Hidup menurut roh hendaknya dipandang sebagai sesuatu yang tidak berbeda jauh dengan pimpinan Roh Kudus, walaupun tidak sama persis. Harus dipahami bahwa roh (tanpa tambahan Allah atau Kudus) di sini menunjuk hasrat atau gairahnya Roh Kudus. Roh Kudus menunjuk suatu Pribadi, sedangkan roh dalam konteks ini menunjuk suatu hasrat atau gairah, yaitu gairah yang lahir dari pimpinan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Hidup menurut roh artinya seseorang memiliki gairah Kristus di dalam kehidupannya, dan menuruti roh (gairah) tersebut.
Proses dipimpin oleh Roh yang membuat seseorang hidup menurut roh harus diawali dari penebusan atas manusia berdosa. Itulah sebabnya dalam Roma 8:3-4 tertulis: Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut roh. Ini barulah langkah awal yang dilakukan oleh Tuhan, tanpa peran kita sama sekali. Tetapi selanjutnya orang yang telah ditebus oleh darah Yesus harus meninggalkan cara hidup sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:17-18), yaitu hidup menurut roh bukan menurut daging agar terbebas dari penghukuman. Itulah sebabnya dalam Roma 8:12-13, tertulis bahwa orang percaya berhutang bukan untuk hidup menurut daging, tetapi hidup menurut roh. Dengan demikian, setiap orang percaya tidak bisa tidak, harus hidup menurut roh, bukan menurut daging. Orang yang masih hidup dalam daging pasti binasa. Orang percaya dipanggil tidak untuk hidup menurut daging, tetapi menurut roh. Sebab hanya orang yang hidup menurut roh yang tidak ada dalam penghukuman.
Dari pernyataan Paulus tersebut jelas sekali kebenaran bahwa bebas dari penghukuman (Ing. condemnation) tidak secara otomatis diterima atau dialami semua orang Kristen yang hanya dengan mulut mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, dan yang merasa hatinya percaya atau pikirannya setuju terhadap status Yesus tersebut. Bebas dari penghukuman hanya terjadi atau berlaku atas mereka yang tidak hidup menurut daging, tetapi hidup menurut roh. Paulus menyatakan: Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut roh, memikirkan hal-hal yang dari roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan roh adalah hidup dan damai sejahtera Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah (Rm. 8:5-8).
Orang yang hidup dalam daging adalah orang yang tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Bagi bangsa Israel sebelum zaman anugerah, perkenanan atau kehendak Allah diukur dengan hukum Taurat, tetapi di zaman Perjanjian Baru, perkenanan Allah diukur dengan hidup atau berperilaku selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, artinya harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Memiliki pikiran dan perasaan Kristus sama artinya memiliki roh Kristus. Hal ini sama dengan hidup menurut roh.
Inilah yang diusahakan Paulus bahwa dengan sungguh-sungguh ia menaklukkan akal budinya kepada hukum Allah, sekalipun ia masih mengenakan tubuh yang terikat dengan kodrat dosa (Rm. 7:25). Hukum Allah di sini merupakan kebalikan dari hukum dosa (hamartia). Jadi hukum dosa (hamartia) menunjuk kepada kodrat dosa, sedangkan hukum Allah dalam konteks ini menunjuk kepada kodrat Ilahi atau standar kesucian Allah. Usaha menaklukkan akal budi kepada hukum Allah (kodrat Ilahi yang berstandar kesucian Allah) merupakan usaha untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus agar menghasilkan hidup menurut roh. Perjalananan hidup dipimpin Roh Kudus menghasilkan hidu...