Semakin kita mengerti kebenaran firman Tuhan dan sambil menjalani hidup panjang, semakin kita menghayati betapa tragisnya hidup ini. Tentu banyak kisah hidup yang kita jalani, di mana kita bisa menghayati tragisnya hidup. Ketragisan hidup ini semakin menjadi lengkap ketika kita melihat fenomena semakin jahatnya manusia; termasuk yang ada di dalam gereja. Tragisnya hidup ini membuat kita merasa berutang, bagaimana di singkat umur hidup kita, di sisa hari kita ini, kita bisa mengentaskan orang sebanyak mungkin masuk Kerajaan Surga. Dunia mengalami eskalasi atau peningkatan keadaan yang makin tidak menentu. Tidak ada harapan untuk semakin baik, dari segala aspeknya. Manusia berusaha untuk memakmurkan dirinya. Para ahli berusaha untuk memakmurkan masyarakat, memajukan masyarakat.
Teknologi berkembang, tetapi apakah teknologi yang ditemukan menambah kemakmuran? Atau sebaliknya, membangkitkan kekhawatiran karena dampak dari teknologi tersebut membuat pabrik tidak bisa menyerap tenaga manusia. Sementara lahan yang harus diolah makin sempit, persaingan antar negara juga tidak pernah makin surut. Pertentangan ideologi makin tajam. Bangsa yang satu tidak rela bangsa lain lebih maju, khususnya bangsa atau negara-negara adikuasa. Seperti yang kita bisa baca di koran, adanya perang dingin antara satu kelompok dengan kelompok lain. Jadi, masa depan dunia tidak bisa dikatakan lebih baik. Apalagi kita hidup di satu negara atau wilayah yang memiliki banyak masalah. Satu masalah belum selesai, muncul masalah berikut. Namun hal-hal ini tidak membuat kita berpikir pesimis menghadapi hidup ke depan, tetapi kita harus berpikir realistis.
Seandainya dunia membaik, berapa lama manusia dapat menikmatinya? Jadi ini yang seharusnya membuat kita merasa berutang, khususnya para pelayan Tuhan, bagaimana sebanyak mungkin menyeberangkan orang ke langit baru bumi baru. Di balik langit biru, itulah harapan kita. Ini bukan sesuatu yang diada-ada atau dipaksakan, karena memang firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak fokus pada dunia hari ini. Kolose 3:3-4 mengatakan, “Kamu sudah mati. Hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Jadi, jika Kristus yang adalah hidup kita menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia di dalam kemuliaan.”
Pertanyaannya, seberapa kita percaya dan berani untuk mencari kemuliaan itu? Jika Kristus yang adalah hidup kita menyatakan diri kelak, kita pun akan menyatakan diri bersama-sama dengan Dia di dalam kemuliaan. Kemuliaan yang sekarang harus kita percayai, ada, walaupun seperti fantasi, seperti mimpi sebab begitu abstrak. Tetapi bukankah itu adalah iman? Bukankah itu yang diajarkan firman Tuhan? Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Karena iman, Abraham taat, ketika Abraham dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya. Lalu Abraham berangkat dengan tidak mengetahui tempat tujuannya. Dia tidak melihat. Abraham menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Di mana? Abraham tidak tahu.
Yang berat adalah “jika Kristus adalah hidup kita,” berarti hidup kita bukan kita lagi, mesti Kristus yang hidup di dalam kita. Ini yang harus kita usahakan. Kita digilas dengan masalah-masalah berat, tapi di situlah kita dididik Tuhan untuk membuktikan apakah Kristus hidup di dalam diri kita atau tidak. Setiap kita pasti menghadapi pencobaan dan godaan untuk berbuat dosa. Ingat, ini: Kristus adalah hidup kita. Maka, seandainya Yesus hidup pada zaman sekarang, bagaimana Ia bersikap terhadap setiap peristiwa, setiap kejadian yang kita alami. Di tengah-tengah tragisnya hidup ini, kita mau sibuk dan asyik dengan Tuhan, yaitu untuk membenahi diri bagaimana kita bisa menghidupkan Kristus di dalam hidup kita. Roh Kudus akan menolong setiap kita.
Sebab masing-masing kita punya kepribadian atau personality yang berbeda-beda.