Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap mahkluk pasti hidup di hadapan Allah, sebab Allah Mahahadir. Tidak ada tempat dimana Allah tidak hadir. Namun, tidak semua orang hidup secara khusus di hadapan Allah dengan benar. Orang seperti bisa dikatakan tidak hidup di hadirat Allah. Hal hidup di hadirat Allahini tidak tergantung pada Allah, sebab Allah dengan sendirinya memenuhi jagad raya ini dengan Roh-Nya.Hal itutergantung pada masing-masing individu, yaitu bagaimana seseorang menghayati kehadiran Allah dan bersikap secara patut terhadap-Nya. Kenyataan yang kita jumpai, banyak orang mengaku bahwa Allah itu ada, tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Dengan demikian, secara teori mereka mengaku memiliki dan memercayai Allah atau ber-Tuhan, tetapi secara praktik, mereka tidak ber-Tuhan. Mereka seperti orang ateis, yaitu orang yang tidak memercayai adanya Allah.
Banyak orang di Indonesia bersikap seperti yang disebutkan di atas.Walaupun memiliki Pancasila denganSila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Dasar Negara yang harus diamalkan, perbuatan mereka tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Hal itutampak dalam praktik kehidupan sebagian anak bangsa ini yang masihmelakukan tindakan korupsi, penyalahgunaan wewenang, penindasan kepada kaum lemah atau sikap tidak peduli kepada kaum miskin, diskriminasi kepada kelompok minoritas, atau adanya diktator mayoritas, dan lain sebagainya. Banyak orang menjadi pejabat tinggi negara dan berpolitik bukan karena bermaksud hendak membela kepentingan bangsa dan negara, tetapi demi uang dan jabatan. Dengan berperilakudemikian, masyarakat luas, bangsa, dan negara inilahyang dikorbankan. Banyak praktik keji, memalukan, dan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat bahkan pejabat tinggi negara tanpa merasa malu dan bernurani. Semua ini bukti nyata adanya orang yang beragama tetapi tidak ber-Allah.
Demikian pula dengan keadaan banyak orang Kristen hari ini. Mereka ke gereja setiap hari Minggu, mengikuti liturgi, bahkan mengambil bagian dalam kegiatan gereja, tetapi kehidupan setiap harinya tidak menunjukkan bahwa mereka percaya adanya Allah. Banyak orang yang melakukan praktik-praktik perilakudi atas yang adalah juga orang-orang Kristen. Kalaupun seandainya tidak melakukan praktik di atas secara terang-terangan, mereka tidak hidup seperti Yesus yang menjadi teladannya. Dengan keadaan ini, orang-orang Kristen tersebut sebenarnya tidak berhak mengenakan identitas atau status sebagai orang Kristen sebab “Kristen” artinya seperti “Kristus.”Kalau orang Kristen gagal menjadi “seperti Kristus,”iaberarti gagal menjadisaksi Kristus.
Allah memang Mahahadir. Ia hadir dimana-mana.Namun, seberapa kuat seseorang menghayati kehadiran-Nya dan bersikap terhadap Allah menentukan seberapa benar seseorang hidup di hadapan-Nya. Hidup di hadapan Allah artinya bagaimana menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah dalam segala hal yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Hidup di hadapan Allah juga berarti hidup dalam pemerintahan-Nya. Hal ini sama dengan hidup sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga dengan baik sejak hidup di bumi. Dikatakan sebagai anggota keluarga Kerajaan Surga sebab hubungan kita dengan Allah adalah hubungan anak dan Bapa. Hal ini memenuhi apa yang dikatakan di dalam Doa Bapa Kami,“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilahkehendak-Mu di bumiseperti di sorga” (Mat. 6:10). Hanya orang-orang yang berperilaku seperti Kristus yang dapat mewujudkan kalimat permohonandalam Doa Bapa Kami ini, sebab standar menghadirkan Kerajaan Allah adalah kehidupan seperti yang Yesus telahjalani.
Orang yang hidup di hadapan Allah adalahorang yang bersikap hormat kepada Bapa seperti yang dilakukan oleh Yesus. Penghormatan kepada Bapa tidak cukup dengan menyanyikan lagu rohani yang menyanjung nama-Nya atau melakukan penyembahan di dalam liturgi gereja. Penghormatan-Nya kepada Bapa di surga ditunjukkan dengan hidupyang selalu melakukan kehendak Bapa dan menyeles...