Sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, kualitas hidup kita harus sampai sepikiran dan seperasaan dengan Bapa. Maka, semua aktivitas—seperti menonton film dan pertemanan yang bisa merusak—harus kita tinggalkan. Bukan berarti kita tidak boleh menonton film, karena ada film yang patut kita tonton. Gereja harus meluluskan orang-orang pilihan di Kerajaan Surga. Seperti sekolah, meluluskan orang-orang pilihan. Tentu ini pekerjaan berat. Kalau kita penuh dengan Roh Kudus dan tunduk kepada firman, sehingga hidup kita digerakkan oleh firman yang kita pahami, kita pasti bisa mengekspresikan pikiran dan perasaan Allah dengan rela. Kita dengan ikhlas berjalan sesuai dengan pikiran dan perasaan Roh Kudus.
Kita bisa menolak-Nya, tetapi kita tidak menolak. Kita menerima-Nya, sehingga kita menjadi man of God; manusia Allah. Sering kali sekolah tinggi-sekolah tinggi teologi dengan arogansi akademisnya membuat Roh Kudus tidak bisa bekerja. Semua harus secara nalar, harus diformat secara sistematis. Bukan tidak setuju. Harus, tetapi pergaulan dengan Allah, perjumpaan dengan Tuhan harus terjadi. Buat hidup kita berarti. Jangan merasa gagal, lemah, tidak berdaya, kecil. Lalu, jadi minder. Kalau hidup kita mengikuti apa kata firman, pasti hidup kita jadi unggul dan cerdas.
Ciri orang seperti ini adalah hatinya penuh belas kasihan, karena perasaan Tuhan itu belas kasihan. Kesenangan-Nya adalah menyelamatkan orang, menolong orang, mengangkat orang. Kadang-kadang melihat orang jatuh dalam dosa, kita yang pukul dada dan berkata, seakan-akan kita yang jatuh, “Mengapa kau lakukan itu?” Jadi, kita bisa mengerti kalau kita berbuat dosa, betapa berdukanya hati Tuhan. Dulu kalau kita lihat orang berbuat dosa, kita jadikan topik dalam percakapan. Kita punya data yang mengangkat kita sebagai orang penting untuk didengar. Namun, ketika kita belajar mengenakan perasaan Tuhan, maka ketika kita melihat orang berbuat salah, seakan-akan kita yang salah, dan kita berduka. Apalagi kalau orang yang jatuh itu adalah orang yang kita kasihi.
Hal ini bukan berarti kita setuju orang berbuat dosa, tetapi kiranya kita juga ingat bahwa tidak ada orang yang pernah bermimpi mau mencuri, korupsi, berzina, pukul orang, atau membunuh. Tidak pernah. Namun, setan menggiringnya untuk menjadi pencuri. Lalu ramai-ramai orang lempar batu. Tuhan Yesus tidak demikian. Maka, pelayanan harus lahir dari hati Tuhan, bukan hati manusia. Jadi, kalau kita menatap orang, kita menatap dengan hati Tuhan. Kita tidak pernah lagi membedakan dia suku apa, kaya atau miskin. Kita tidak lagi menghitung, “Apa untungku memperhatikan dan menolong orang ini?” Namun, kita hanya mau mengekspresikan perasaan Tuhan. Betapa hebat kehidupan seperti ini.
Inilah jalan yang harus kita tempuh. Jangan penampilan kita intelek, cakap, tetapi hati kita busuk. Walaupun penampilan kita buruk di mata manusia, kalau kita mengekspresikan perasaan Allah, kita mempesona Kerajaan Surga. Kematian kita pun ditunggu oleh penghuni surga, dan kita akan disambut, karena kita menghormati Allah. Allah para penghuni surga, yang perasaan-Nya kita gelar dalam hidup kita dan kalau kita berbuat baik, kita tidak ingin dipuji karena itu bukan tujuan kita berbuat baik. Kita tidak bangga dengan perbuatan baik kita, karena kecintaan kita kepada orang lebih besar dari kebanggaan apa pun. Itulah kekristenan.
Ketiga, dominasi tokoh. Dalam agama pada umumnya, harus ada imam atau tokoh. Namun kekristenan, tidak. Kalau kita hidup sebagai anak-anak Allah, Bapa pasti mendampingi kita. Sebagaimana kita selalu ingin jalan bersama dengan anak kita atau orang yang kita kasihi. Bapa pun mau. Tidak perlu perantara. Memang pada kenyataannya, jemaat membutuhkan seorang Gembala Jemaat, tetapi kita tidak boleh bergantung kepada Gembala Jemaat atau hamba Tuhan mana pun. Kita tidak boleh mengultuskan manusia. Kita harus menghadirkan pemerintahan Allah sehingga atmosfer kehadiran Allah nyata di dalam hidup kita.