Kalau kita membaca Alkitab Perjanjian Lama, memang telah muncul suatu fakta fenomena Allah sebagai Bapa, tetapi itu tidak terlalu jelas, artinya masih samar dan kabur. Di dalam Perjanjian Baru, secara lugas dan tegas ditunjukkan kepada kita bahwa orang percaya yang mengakui Yesus berasal dari Allah, diperkenankan menjadi anak-anak Allah dan memanggil Allah sebagai Bapa. Itulah sebabnya, dalam Doa Bapa Kami kalimat pertama yang diajarkan Yesus kepada kita adalah memanggil Allah sebagai Bapa. Hal ini tidak boleh kita pandang sebagai sesuatu yang sederhana. Sesungguhnya, ini sesuatu yang sangat luar biasa. Siapakah kita, bisa memanggil Allah sebagai Bapa sehingga kita menjadi anak-anak Allah yang memiliki segala kuasa kemuliaan dan Kerajaan?
Kalau Yesus mengajar kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, tentu saja hal ini bukan sekadar panggilan. Sebab, kalau hanya sekadar panggilan, berarti Yesus menipu kita dengan mengajari sikap munafik atau paling tidak, mengajarkan suatu kebenaran yang bernilai rendah atau dangkal. Tetapi sesungguhnya, dari panggilan tersebut, Yesus mengajar kita untuk mengalami sebuah transformasi kehidupan yang jauh lebih bermakna dari kehidupan manusia sebelumnya. Dengan sebutan sebagai anak-anak Allah—dimana kita diperkenankan memanggil Allah sebagai Bapa—kita dibawa kepada suatu dimensi hidup yang baru, yang tidak pernah dimiliki manusia sebelum kedatangan Yesus ke dunia. Dimensi kehidupan tersebut adalah dimensi kehidupan anak-anak Allah, yang Yesus sendiri ajarkan dan telah peragakan dengan sangat jelas. Itulah sebabnya dalam Injil Yohanes tertulis: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14).
Dalam Injil Yohanes 1:14, terdapat kalimat “telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa.” Tentu kemuliaan yang dilihat oleh murid-murid Yesus, termasuk Yohanes, bukan hanya tindakan-tindakan Yesus yang spektakuler, melainkan juga perilaku-Nya yang agung sebagai Anak Allah. Itulah sebabnya dikatakan penuh sebagai “kasih karunia dan kebenaran.” Kata “kasih karunia” di dalam ayat itu terjemahan dari kata kharitos (χάριτος), yang selain berarti kasih karunia, juga berarti “a quality that adds delight or pleasure graciousness, attractiveness” (kualitas yang memberi kesenangan atau keanggunan serta daya tarik). Sedangkan kata “kebenaran” menunjuk perilaku yang tidak bercacat dan tidak bercela. Ini adalah model kehidupan anak Allah yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya. Jadi kebersamaan murid-murid dengan Yesus selama beberapa tahun merupakan pendidikan yang sangat efektif, dimana murid-murid bisa melihat dengan mata kepala sendiri sebuah keteladanan yang menjadi pola, dengan mana mereka membentuk atau membangun diri mereka. Inilah dimensi kehidupan anak Allah yang normal yang merupakan standar baku yang bersifat kekal, yang harus dikenakan makhluk yang disebut manusia, yang juga sesungguhnya adalah anak-anak Allah.
Dimensi kehidupan yang baru adalah dimensi kehidupan yang Yesus sendiri telah kenakan, ini berarti kekristenan bukan sekadar agama, melainkan jalan hidup; yaitu jalan hidup yang dijalani oleh Yesus. Jalan hidup yang dijalani oleh Yesus adalah jalan hidup yang memperagakan bagian isi Doa Bapa Kami—kecuali bagian permintaan ampun atau dosa, karena Yesus tidak pernah berbuat dosa. Sebenarnya, inilah yang harus dicapai oleh Adam, tetapi ternyata Adam gagal mencapainya. Yesus yang berhasil mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi pokok keselamatan (menjadi model dan pola) bagi mereka yang taat kepada-Nya. Demikianlah kita sebagai orang-orang percaya mengikuti teladan Yesus yang dapat memperagakan dengan sempurna kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Dimensi kehidupan seperti ini hanya dimiliki oleh orang percaya yang menerima meterai Roh Kudus di dalam dirinya...