Dunia hari ini adalah dunia yang sangat jahat yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam merusak kehidupan orang Kristen. Tidak heran kalau banyak orang Kristen yang kelihatannya memiliki kekristenan, tetapi sebenarnya tidak memiliki kehidupan normal sebagai anak-anak Allah. Ini berarti mereka hanya beragama Kristen, tetapi tidak hidup di dalam kekristenan yang sejati. Hal ini terjadi disebabkan oleh pemahaman mereka yang salah mengenai kekeristenan, sehingga kekristenan yang mereka kenakan jauh dari standar yang seharusnya dikenakan bagi orang percaya. Banyak di antara mereka yang berpikir bahwa menganut atau memeluk agama Kristen, pergi ke gereja dan mengenakan atribut kekristenan—seperti memakai kalung salib—berarti sudah memiliki kekristenan yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum bisa membedakan antara agama Kristen dan kekristenan. Itulah sebabnya, banyak orang Kristen tidak memiliki kehidupan seperti Kristus, padahal “Kristen” artinya seperti Kristus.
Kekristenan mengalami kemerosotan yang parah selama ratusan tahun hingga sekarang. Dalam hal ini, yang paling bertanggung jawab adalah gereja. Banyak gereja tidak mengajarkan bagaimana seharusnya seorang Kristen menjalani hidup. Gaya hidup Yesus yang mestinya menjadi model yang harus dikenakan oleh orang percaya, tidak diajarkan secara konsekuen dan konsisten. Gereja-gereja seperti itu merasa cukup puas kalau jemaat sudah bermoral baik dalam ukuran moral umum, dan datang ke gereja setiap hari Minggu. Gereja membiarkan banyak orang Kristen hidup secara normal seperti anak-anak dunia, suatu normalitas yang bertentangan dengan normalitas Allah.
Seharusnya, gereja mengajarkan bahwa keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Ini berarti orang percaya harus memiliki gaya hidup yang benar-benar baru, yang tidak sama dengan dunia. Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:2). Kalau orang Kristen tidak berbeda dengan orang non-Kristen, berarti itu sebuah penyimpangan di mata Tuhan.
Ketika orang percaya berjuang untuk tidak sama dengan dunia, maka orang percaya tersebut semakin tampak tidak normal di mata dunia. Tetapi kalau orang Kristen tidak berusaha untuk berbeda dengan dunia, maka ia semakin tampak normal di mata dunia. Ini berarti normal baru (new normal) yang salah, sebab normal yang benar bagi orang percaya adalah kehidupan Yesus yang sudah dijalani-Nya 2000 tahun yang lalu, ketika Ia mengenakan tubuh seperti kita. Bagi orang percaya, mengenakan standar kehidupan Yesus haruslah tetap dipertahankan sebagai standar satu-satunya yang tidak boleh digantikan. Orang percaya harus bisa menyatakan suatu pengakuan seperti yang dilakukan oleh Paulus: “hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup dalam aku” (Gal. 2:19-20).
Orang percaya harus senantiasa membawa kematian Yesus di dalam hidupnya, yang artinya selalu mengenakan gaya hidup tepat seperti yang dikenakan oleh Yesus. Jika tidak, berarti bukan orang percaya yang benar. Jadi sebenarnya, seseorang tidak layak menyandang status Kristen di dalam hidupnya jika tidak seperti Kristus. Dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia, harga ini tidak boleh dikurangi atau diubah. Percaya kepada Yesus berarti bersedia mengenakan gaya hidup-Nya. Tidak mengenakan gaya hidup Yesus berarti bukan orang percaya. Tentu saja orang yang tidak mengenakan gaya hidup seperti ini tidak memiliki keselamatan.
Dunia kita hari ini sudah sangat gelap. Bukan hanya pada lingkungan di luar gereja, melainkan juga di dalam lingkungan komunitas Kristen di gereja. Orang-orang Kristen di gereja pada umumnya sudah merasa sebagai pengikut Kristus dan merasa berhak suatu hari masuk surga. Padahal, warna hidup mereka tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen dengan standar m...