Kalau kita dengan tekun dapat melewati beratnya mengikut Yesus—artinya mengenakan hidup-Nya—sukacita yang murni dapat kita rasakan. Tidak banyak orang yang bisa terbawa sampai ke episentrum ini. Banyak orang mau nyaman di luar, putar-putar di luar episentrum. Kalau seseorang tidak sampai pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), ketika meninggal dunia, ia akan melihat kenyataan yang mengerikan; seperti seorang yang masuk ke dalam mimpi buruk tetapi ternyata sebenarnya adalah kenyataan. Namun, kalau kita sekarang ini menderita bagi Allah, merasakan beratnya mengiring Yesus, ketika mati, kita seperti terbangun dari mimpi buruk. Pada waktu kita membuka mata di kekekalan, kita dapat mengerti dengan sempurna bahwa hidup kita selama 70-80 tahun yang begitu banyak beban tidak ada artinya sama sekali. Terkait dengan hal ini Paulus menyatakan, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18).
Banyak gereja sibuk membangun gereja, membangun sekolah, sibuk dengan kegiatan misi, diakonia, pekerjaan sosial, dan lain-lain. Tentu saja melakukan semua kegiatan tersebut tidak salah, tetapi harus dipertanyakan: apa tujuan seluruh kegiatan tersebut? Hendaknya semua kegiatan tersebut bukan suatu produk yang memang dibuat untuk membuat gereja eksis, aspek lain bisa mendapat income untuk kehidupan para rohaniwannya. Tidak salah seorang hamba Tuhan hidup dari pelayanan, tetapi kalau uang sudah menjadi tujuan, itu bukanlah motif yang benar bagi pelayan pekerjaan Tuhan. Kegiatan pelayanan hamba-hamba Tuhan seperti ini tidak membawa sesorang masuk episentrum kebenaran.
Jangan sampai kita membuka mata di kekekalan, seperti mimpi buruk yang menakutkan. Lebih baik hidup yang kita jalani sekarang seperti mimpi buruk, artinya harus memikul salib, tetapi di balik kubur kita menemukan kehidupan yang indah. Memang, semakin ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) di mana kita berjalan dengan Tuhan, perjuangan akan makin berat. Tetapi ajaibnya, ketika kita benar-benar semakin sampai ke titik pusat pusaran, rasa berat itu tidak akan ada lagi. Kita baru benar-benar merdeka. Semakin kita ke titik pusat pusaran kebenaran, kita akan makin merdeka. Salib menjadi keindahan dan kebahagiaan. Sampai pada level ini, kita hidup hanya untuk mencari kesukaan Allah, tidak lagi kesukaan diri sendiri. Dunia tidak lagi menarik sama sekali. Kerinduan kita terhadap Kerajaan Surga begitu kuat. Kalimat Doa Bapa Kami: “Datanglah Kerajaan-Mu” bisa dihayati dengan benar.
Orang percaya yang menghadirkan pemerintahan Allah pasti kelihatan dalam seluruh gerak hidupnya. Ini berbeda dengan mereka yang tidak menghadirkan Kerajaan Allah. Biaya menghadirkan Kerajaan Allah hanya dengan satu cara, yaitu darah Yesus. Kerajaan Allah itu sebenarnya sudah datang, dihadirkan oleh Yesus. Namun, bagaimana hidup di dalam pemerintahan Allah itu atau sama dengan pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) itu bisa terjadi atau berlangsung dalam kehidupan kita? Bagaimana kita bisa makin mengerti kehendak Allah dan menghayati kehadiran-Nya? Kalau kita menghayati kehadiran-Nya, kita akan sulit berbuat dosa atau berbuat salah. Dunia tidak lagi membelenggu kita atau menyandera kita, karena atmosfer Kerajaan Allah itu akan dirasakan. Kita tidak lagi memiliki rasa takut terhadap apa pun dan siapa pun. Kita makin berani menghadapi hidup karena kita hanya memiliki satu kepentingan, yaitu hidup untuk kemuliaan nama-Nya, yang sama dengan hidup hanya untuk kesenangan Allah Bapa. Tuhan Yesus adalah satu-satunya manusia yang berhasil menyukakan hati Allah Bapa. Oleh sebab itu, kita harus mengenal Dia dengan benar untuk meneladani hidup-Nya.
Orang yang tidak mengenal Yesus dengan benar—walaupun menyebut nama-Nya dan menyembah Dia, tetapi sebenarnya itu bukan Yesus yang asli—nanti ketika ia berada di ujung maut akan ada ketakutan luar biasa.