Truth Daily Enlightenment

Menjadi Terhormat di Kekekalan


Listen Later

Allah itu Bapa kita. Di dalam Ibrani 12:5-7 disebutkan bahwa Bapa mendidik kita. Kalau bapak di dunia tahu bagaimana mendidik anak-anaknya dalam waktu pendek sesuai apa yang dianggapnya baik (Ibr. 12:9-10), Bapa di surga mendidik kita agar kita mengambil bagian di dalam kekudusan-Nya. Seperti seorang pelatih yang melatih seorang atlit lompat tinggi. Ia akan melatih atlit dengan melompat 1 meter, lalu naik ke 1,2 meter, bertambah lagi sampai 1,3 meter, dan seterusnya. Pasti Allah Bapa juga melakukan hal itu kepada kita. Tidak langsung kita dituntut untuk menjadi sempurna. Oleh sebab itu, latihan demi latihan yang Allah izinkan kita alami, harus kita perhatikan dengan serius. Kita percaya, bahwa Tuhan akan menolong ketika kita berkata, “Tuhan, aku mau memiliki kesabaran dan kekudusan seperti Engkau.” Tuhan berkata, “mari, Aku latih kamu.” Tapi masalahnya, ketika kita memberi diri dilatih oleh Tuhan, kita tidak boleh memiliki interest terhadap apa pun, kecuali kepada Tuhan. Interest kita kepada Tuhan bukan pada berkat-Nya, melainkan pada karakter-Nya. Banyak orang memiliki interest kepada Tuhan karena Ia baik. Baik-Nya diukur dengan apa? Kesuksesan dalam berkarier, studi, berkat jasmani.
Tuhan tidak bisa mendidik kita kalau kita masih gaduh dengan masalah pribadi, dengan cita-cita dan keinginan pribadi. Kita pasti pernah dengar ketika orang berkata “berdoa, maka Tuhan akan memberkati hidupmu. Berdoa, maka Tuhan akan membuat kamu sukses.” Semua diukur dengan nilai materi, uang, gelar, pangkat. Mestinya, kalau kita menjadi anak-anak Allah yang mau menyenangkan hati Bapa di surga, kita berkomitmen menjadi seseorang yang hanya melakukan apa yang Dia kehendaki dalam hidup kita. Pikiran kita harus menjadi bejana yang terbuka untuk diisi oleh pikiran-Nya, hati kita harus terbuka menjadi bejana yang diisi oleh perasaan-Nya. Bagaimana pikiran dan perasaan kita itu menampung apa yang Allah pikirkan dan rasakan? Tuhan pasti melatih kita.
Mungkin kita berkata, “itu mustahil.” Ya benar, tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa,” maka berarti pasti kita bisa mencapainya. Kalau kita mengatakan “tidak mungkin,” berarti kita menganggap Tuhan Yesus berbohong. Dalam Alkitab kita menemukan, Paulus bisa berkata dalam Galatia 2:19-20, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Ini berarti kita bisa mengenakan hidup Kristus.
Bapa akan melatih kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya itu sama seperti berkarakter seperti Dia, cerdas rohani seperti Bapa. Supaya segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau hal ini benar-benar kita alami, kita mengalami proses untuk mengenakan pikiran, perasaan Tuhan, memiliki kecerdasan rohani sehingga segala sesuatu yang kita putuskan, pilih, lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Waktu kita pulang ke surga kita akan disambut sebagai anak dengan suara Bapa “Anak-Ku pulang,”. Begitulah kira-kira Bapa di surga menyambut kita. Itu adalah sebuah kehormatan. Kita harus merindukan untuk menjadi orang terhormat di kekekalan, bukan di mata manusia hari ini.
Kenyataan yang kita temui hari ini, tidak sajadi kalangan para politisi, di kalangan pendeta dan majelis pun terjadi kekisruhan, konflik, perebutan kedudukan. Dari kedudukan ketua majelis, ketua wilayah, sampai ketua sinode. Kalau seseorang sungguh-sungguh anak Allah, tidak akan melakukan hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang masih mencari hormat bagi dirinya sendiri dari manusia. Mereka menjadi orang yang tidak terhormat di hadapan tuhan. Seharusnya, kita mencari hormat hanya dari Allah. Oleh sebab itu, didikan yang Allah berikan kita responi dengan kesediaan dimana kita tidak memiliki interest untuk yang lain.
Interest kita hanyalah memiliki kehidupan yang diubah sempurna seperti Bapa, diubah untuk memiliki kecerdasan rohani seperti Bapa,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings