Sebelum lebih mendalam membahas tentangrahasia hidup di hadapan Allah, kita perlu membahas keyakinan terhadap keberadaan Allah itu sendiri. Bagi orang yang dibesarkan dalam lingkungan beragama yang sudah terbiasa meyakini bahwa Allah itu ada, mereka sudah merasa bahwa dirinya sudah percaya dengan benar bahwa Allah itu ada. Bagi mereka, meyakini bahwa Allah itu ada bukan hal yang sulit. Keyakinan bahwa Allah itu ada telah menyatu dalam kehidupan dan mengalir dalam syaraf-syaraf jiwanya dan mengakar sangat kuat. Sulit bagi mereka yang ada di lingkungan beragama tersebut menyangkali keberadaan Allah. Mereka sudah sangat yakin bahwa Allah itu ada. Keyakinan yang dimaksud di sini adalah pengaminan akali atau persetujuan pikiran, yaitu secara akal mereka percaya atau setuju bahwa Allah itumemangada. Mereka menerima keyakinan tersebut tanpa membantah sama sekali.
Keyakinan seperti di atas diturunkan dari generasi ke generasi secara otomatis. Masyarakat seperti ini sering hanya memandang Allah sebagai sekadar simbol keagungan orang beragama, tanpa memahami keyakinannya dengan baik serta mengamalkan ajarannya secara konsekuen dan konsisten. Mereka dikondisi untukmeyakini bahwa Allah itu ada tanpa nalar yang proporsional untuk menganalisis atau memahami-Nya. Keyakinan semacam itu sebenarnyatidak banyak artinya, sebab faktanya di negara dimana agama dijunjung tinggi, moral manusianya tidak lebih baik dibanding negara yang tidak menjunjung tinggi agama.
Fenomena seperti di atas juga ada pada lingkungan masyarakat yang mayoritasnya adalah orang-orang Kristen. Mereka adalah orang-orang Kristen KTPatauKristen keturunan. Mereka melestarikan agama Kristen dan melakukan ibadah liturgis secara rutin dan setia setiap hari Minggu.Namun, mereka tidak melakukan usaha untuk mengenal Allah dengan menggali kebenaran Firman Allah secara memadai dan berusaha melakukannya. Tidak heran jika di lingkungan masyarakat Kristenini,terjadiberbagai pelanggaran moral yang memalukan juga. Orang-orang Kristen seperti itu sebenarnyatermasuk kelompok pengejek-pengejek Allah seperti yang dikemukakan oleh Petrus (2Ptr. 3:1-3).
Inilah kenyataan yang terjadi. Manusia yang hidup di dunia semakin fasik. Di kedalaman hati mereka, mereka sebenarnyamerasa bahwamerekadapat hidup tanpa Allah. Bagi mereka, Allah bukanlah jaminan untukdapat memiliki kehidupan yang bahagia. Allah tidak dijadikan sebagaisumber kebahagiaan satu-satunya. Menurut mereka, yang dapat memberi kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah materi dan segala hiburan dunia ini. Allah hanya menjadi sarana atau alat untuk menolong mereka meraih dunia ini. Allah hanya dibutuhkan jika mereka menghadapi masalah-masalah yang sulit. Terutama masalah yang mereka tidak sanggup menanggulanginya. Sikap terhadap Allah seperti ini sebenarnya adalah sikap yang tidak menghormati Dia, sebab merekatidak menempatkan Allah secara patut.
Seharusnya orang Kristen sadar bahwa keyakinan kepada Allah tidaklah cukup melaluisebuah pengakuan bibir saja. Pengakuan terhadap Allah haruslah diterjemahkan secara konkret dalam kehidupan. Orang Kristen yang percaya adanya Allah haruslah menunjukkan keyakinan-Nya itu dalam bentuk perbuatan nyata, yaitu berusaha mengerti kehendak Allah untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk dipenuhi. Dalam hal ini, kita mengerti mengapa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yak. 2:14-26). Kita harusmenyadaribahwa perbuatan seseoranglah yang menghidupkan imannya atau melaluiperbuatannyalahimannya dapat dinyatakan. Dalam hal ini, orang Kristen harus terus berusaha untuk belajar memperlakukan Allah sebagai pribadi yang hidup dan nyata. Jika seseorang memperlakukan Dia sebagai Pribadi yang hidup dan nyata, ia berusaha mengerti kehendak Allah dan melakukan-Nya.
Orang percaya juga harus menghayati bahwa Allah adalah pribadi yang mengamati semua perbuatan manusia. Pada kenyataanya, banyak orang Kristen yang mengaku percaya kepada Allah dan pergi ke gereja den...