Kita sering mengatakan “aku percaya kepada-Mu, Tuhan” baik dalam pengakuan maupun dalam syair lagu. Tetapi persoalannya, apakah kita benar-benar memiliki percaya yang diakui oleh Allah? Banyak orang merasa sudah percaya kepada Allah, tetapi tidak mempersoalkan dengan sungguh-sungguh apakah percayanya itu benar-benar percaya yang benar? Apakah Allah merasa dipercayai oleh kita? Apakah Allah mengakui percaya kita terhadap Dia sudah benar? Oleh sebab itu, kita harus mempersoalkannya dengan sungguh-sungguh. Kita harus berperkara dengan Tuhan dan mempertanyakan apakah percaya kita kepada-Nya sudah benar. Bukan hanya dari pihak kita sudah merasa percaya kepada Allah, tetapi justru harus dari pihak Allah. Percaya yang benar kepada Allah bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. Ironis, banyak orang berpikir memercayai Allah itu mudah dan sederhana, karenanya mereka tidak pernah menggumulinya dengan sungguh-sungguh.
Memercayai Allah yang tidak kelihatan harus diperjuangkan, sebab memercayai Allah yang tidak kelihatan bukan hanya meyakini bahwa Allah itu ada, bukan hanya menyetujui dalam pikiran bahwa Allah itu ada, melainkan kita harus menghayati keberadaan-Nya. Dengan penghayatan yang benar terhadap keberadaan Allah tersebut, maka perilaku kita pasti bukan saja menjadi baik melainkan juga sesuai dengan apa yang Allah inginkan dan kehendaki. Itu sulitnya. Kalau orang hanya meyakini Allah itu ada, itu mudah dan sederhana. Tetapi kalau memercayai Allah dengan benar, berarti kita harus selalu mengerti apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan di dalam hidup ini. Memercayai Allah berarti menghentikan semua keinginan diri sendiri, cita-cita dari diri sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Memercayai Allah berarti hidup hanya untuk melakukan apa yang Allah inginkan, sama seperti yang diteladankan Abraham kepada kita, yang mengaku Abraham sebagai bapa orang percaya. Perhatikan pola dan gaya hidup Abraham. Hidupnya benar-benar disita hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di surga.
Di dunia kita yang sudah rusak dan fana ini—artinya pasti akan berakhir dan yang kita jalani tidak lebih dari 100 tahun—ketika kita membuka diri terhadap keinginan-keinginan yang bukan berasal dari Allah, hal itu membahayakan bagi kehidupan kekal kita. Sekarang ini sangatlah aman kalau kita melepaskan segala keinginan diri sendiri, dan hidup hanya untukmelakukan kehendak-Nya. Suatu saat, kalau sudah ada di surga, tidak ada kuasa gelap lagi, Allah akan mengizinkan dan membiarkan kita memiliki hasrat atau keinginan apa pun. Tentu saja, pada waktu itu, tidak mungkin ada lagi hasrat yang bertentangan dengan Allah. Sekarang ini, kita harus sudah berani untuk melepaskan semua keinginan, semua cita-cita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, dan hidup hanya melakukan apa yang Allah ingini.
Kehidupan Abraham disita oleh percayanya kepada Allah. Ia meninggalkan negerinya, kampung halamannya, dan tidak pernah kembali hanya demi menemukan negeri yang Allah tunjukkan. Mengapa kita tidak mengikuti langkah hidup bapa orang percaya ini, bahwa kita hidup di dunia hanya untuk menemukan negeri yang Tuhan akan membawa kita. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Aku pergi menyediakan tempat bagimu, setelah Aku pergi menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu, supaya di mana Aku ada kamu ada.” (Yoh. 14:1-3). Mengapa kita tidak berani mengambil keputusan untuk memancangkan perhatian dan tujuan hidup kita untuk menemukan satu-satunya negeri itu saja? Dengan memancangkan tujuan dan perhatian kita kepada negeri itu, maka kita terpacu untuk berusaha hidup tidak bercacat dan tidak bercela, kita berusaha untuk tidak terikat dengan kesenangan dunia. Dengan demikian, kita mengisi percaya kita dengan benar. Dengan demikian, kita memiliki percaya yang benar terhadap Tuhan. Pasti Tuhan merasa bahwa Dia benar-benar kita percayai karena percaya kita kepada-Nya benar.
Seorang yang hidupnya tidak ditujukan untuk Kerajaan Allah dan ...