Seperti yang kita tahu bahwa Allah kita adalah Allah yang memiliki perasaan. Dan tentu saja Allah memiliki kesukaan yang bisa Allah nikmati. Coba renungkan hal ini dengan saksama, kira-kira apa yang menjadi kesukaan Allah? Apa yang dapat menyenangkan hati-Nya? Mungkin kita akan menjawab, “pujian penyembahan kepada-Nya.” Amin, benar. Tetapi apalah artinya pujian penyembahan yang indah dan bagus dari bibir, kata-kata dan syair yang bagus diiringi musik, kalau kehidupan kita setiap hari tidak berkenan di hadapan Allah atau tidak menyukakan hati-Nya. Apa artinya? Mari kita berkomitmen menjadi orang-orang yang menyukakan hati Allah, yang menghibur hati Allah.
Di dalam kitab Kejadian 6:1-2-3, dikatakan bahwa manusia telah menjadi bejat, rusak, dan firman Tuhan mengatakan hal itu memilukan hati-Nya. Karena kejahatan memuncak bertambah-tambah, hal itu benar-benar mendukakan hati Allah. Tetapi ada seorang yang bernama Nuh yang menjauhi kejahatan, dan tentu memperoleh kasih karunia dari Allah. Nama Nuh artinya anak penghiburan; anak yang menghibur. Ternyata Nuh bukan hanya menjadi anak penghiburan bagi orangtua dan masyarakat sekitarnya, lebih dari itu, justru Nuh menjadi anak penghiburan bagi Allah Bapa.
Namun setelah Nuh mendapat tugas dari Allah untuk membuat bahtera, maka Nuh tidak lagi menjadi penghiburan bagi orang di sekitarnya yang menolak untuk masuk bahtera. Karena Nuh menjadi semacam “penyakit” di masyarakat. Menurut mereka, Nuh memiliki ide dan pikiran yang konyol yang menyatakan akan ada air bah yang melanda dunia. Dan itu membuat mereka menjadi terganggu. Karena di saat itu, mereka sedang menikmati kehidupan secara langsam, sesuai dengan irama hidup pada waktu itu. Nuh berlaku “aneh” sendiri, dia dan keluarganya membuat bahtera dan menyerukan adanya banjir yang akan memenuhi bumi—paling tidak, jagat waktu itu adalah area di sekitar mereka hidup—yang akan menenggelamkan semua makhluk. Dan memang menurut penyelidikan telah pernah terjadi banjir yang meliputi dunia.
Apa yang disampaikan Nuh pasti menjadi ancaman bagi masyarakat di zaman itu. Mengganggu ketenangan dan ketenteraman mereka. Dan apa yang dilakukan Nuh itu juga berseberangan, bertolak belakang dengan aktivitas hidup masyarakat yang berlangsung pada waktu itu. Inilah Nuh, manusia yang menjadi penghiburan bagi Allah, kesukaan hati Allah, tapi sebaliknya, menjadi “penyakit” dan ancaman bagi masyarakat. Dunia kita hari ini seperti zaman Nuh, yang dikatakan di Lukas 17, Tuhan Yesus yang mengatakan, “orang sibuk makan dan minum, menanam dan membangun, menjual dan membeli, kawin dan mengawinkan.”
Mari kita menjadi anak-anak penghiburan yang menjadi kesukaan hati Allah. Ibaratnya, seperti “mainan” yang menyukakan hati Bapa. Bapa menyenangi langkah-langkah hidup kita. Renungkan, betapa indahnya kalau kita menjadi seseorang yang diperhatikan oleh Allah, karena kita selalu membuat senyum-Nya. Di tengah-tengah kepedihan hati Allah melihat dunia yang jahat, dunia yang rusak ini, Allah Bapa bisa tersenyum melihat kita; kita bisa menjadi penghiburan bagi Allah Bapa kita, bagi Tuhan kita, yang hatinya pedih melihat kejahatan yang bertambah-tambah di dunia ini. Tentu saja hal ini kita lakukan bukan dengan terpaksa, tetapi kita lakukan dengan rela, dengan sukacita, karena inilah kehormatan kita. Betapa luar biasa kalau kita menjadi manusia yang menjadi kesukaan hati Allah. Dan tentu saja hampir-hampir tidak ditemukan makhluk manusia seperti itu. Tetapi kita mau memilih menjadi makhluk manusia yang menjadi kesukaan hati Allah.
Memang pada awal-awal, kita belajar menjadi anak kesukaan Allah itu berat sekali karena bertentangan dengan keinginan daging kita dan keinginan jiwa kita yang sudah cemar oleh dosa. Tetapi kalau kita terus berjuang, akan menjadi irama yang tetap di dalam diri kita, menjadi kesukaan kita. Kalau dulu kita menikmati dosa dan bagi kita dosa itu kesukaan, karena kita nikmati dalam daging dan jiwa kita yang keruh,