Yesus yang asli bersikap tegas terhadap segala bentuk tindakan atau praktik yang menghalangi kehidupan memikul salib. Dalam Matius 16:21-23, Yesus menghardik Petrus yang menghalangi diri-Nya ke Yerusalem. Petrus rupanya telah menerima masukan dalam pikirannya mengenai konsep Mesias yang salah. Konsep Mesias dalam pikirannya adalah konsep Mesias menurut orang-orang Yahudi. Seperti orang Yahudi, Petrus mau menjadikan Yesus sebagai juruselamat duniawi untuk hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Inilah “Yesus yang lain.” Iblis menyusupkan idenya dalam diri Petrus untuk merusak pekerjaan dan visi Tuhan. Tuhan Yesus tegas berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”Melalui hal ini, kita mengetahui betapa berarti dan pentingnya konsep-konsep yang ada dalam pikiran seseorang. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa manusia hidup bukan saja dari roti, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Perhatikan kata “mulut Allah!” Hal itu berarti kebenaran yang murni, dari mulut Allah, dari hati Allah.
Petrus menganggap bahwa apa yang akan dilakukan oleh Tuhan Yesus—yaitu ke Yerusalem dan mati disalib—bukan ide yang berasal dari Allah (Mat. 16:21-23). Jadi selama itu, Petrus memiliki pemikiran yang bukan dari Allah.Ia menyerap pemikiran yang sebenarnya berasal dari Iblis.Namun, ia tidak menyadari bahwa ia sedang “kerasukan” Iblis. Iblis merasuk dalam diri seseorang bukan hanya ditandai dengan hal-hal yang bersifat lahiriah seperti menjerit, menelanjangi diri, dan lain sebagainya, melainkan masuk dalam pikiran yang menjadi landasan dalam bersikap hidup. Hal ini sudah cukup membuat Iblis menguasai seluruh kehidupan seseorang. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan manusia setiap hari, seluruh tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh pikirannya.
Jurubicara “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa menjadi orang percaya tidak perlu menderita, yang sama artinya dengan tidak perlu memikul salib. Pikiran duniawi sudah merasuk dalam diri mereka, sehingga mereka tidak pernah mau mengerti bahwa bagaimana pun setiap orang percaya harus memikul salib seperti yang telah dialami oleh Tuhan Yesus sendiri. Itulah sebabnya mereka sering mengemukakan bahwa Allah akan memelihara, menjaga, memberkati, tidak akan mengecewakan karena keadaan akan dibuat selalu ada jalan keluarnya, membuat orang Kristen menjadi kepala bukan ekor, kekayaan bangsa-bangsa akan diberikan kepada orang Kristen, dan lain sebagainya. Semuanya itu memetakan bahwa orang percaya akan menjadi sukses dan berhasil seperti—bahkan melebihi—orang non-Kristen. Kemuliaan Allah dinyatakan melalui keberhasilan-keberhasilan menurut konsep umum. Mereka melukiskan wajah Yesus yang tidak sama seperti yang Injil ajarkan. Mereka melukis wajah “Yesus yang lain.”
Miskinnya pemahaman terhadap kebenaran membuat banyak orang menjadi bodoh. Mereka tidak dapat mengerti Yesus yang asli, sebab mereka sudah terlalu lama menerima pengajaran Firman Tuhan yang tidak keluar dari “mulut Alah.” Ajaran salah yang menyesatkan banyak orangsekarang justru lebih banyak beredar dan populer. Nabi-nabi palsunya pun juga mendapat kesempatan banyak berkhotbah di berbagai media, karena memiliki modal finansial dan relasi yang cukup. Banyak jemaat disesatkan.Mereka merasa bisa berdialog dengan Tuhan, padahal mereka tidak berdialog dengan Yesus yang sejati.Mereka sebenarnya berdialog dengan Yesus yang mereka ciptakan sendiri, yaitu “Yesus yang lain.” Banyak orang Kristen mengikuti nabi-nabi palsunya yang juga dengan mudah mengatasnamakan Tuhan dalam berbicara dan menyampaikan pesan-pesan-Nya. Semua itu adalah wilayah “Yesus yang lain” yang diajarkan adalah pikiran manusia, bukan pikiran Allah. Salah satu cirinya, apa yang disampaikan kepada umat pasti berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan perkara surgawi.