“Yesus yang lain” mengajarkan Injil sebagai jalan mudah untuk mengarungi kehidupan di bumi ini. Para pembicara yang telah akrab dengan “Yesus yang lain” menampilkan “kekristenan” sebagai jalan keluar dari segala kesulitan hidup bagi mereka yang ada dalam masalah ekonomi, kesehatan, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya. Mereka menjanjikan bahwa Tuhan akan memberi jalan keluar dengan gampang atas dasar kebaikan Tuhan sangatbesar dan Ia memiliki kuasa untuk menyelesaikan masalah dengan mudah. Pengertian mereka buta terhadap hal yang lebih besar dari pemenuhan kebutuhan jasmani yang fana di bumi ini. Mereka tidak mengerti isi keselamatan yang benar. Dengan praktik kekristenan semacam itu,pelayanan pun menjadi sarana menjual nama Yesus. Dengan hal ini, kekristenan tidak memuat langkah untuk mengikuti jejak-Nya, yaitu belajar hidup seperti yang Yesus pernah jalani, namun menjadi usaha untuk memperoleh apa yang dipandang sebagai kebutuhan. Padahal,yang dipandang kebutuhan itu sering adalah keinginan pribadi yang sarat dengan gairah yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan Allah.
“Yesus yang lain,” oleh para pembicaranya diperkenalkan sebagai pribadi yang menjual nama dirinya untuk sesuatu yang dianggap sebagai kebutuhan sesuai “pesanan.” Mereka mengajarkan bahwa Yesus datang untuk menyembuhkan penyakit, menyelesaikan masalah ekonomi, dan memberi kesuksesan. Kemudian, ia juga menjanjikan bahwa orang-orang Kristen yang adalah anak-anak Allah dapat menjadi kepala, bukan ekor.Itu berarti bahwa orang-orang Kristen pasti sukses di marketplace dan terkemuka dalam strata pergaulan, memindahkan kekayaan orang lain ke kantong orang Kristen, dan lain sebagainya. Melalui hal ini, nama Yesus dapat dijual sebab mereka dapat menawarkan berkat-berkat jasmani dengan menggunakan nama Yesus.
Faktanya, praktik pelayanan tersebut di atas sudah menjadi standar pelayanan gereja dewasa ini. Pada dasarnya, mereka membuka “jasa” bagi jemaat dengan menggunakan kuasa mukjizat milik Tuhan Yesus. Biasanya, semboyan yang digunakan adalah “Tuhan Yesus baik dan Dia tidak berubah.” Pada dasarnya, mereka menjual nama Yesus melalui kegiatan rohani. Mereka tidak memahami apa dan bagaimana yang baik dalam diri Tuhan Yesus tersebut. Mereka juga tidak tahu hal apa yang tidak berubah dalam diri Allah Anak tersebut. Sesungguhnya, inilah Injil yang sebenarnya bukan Injil; inilah Injil palsu!
Orang-orang yang dengan sembarangan menggunakan nama Yesus, berurusan dengan Allah hanya demi pemenuhan kebutuhan jasmani dan tercapainya keinginan dan segala cita-cita pribadi. Orang-orang seperti ini berurusan dengan Tuhan bukan karena urusan Tuhan sendiri, bukan untuk mengerti dan melakukan kehendak dan rencana Allah, melainkan urusannya sendiri atau kemuliaannya sendiri. Kalau orang percaya berurusan dengan Tuhan, yang harus dipersoalkan semestinya adalah maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan hanya untuk melayani Tuhan, dengan hidup selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah dalam segala hal.
Sejatinya, hidup sementara di bumi ini hanya menjadi persiapan untuk hidup kekal di langit baru dan bumi yang baru. Orang yang tidak melayaniTuhan di bumi ini, tidak akan pernah melayani Tuhanselamanya. Orang Kristen yang menjadi Kristen hanya karena mau memperoleh berkat jasmani pasti tidak pernah belajar mengenal Yesus dengan benar. Mereka tidak pernah melayani Allah secara benar, sebab tidak memahami bagaimana hidup dalam sikap melayani Bapa seperti yang Yesus lakukan (Yoh. 4:34).
Kita harus memahami bahwa kekristenan adalah proses kehidupan untuk menjadi seperti Yesus atau mengenakan gaya hidup-Nya. Ini berarti orang percaya harus memiliki karakter seperti Anak Tunggal Bapa ini. Memiliki karakter Tuhan Yesus adalah sesuatu yang sangat sukar, bahkan mustahil. Namun, yang mustahil bagi manusia itu tidak mustahil bagi Allah. Dalam hal ini, dapat dipahami bahwa kekristenan bukanlah agama,melainkan jalan hidup.