Semakin seseorang serius dengan Allah, keseriusan tersebut ditandai dengan kesediaan mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Tentu saja hal ini tidak mudah dimengerti orang lain, tetapi memang kita tidak boleh memamerkannya, dan hal itu tidak perlu harus dimengerti oleh orang lain. Orang yang serius dengan Allah akan dibawa kepada pusat pusaran kebenaran yang semakin hari semakin cepat. Seperti suatu benda berada di pusat pusaran atau episentrum sebuah gerak air yang berputar, semakin ke tengah, semakin cepat berputar. Hal ini akan ditandai dengan keadaan seseorang yang mengasihi Allah lebih benar dapat masuk pengalaman hidup mengasihi Allah dengan benar.
Semakin kita serius dengan Allah—yang ditandai dengan hati yang mengasihi Dia—maka kita akan dibawa ke pusat pusaran kehidupan dalam persekutuan dengan Allah. Ini berarti kita semakin memperoleh banyak pengalaman dengan Allah, dengan demikian, kita dapat semakin mengerti kehendak-Nya untuk kita lakukan. Pikiran kita semakin terbuka untuk menemukan apa yang Dia rancang, Dia rencanakan untuk kita penuhi dalam hidup kita ini. Dan itu sebenarnya inti kekristenan, yaitu mengerti kehendak Allah untuk kita lakukan, dan mengenal rencana-Nya untuk kita penuhi. Inilah gaya hidup hidup Yesus yang juga harus kita kenakan (Yoh. 4:34). Untuk hal ini, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh sepanjang hidup.
Kalau seorang pria jatuh cinta, mengasihi, mencintai seorang wanita; atau sebaliknya, dicintai, itu jelas mudah terjadi karena ada impuls atau rangsang yang bisa dilihat, dan diri manusia ada lust, ada nafsu, ada eros yang memfasilitasinya. Demikian pula ketika seseorang menyukai satu barang, ia melihat barang itu, ada rangsang atau impuls dan ia memiliki jiwa yang memiliki keinginan, hasrat, desire, kerinduan untuk barang tersebut. Skema hidup seperti itu mudah terjadi atau berlangsung. Tetapi terhadap Allah yang tidak kelihatan, bukan sesuatu yang mudah, karena Allah tidak kelihatan, dan sering kita alami seakan-akan Dia tidak ada, dan jiwa manusia sudah terlanjur ada keinginan-keinginan terhadap banyak objek dan tidak ada keinginan untuk mencari Allah (Rm. 3:11).
Ketika kita bersungguh-sungguh melangkah mencari Allah, sering kita alami seakan-akan Dia tidak menanggapi seperti yang kita harapkan. Kadang, seakan-akan orang yang mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan orang yang tidak mencari Tuhan kelihatannya sama. Tetapi Allah yang mulia dan agung, layak dan patut kita perlakukan dengan hormat, yaitu kita tidak boleh menuntut respons atau reaksi Dia dalam bentuk apa pun. Kita tetap percaya saja dan sungguh-sungguh mencari Dia. Dalam hal ini, Yesus sendiri berkata “berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat.” Dengan demikian, dasar atau landasan percaya bukanlah apa yang dirasakan oleh panca indera, tetapi percaya saja. Dari perjalanan hidup yang didasarkan pada “percaya saja,” seseorang dapat memiliki pengalaman yang berlimpah dengan Allah. Dari hal ini, seseorang pasti mengalami perubahan yang signifikan.
Semakin kita serius dengan Allah, yang ditandai dengan hati yang mengasihi Dia, maka kita akan dibawa ke pusat pusaran pengalaman dengan Allah. Kita pasti akan lebih banyak mengalami Dia, makin mengenal kehendak-Nya, makin mengerti rencana-Nya, dan kita berhasrat untuk melakukannya. Kita akan memiliki pengalaman yang sangat pribadi dengan Allah. Allah yang seakan-akan tidak ada, kemudian menjadi nyata dan hidup, begitu riil. Di level ini, seseorang bisa menghayati kehadiran Allah yang semakin hari semakin kuat, tentu secara bertahap. Sehingga, seseorang bisa merasakan apa yang dimaksud hidup di hadirat Allah. Pengalaman hidup seperti ini tidak bisa dibahasakan dengan lengkap. Hal ini harus dialami secara pribadi dengan konkret. Dalam hal ini, Allah menjadi jelas, bukan karena menalar Dia dengan rasio, tetapi mengalami Dia secara riil.
Ketika kita hidup di hadirat Allah sepanjang waktu,