Sudah saatnya sekarang banyak orang Kristen harus menggantikan Yesus yang mereka miliki dan mereka kenal selama ini. Mengapa? Alasannya bisa dua kemungkinan: Pertama, karena Yesus yang mereka kenal adalah Yesus yang hanya ada di dalam pikiran mereka, belum menjadi kenyataan secara konkret. Yesus tersebut harus diwujudnyatakan dalam kehidupan secara konkret. Kedua, karena Yesus yang mereka kenal adalah Yesus yang salah, bukan yang diajarkan Injil. Yesus-Yesus seperti ini dapat dikatakan sebagai Yesus fantasi.
Yesus fantasi bisa merupakan modifikasi dari berbagai doktrin yang dibangun sejak ratusan tahun. Di antara doktrin-doktrin tersebut dirumuskan oleh teolog-teolog yang telah sukses membangun perpustakaan yang memuat tulisan mengenai Yesus. Mereka memiliki jawaban dari apa saja yang dipertanyakan mengenai Yesus. Mereka selalu memiliki argumentasi terhadap semua permasalahan mengenai Yesus dan segala hal yang berkenaan dengan teologi Kristen. Para akademisi yang belajar teologi secara formal dalam sekolah tinggi teologi beranggapan bahwa tulisan teolog dalam buku-buku di perpustakaan sudah cukup melukiskan wajah Yesus dan segala hal yang terkait dengan teologi Kristen. Di luar yang mereka pahami dan di luar semua yang tertulis di dalam buku-buku di perpustakaan tersebut, dipandang oleh mereka bukanlah ajaran yang benar. Mereka lupa bahwa kalau semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ditulis, maka semua buku di dunia ini tidak dapat memuatnya, artinya masih banyak kebenaran yang harus digali (Yoh. 21:25).
Pikiran mereka telah terpenjara oleh doktrin-doktrin yang mereka pahami sebagai kebenaran mutlak. Mereka berpikir bahwa perpustakaan mereka sudah cukup mewakili siapa dan bagaimana Allah itu. Itulah sebabnya semua tulisan dari skripsi, tesis, dan disertasi, harus memiliki referensi buku-buku tersebut. Jika tidak, maka dianggap tidak valid. Dengan cara ini mereka telah memagari diri mereka sendiri di bawah tempurung pikiran manusia yang terbatas. Biasanya mereka terkurung oleh pandangan seorang teolog atau beberapa yang lain, dan memandang bahwa doktrin yang diajarkan oleh teolog-teolog masa lalu sudah merupakan kebenaran mutlak. Tanpa mereka sadari, mereka menyejajarkan pandangan teologi manusia dengan kebenaran Alkitab.
Mereka mampu berkhotbah panjang-panjang, berdoa, dan menyusun liturgi yang sangat apik. Tetapi sesungguhnya Yesus yang mereka pahami adalah Yesus yang masih di dalam fantasi. Mereka belum menjumpai-Nya secara konkret. Mereka merasa puas dengan Yesus yang mereka diskusikan, Yesus yang mereka tulis di puluhan bahkan ribuan kertas, Yesus yang mereka perdebatkan, Yesus yang mereka seminarkan. Tidak heran kalau pada tahun 1985 terdapat kelompok para teolog yang menamakan diri “Jesus Seminar”, hanya mengakui sebagian perkataan Yesus dalam Injil sebagai perkataan Tuhan Yesus sendiri. Ini jelas merupakan bentuk penyimpangan para teolog.
Kelompok orang-orang yang merasa lebih mengenal kebenaran melalui studi formal teologi, biasanya lebih kuat berada berjam-jam dan berhari-hari di perpustakaan di bawah asuhan buku-buku yang ditulis oleh para doktor dan profesor teologi daripada duduk diam di kaki Tuhan dalam doa pribadi. Ini adalah sebuah ketidakseimbangan yang membawa mereka menjadi rasional, tetapi tidak memiliki perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus. Pada dasarnya mereka belum menemukan Tuhan. Mengatakan hal ini bukan berarti kita menuduh para doktor dan profesor teolog masa lalu tersebut salah. Belum tentu mereka salah di zamannya. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang sangat efektif pada zamannya. Tetapi kita yang hidup di zaman yang berbeda, seharusnya menemukan Tuhan di zaman kita dan memahami kebenaran sesuai dengan konteks zaman kita hari ini.