Semakin kita menghayati kekristenan dengan belajar kebenaran dan berjalan dengan Tuhan setiap hari, maka kita semakin menemukan kekristenan yang sejati; pengiringan kepada Yesus yang sejati, menjadi anak Allah yang seharusnya, menjadi pengikut Yesus yang orisinal, yang Allah kehendaki untuk dijalani anak-anak Allah. Tentu kita setuju dan kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan, bahwa standar hidup orang Kristen adalah Yesus. Makin mengerti kebenaran dan menghayati kekristenan melalui kebenaran Alkitab serta berjalan dengan Tuhan, kita semakin memahami kekristenan yang sejati. Maka, kita harus berpikir bahwa sangat sedikit orang yang sungguh-sungguh memiliki kekristenan yang sejati. Kalau sungguh-sungguh hal itu diajarkan di zaman kita hari ini, maka bisa saja kita dicap sebagai sekte, bidat, kekristenan yang tidak wajar. Karena, kekristenan yang sejati telah bergeser dari tempatnya terlalu jauh.
Kekristenan yang dikenakan banyak orang hari ini, sejatinya bukanlah kekristenan yang Tuhan kehendaki. Kehidupan orang-orang Kristen yang mengaku anak Allah, sesungguhnya belumlah berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Hal ini akan kita pahami, jika kita bertumbuh terus dalam kedewasaan rohani, dalam kebenaran, dan berjalan dengan Tuhan setiap hari. Kita melihat betapa jauhnya pergeseran yang sudah terjadi dalam kehidupan orang percaya. Tentu kita mau menjadi orang Kristen yang sejati dan ingin suatu hari kalau diperhadapkan di hadapan pengadilan takhta Kristus, kita dinilai berkenan; telah menjalankan hidup sebagai orang percaya yang benar, sebagai pengikut Kristus yang sejati, berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang benar di mata Allah.
Mari kita serius memperkarakan hal ini, bahwa standar kekristenan yang sejati adalah Yesus. Apa yang dilakukan oleh Yesus yang belum kita lakukan, itu yang kita persoalkan. Bagaimana gaya hidup-Nya yang belum kita kenakan. Jangan melihat orang Kristen, aktivis, bahkan pendeta. Tentu Tuhan masih menyisakan pendeta, aktivis, atau orang Kristen yang menampilkan kehidupan Kristen yang sejati. Tetapi, ini pun biasanya Iblis berusaha untuk menenggelamkannya. Oleh sebab itu, mari kita memperkarakan: gaya hidup dan cara berpikir Tuhan Yesus, yang belum kita kenakan. Mestinya setiap kita mempertanyakan hal itu kepada Tuhan, sebab hanya Tuhan yang bisa menjawab.
Kalimat narasi pendeta atau manusia mana pun, tidak akan cukup mampu membuka pikiran dan wawasan rohani kita untuk memahami keadaan kita yang sesungguhnya di hadapan Allah. Kita harus sungguh-sungguh memperkarakan ini di hadapan Tuhan, apakah kehidupan Yesus; gaya hidup-Nya, cara berpikir-Nya, prinsip-prinsip-Nya telah benar-benar kita kenakan? Sebab kurang dari itu, bukanlah standar yang Allah kehendaki. Tuhan itu Tuhan yang absolut, Tuhan yang kehendak-Nya mutlak harus dipatuhi dan tidak dikurangi. Seperti kalau Tuhan berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” berarti harus salah satu. Seperti misalnya terang atau gelap; tidak ada remang-remang. Kalau tidak gelap, ya terang. Kalau tidak terang, ya gelap.
Kita harus memperkarakan sungguh-sungguh di hadapan Bapa di surga dalam percakapan dengan Tuhan Yesus setiap hari, apakah kita sudah memenuhi kehidupan seperti yang Allah kehendaki. Maka, fokus kita tidak boleh terpecah, terbagi sedikit pun. Waktu masih kanak-kanak rohani, belum dewasa, pada level di mana masih ada beberapa kesenangan yang kita miliki, kita masih bisa bertumbuh. Tetapi, pada level tertentu, untuk bisa naik, kita harus betul-betul tidak boleh membagi perhatian kepada apa pun dan siapa pun. Itulah ukuran standar yang Allah berikan.
Tuhan Yesus melepaskan segala sesuatu demi tugas penyelamatan yang Bapa percayakan kepada-Nya. Tuhan Yesus berkata, “Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu.” Siapa yang layak menjadi utusan Tuhan? Tentu mereka yang telah atau berani melepaskan segala sesuatu seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Utusan Tuhan itu tidak ditandai dengan gelar kesarjanaa...