Allah Bapa adalah Allah yang hidup dan nyata, maka semestinya Allah Bapa dapat dialami dan benar-benar dirasakan. Pengalaman mengalami dan merasakan hadirat Allah Bapa memang dipandang sangat subjektif. Biasanya, teolog-teolog yang hanya menekankan rasio memandang hal ini sebagai hal yang membahayakan teologi. Tanpa mereka sadari, mereka membangun “tempurung” dalam hidup mereka, sehingga mereka seperti katak di bawah tempurung. Biasanya teolog yang menekankan rasio selalu memandang subjektivitas sebagai hal negatif, padahal mereka sendiri secara nalar juga memiliki subjektivitas. Kita harus jujur mengakui adanya subjektivitas nalar dan juga subjektivitas pengalaman pribadi. Kebenaran terhadap suatu objek, apakah sesesuatu itu memuat subjektivitas yang salah atau subjektivitas yang benar, dapat dibuktikan dari perilaku orang tersebut.
Hal ini sama dengan teologi yang benar atau teologi yang salah dapat dibuktikan dari perilaku orang yang memiliki pandangan teologi tersebut. Oleh sebab itu, kita tidak boleh secara sembarangan menunjuk orang lain sesat hanya melalui perspektif teologi yang dinalar saja. Harus selalu diingat bahwa bagaimana pun, teologi merupakan sebuah asumsi, bukan kebenaran mutlak. Apakah sebuah pandangan teologi memuat kebenaran yang mendekati kemutlakan kebenaran Allah, dapat teruji atau dibuktikan melalui perilaku orang yang mengenakan teologi tersebut dalam perjalanan waktu.
Hadirat Allah Bapa adalah sesuatu yang riil yang harus benar-benar dialami. Inilah kekayaan orang percaya yang telah menerima pembenaran dari Allah Bapa melalui atau oleh Yesus kristus. Pengalaman pada saat kita ada di hadirat Allah Bapa, dimana kita bisa menghayati realitas Allah sebagai Bapa, dan kita memanggil Dia “Bapa” dalam satu keintiman yang indah, membuat hati kita benar-benar bergemar, bersukacita, bahagia, kokoh, dan kuat. Hal ini mengondisi kita menjadi takut atau gentar akan Allah Bapa. Dari hal ini, kita dapat membangun kesucian yang benar, dan tidak terpikat oleh keindahan dunia.
Mengembangkan hidup di hadirat Allah Bapa dimulai dengan perjumpaan secara teratur dengan Dia dalam jam doa. Kita harus benar-benar menghargai setiap waktu sebagai waktu perjumpaan dengan Allah Bapa. Selanjutnya, kita dapat menjadikan waktu hidup kita sebagai ruangan yang selalu ada di hadirat Allah Bapa. Inilah yang disebut sebagai hidup di hadapan-Nya. Untuk memiliki kehidupan yang selalu di hadirat Allah Bapa, bukan sesuatu yang mudah. Sering kita “on-off,” sehingga kita tidak menikmati hadirat Allah secara penuh. Tidak jarang lebih banyak “off”-nya daripada “on”-nya.
Oleh sebab itu, kita harus benar-benar serius menjaga pikiran kita untuk tetap menghayati kehadiran Allah dalam hidup kita. Menjaga pikiran di sini maksudnya adalah tidak membuat hal lain yang merusak penghayatan kita terhadap kehadiran Allah Bapa dalam hidup ini. Ada wilayah yang harus kita hayati secara permanen, yaitu atmosfer kehadiran Allah Bapa di dalam hidup kita. Ini adalah realita terindah dalam hidup yang tidak boleh dilewatkan. Orang Kristen yang melewatkan hal ini, tidak akan pernah masuk Rumah Bapa. Orang-orang Kristen seperti ini pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak pernah mengucapkan Doa Bapa Kami dengan benar. Sebab, bagaimana mereka bisa memanggil Allah sebagai Bapa tanpa bisa menghayati keberadaan-Nya dan hidup dalam kesucian-Nya (1Ptr. 1:16-17)?
Relasi kita sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa, benar-benar dapat terbangun kalau memiliki atau mencapai kehidupan di hadirat Allah. Jadi, sebenarnya di balik panggilan “Bapa” bagi Allah seperti yang termuat dalam Doa Bapa Kami, terdapat panggilan untuk mengalami keberadaan Allah atau hidup di hadirat Allah. Dengan demikian, panggilan Allah sebagai Bapa menyita seluruh kehidupan kita. Dalam hal ini, panggilan “Bapa” bagi Allah menjadi sangat mahal, dan tentu saja sangat bernilai. Kita juga dapat menemukan bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipanggil oleh orang-orang yang h...