Manusia tidak akan bisa lupa atas kejadian tidak biasa dalam hidupnya. Yang bisa dilakukan hanyalah menerima dan berdamai dengan kejadian tersebut (Buku Tak Sekadar Pulih, 2020).
Fenomena ditinggal nikah, pada akhirnya harus ada introspeksi di kedua pihak. Pihak yang meninggalkan, jangan menunda-nunda kejelasan. Pihak yang ditinggalkan, kalau berekspektasi kepada manusia itu sewajarnya saja. Apalagi kalau belum ada ikatan pasti sebelumnya.
Kalau “move on” hanya dideskripsikan dari hal-hal tentang patah hati dan mikirin mantan, kenapa gak kita artikan dalam hal yang lebih luas yang bisa mendatangkan manfaat untuk diri kita?
Kalau saja trauma dari patah hati bisa sembuh semudah itu, kalau saja mencintai seseorang (lagi) bisa semudah itu, pasti tidak akan ada istilah “terlalu pemilih” atau “terlalu nyari yang sempurna” kepada seseorang di pertemanan kita yang tak kunjung mendapatkan pasangan.
Hidup sudah cukup kacau di awal tahun, kita harus bisa memaksa dan menyempatkan diri untuk berbahagia dan bersyukur di tengah hiruk pikuk kehidupan. Karena yang dibutuhkan di masa sulit ini, ya kewarasan.
Di saat pandemi ini, tidak semua orang bisa menyambut tahun baru dengan resolusi dan cita-cita. Jangankan itu, bisa bertahan hidup saja sudah sangat bersyukur.
Memulai kisah bersama sosok setelahmu, seperti memasuki rumah yang baru. Hal-hal yang sering kita lakukan, terulang kembali dengan orang yang lain. Di titik ini, aku masih merasa milikmu (Buku Tak Sekadar Pulih, 2020).
Jalani semua proses belajar dalam hidup, yang akan selalu bertemu dengan gagal, sedih, dan jatuh. Serta tidak lupa menyediakan waktu untuk membahagiakan diri sendiri.
Tiba-tiba dewasa dengan berbagai tuntutan di dalamnya membuat kita sulit untuk menjalani hidup. Hal-hal seperti mengendalikan ekspektasi, praktik bersyukur, dan fokus dengan diri sendiri selayaknya bisa jadi solusi untuk menjaga kewarasan diri.