Kesombongan berangkat dari sikap hati tidak membutuhkan Tuhan. Orang yang sombong adalah orang yang merasa tidak membutuhkan Tuhan. Pada umumnya, sebagai orang beragama, kita tidak berani berkata kalau kita tidak membutuhkan Tuhan. Namun pertanyaannya, berapa persen kita merasa membutuhkan Tuhan? Sebab, persentase membutuhkan Tuhan sangat menentukan sikap hati kita kepada Tuhan. Ini yang harus kita sungguh-sungguh persoalkan: berapa persen kita membutuhkan Tuhan? Untuk bisa merasa membutuhkan Tuhan sepenuhnya (100%) tentu membutuhkan kedewasaan rohani dan proses.
Seiring dengan perjalanan waktu, kita bertumbuh dewasa, kita menyadari betapa rentan dan tidak berdayanya kita. Fakta kehidupan, yaitu manusia datang silih berganti, menggetarkan jiwa kita. Ditambah dengan melihat realitas hidup yang kita alami, atau yang orang alami. Maka sejatinya, pengenalan akan Tuhan juga bertumbuh dan bertumbuh pula sikap perasaan membutuhkan Tuhan. Kita membutuhkan Tuhan lebih dari kita membutuhkan napas dan darah kita. Ketika napas kita lenyap, darah tidak dibutuhkan lagi. Jadi, tidak berlebihan ketika pemazmur mengatakan di Mazmur 73:25-26, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.”
Masalahnya, irama hidup manusia adalah mencari apa yang menurut dia bisa menjadi topangan. Kita memang harus bekerja, punya uang, pendidikan, keahlian, gelar untuk mencari nafkah, tetapi itu bukan segalanya. Yang segalanya itu hanya Tuhan dan Tuhan tahu kita membutuhkan uang, fasilitas, dan lain-lain. Tuhan berjanji semua ditambahkan, tetapi jangan mencari tambahannya sampai kita tidak menjadikan Tuhan segalanya. Jangan sampai ketika kita ada di ujung maut, baru kita menyadari bahwa Tuhan segalanya. Terlambat. Sejak sekarang, ketika tubuh kita sehat, punya pekerjaan, punya uang, dan punya fasilitas, kita sudah berkata dengan ratapan, “Pegang tanganku, Tuhan. Jangan Tuhan lalui.”
Ironis, Tuhan sering diperlakukan sekadar tambahan. Ada, syukur karena lebih lengkap. Tidak ada, ya tidak apa-apa. Maka, orang bisa tidak ke gereja hanya karena hal-hal sepele. Kalau kita merasa memerlukan Tuhan, kita pasti tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk berdoa, mendengarkan firman, dan ke gereja. Sewaktu kita melakukan itu, kita melihat seakan-akan keadaan hidup kita tidak berbeda dengan mereka yang tidak rajin mencari Tuhan. Namun, kalau kita setia terus, Tuhan menandai kita. Kita pasti akan melihat perbedaan, orang yang mencari Tuhan dan yang tidak mencari Tuhan. Sebagaimana rusa yang merindukan air, karena air itu segalanya, kehidupannya.
Namun, banyak orang tidak menjadikan Tuhan segalanya. Punya Tuhan, tidak punya Tuhan, sama saja rasanya. Mencari Tuhan, tidak mencari Tuhan, kelihatannya sama saja. Rata-rata keadaan dunia kita seperti itu. Tuhan seakan-akan diam, karena itu tatanan. Tuhan tidak melanggar tatanan. Roh Kudus pasti mengingatkan, tetapi setan dengan kuasa kegelapan juga mempengaruhi orang untuk hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah. Ada manuver, baik Roh Kudus maupun kuasa kegelapan. Kita harus memilih, mau di pihak siapa? Mencari Tuhan atau tidak? Mencari Tuhan seakan-akan keadaan kita sama seperti orang yang tidak mencari Tuhan. Siapa bilang? Alkitab berkata, bahwa orang yang mencari Tuhan akan dibuat Tuhan menemukan Dia. Kalau sekarang belum tampak, tunggu 2, 3, 5, 10 tahun atau lebih, maka akan makin nampak perbedaan antara orang yang mencari Tuhan dan yang tidak.
Kalau pun tidak tampak dari hidup orang itu, anak cucunya akan menjadi peta dari perjalanan hidup kakek-nenek moyangnya. Hari ini, kita harus mengambil keputusan. Rendahkan hati, jangan sombong. Orang yang hidup sembarangan, menuai apa yang dia tabur. Kita tidak mau ceroboh. Bukan hanya sementara kita hidup di dunia, melainkan juga di kekekalan nanti. Kita tahu, ada pengadilan setelah kematian; kehinaan kekal atau kemuliaan kekal. Pangkat, gelar dan materi menjadi tidak ada artinya setelah kita masu...