Kita harus menyadari dan sungguh-sungguh menerima bahwa manusia hidup dalam pemerintahan Allah. Wilayah hidup yang dijalani manusia adalah wilayah yang “tidak netral.” Wilayah hidup manusia bukan daerah yang tidak bertuan. Wilayah kehidupan manusia adalah wilayah yang “bertuan,” dan tuannya adalah Tuhan semesta alam, yaitu Allah yang Esa. Dengan demikian, manusia bukanlah makhluk gratis yang boleh hidup sesuka-sukanya sendiri. Manusia harus hidup dalam pemerintahan Allah.Khususnya bagi orang percaya yang adalah anak-anak Allah, kita harus hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, orang percaya tidak boleh hidup sesuka-sukanya sendiri, tetapi harus hidup sesuka-sukanya Tuhan.
Ada satu langkah penting untuk hidup di hadapan Allah atau hidup didaerah yang tidak netralini. Langkah itu adalah selalu menghayati dan benar-benar berpikir bahwa mata Allah ada di depan kita. Pernyataan ini sekilas tampak kekanak-kanakan, tetapi sesungguhnya hal ini harus dilakukan dan dilatih terus-menerus sehingga seluruh syaraf, inderaperasa kita, pikiran dan perasaan kita selalu dalam kesadaran penuh bahwa Allah hadir dan mengawasi seluruh perilaku kita, termasuk gerak pikiran dan perasaan kita. Pembiasaan ini akan melahirkan keyakinan terhadap Allah yang hidup dan Mahahadir. Tanpa pembiasaan ini, seseorang tidak akan pernah menghayati kenyataan Allah yang hidup dan Mahahadir itu.
Hal tersebut di atas sekilas tampak sederhana, padahal sebenarnya suatu hal yang sulit untuk dilakukan, sebab manusia sudah terbiasa terpancang kepada hal-hal yang kelihatan. Allah tidak kelihatan, dan karenaitu, orang biasanya tidak serius berurusan dengan Allah. Akibatnya, mereka tidak mampu menghayati Tuhan dalam setiap tindakannya. Ini berarti mereka juga tidak mempertimbangkan perasaan Allah dalam setiap pilihan dan keputusannya. Inilah yang disebut sebagai kecerobohan yang bisa berdampak kekal. Oleh sebab itu,kita harus membiasakan diri untuk melatih penghayatan akan kehadiran atau keberadaan Allah dalam hidup ini, dan selalu mempertimbangkan perasaan-Nya ketika kita mau mengambil pilihan dan keputusan. Oleh sebab itu, betapa pentingnya melatih diri untuk membiasakan diri menaruh Tuhan di depan mata.
Latihan untuk hal ini dimulai sejak pagi hari. Kita harus selalu mengevaluasi seberapa konstan penghayatan itu berlangsung. Pada awal-awal memulai latihan, kitasering tidak bisa bertahan lama. Perjuangan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Selanjutnya, kalau kita tekun,kitabisa bertahan sampai setengah hari, bahkan sampai satu hari penuh. Bila satu hari sudah berhasil, proses latihan harus dilanjutkan di hari berikutnya. Pembiasaan hidup menaruh Allah di depan mata kita merupakan proses. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, menaruh Allah di depan mata itu akan menjadi gaya hidup yang permenan. Menaruh Allah didepan mata berarti selalu mengingat, menghayati, dan menyakini bahwa Allah yang Mahahadir itu sedang berurusan dengan diri kita setiap saat. Tidak ada wilayah atau tempat dan waktu dimana Allah tidak hadir. Dalam segala hal, Allah yang Mahahadir harus selalu dipertimbangkan sebagai Majikan atau Tuan yang berkuasa atas hidup kita.
Allah memang ada dan Mahahadir.Namun faktanya, tidak banyak orang yang benar-benar mengalami kehadiran-Nya, sehingga sebagian besar manusia sebenarnya tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Allah ituada dan Mahahadir. Hal ini tampak dari perilaku mereka. Perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa mereka mengakui bahwa Allah ituada. Hal ini ternyata juga terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen. Mereka mengakui keberadaan Allah bahkan mengucapkan Doa Bapa Kami yang di antaranya kalimatnya berbunyi, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilahkehendak-Mu di bumiseperti di sorga” (Mat. 6:10). Hal ini seharusnya menunjukkan kesediaan untuk menghadirkan pemerintahan Allah dalam kehidupan mereka. Namun faktanya, perasaan negatif dan perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa mereka hidup dalam pemerintaha...