam hal ini, yang menjadi persoalan inti bukan hanya pada keadaan manusia yang tidak sesuai dengan rancangan semula, melainkan tidak adanya relasi dengan Allah karena Allah yang memberi nilai dalam kehidupan ini. Allah adalah satu-satunya value atau nilai dalam kehidupan. Di luar Allah adalah kebinasaan, artinya keadaan tidak memiliki nilai sama sekali.
Manusia yang sudah menjadi rusak, berpikir bahwa yang membuat dirinya bernilai adalah kekayaan, pangkat, kedudukan, kehormatan manusia, penampilan, dan lain sebagainya yang bersifat duniawi. Filsafat hidup seperti ini sudah mencengkeram kehidupan hampir semua manusia, dan semakin tahun, dunia semakin gelap sehingga banyak manusia hidup dalam kebodohan. Hal ini bukan hanya terjadi atas mereka yang ada di luar gereja, melainkan juga orang-orang Kristen yang ada dalam lingkungan gereja, bahkan dalam lingkungan pelayanan pekerjaan Tuhan. Inilah orang-orang Kristen yang disebut sebagai orang-orang percaya yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan dan karena kedengkian hati.
Keadaan manusia hari ini sama seperti keadaan bangsa Israel pada masa intertestamental yaitu suatu masa selama sekitar 400 tahun, terhitung sejak zaman bangsa Israel dalam pembuangan dan kepulangannya, sampai pada zaman Perjanjian Baru. Bangsa Israel tidak memiliki kerajaan, tidak memiliki nabi-nabi yang menyuarakan suara Tuhan, dan mereka berkali-kali jatuh ke tangan berbagai bangsa asing. Mereka menjadi umat pilihan yang hidup dalam keadaan yang sangat tertindas dan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain. Banyak peristiwa pada masa itu yang benar-benar merendahkan martabat bangsa tersebut. Pada masa itu, Tuhan seperti meninggalkan bangsa Israel. Dalam hidup mereka, tidak ada kehadiran Allah seperti pada masa-masa sebelumnya. Semua itu terjadi karena kejahatan bangsa tersebut terhadap Allah.