
Sign up to save your podcasts
Or


“Trauma adalah neraka di bumi. Trauma yang terselesaikan adalah hadiah dari para dewa." - Peter A. Levine -
Salam damai bagi kita semua… dan salam jumpa dalam Podcast Suara untuk Asa… untuk episode kali ini, kita akan menlantangkan sebuah pesan tentang: “Memperjuangkan kebebasan”
Kutipan diatas adalah sebuah ungkapan hiperbola yang tidak bisa juga dibilang berlebihan, karena dalam kasus tertentu memang tidak mudah untuk mengatasi sebuah trauma. Walaupun secara teori, trauma itu sebenarnya memori masa lalu yang diproyeksikan ulang akan muncul kembali di masa depan. Jadi pemulihannya itu sederhana, cukup dengan mengubah apa yang akan diproyeksikan. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Terlebih bagi para korban perdagangan manusia. Tak jarang mereka yang merasa sudah kehilangan kebebasan dan masa depan.
Wati sudah kembali ke keluarganya, setelah sempat terjebak iming-iming penghasilan besar dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Dan dia benar-benar kembali ke rumah sampai enggan untuk melakukan kegiatan apa pun di luar rumah. Bahkan untuk bermimpi tentang masa depan pun Ia tidak berani. Pengalaman buruk ketika bekerja di negeri orang sebagai TKI sungguh menghantam jiwanya. Ia mengalami di siksa, dipenjara, dan bahkan penghasilan besar yang diimpikan pun tidak di dapat. Wati sudah bebas dari jerat kejahatan perdagangan manusia, namun… masih ada belenggu yang menghambat kebebasannya, yang belenggu pikiran. Bayang-bayang trauma akan masa lalu yang kelam itu.
Cobaan dan penderitaan dalam hidup tidak boleh menjadi penentu dan bahkan penghambat masa depan. Setiap manusia bebas untuk berkehendak dan menentukan langkah hidupnya, Dalam setiap pengalaman, kita bisa menemukan kehendak Tuhan, kita bisa memulai dengan bersyukur saat telah berhasil mengatasi pengalaman buruk, cobaan yang membuat kita menderita, setelah itu kita bisa menjadikan pengalaman itu pijakan untuk melangkah, Seorang dapat menyakiti kita hanya jika kita mengijinkannya.
Walau tidak mudah… kita harus tetap berharap agar para korban perdagangan manusia yang masih diselimuti trauma, dapat segera bangkit dan melanjutkan hidup mereka mewujudkan masa depan yang indah. Tuhan yang baik itu pasti mengirimkan tangan-tangan yang akan mendampingi mereka dengan penuh kasih sampai Mereka dapat bebas dari trauma masa lalunya. Ayo bangkit… lihatlah ke depan… ada kehidupan yang indah menanti di sana.
By Mission Partners“Trauma adalah neraka di bumi. Trauma yang terselesaikan adalah hadiah dari para dewa." - Peter A. Levine -
Salam damai bagi kita semua… dan salam jumpa dalam Podcast Suara untuk Asa… untuk episode kali ini, kita akan menlantangkan sebuah pesan tentang: “Memperjuangkan kebebasan”
Kutipan diatas adalah sebuah ungkapan hiperbola yang tidak bisa juga dibilang berlebihan, karena dalam kasus tertentu memang tidak mudah untuk mengatasi sebuah trauma. Walaupun secara teori, trauma itu sebenarnya memori masa lalu yang diproyeksikan ulang akan muncul kembali di masa depan. Jadi pemulihannya itu sederhana, cukup dengan mengubah apa yang akan diproyeksikan. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Terlebih bagi para korban perdagangan manusia. Tak jarang mereka yang merasa sudah kehilangan kebebasan dan masa depan.
Wati sudah kembali ke keluarganya, setelah sempat terjebak iming-iming penghasilan besar dengan menjadi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Dan dia benar-benar kembali ke rumah sampai enggan untuk melakukan kegiatan apa pun di luar rumah. Bahkan untuk bermimpi tentang masa depan pun Ia tidak berani. Pengalaman buruk ketika bekerja di negeri orang sebagai TKI sungguh menghantam jiwanya. Ia mengalami di siksa, dipenjara, dan bahkan penghasilan besar yang diimpikan pun tidak di dapat. Wati sudah bebas dari jerat kejahatan perdagangan manusia, namun… masih ada belenggu yang menghambat kebebasannya, yang belenggu pikiran. Bayang-bayang trauma akan masa lalu yang kelam itu.
Cobaan dan penderitaan dalam hidup tidak boleh menjadi penentu dan bahkan penghambat masa depan. Setiap manusia bebas untuk berkehendak dan menentukan langkah hidupnya, Dalam setiap pengalaman, kita bisa menemukan kehendak Tuhan, kita bisa memulai dengan bersyukur saat telah berhasil mengatasi pengalaman buruk, cobaan yang membuat kita menderita, setelah itu kita bisa menjadikan pengalaman itu pijakan untuk melangkah, Seorang dapat menyakiti kita hanya jika kita mengijinkannya.
Walau tidak mudah… kita harus tetap berharap agar para korban perdagangan manusia yang masih diselimuti trauma, dapat segera bangkit dan melanjutkan hidup mereka mewujudkan masa depan yang indah. Tuhan yang baik itu pasti mengirimkan tangan-tangan yang akan mendampingi mereka dengan penuh kasih sampai Mereka dapat bebas dari trauma masa lalunya. Ayo bangkit… lihatlah ke depan… ada kehidupan yang indah menanti di sana.