Truth Daily Enlightenment

Menjebak Diri Sendiri


Listen Later

Kita harus berani menjebak diri kita sendiri atau menyulitkan diri kita sendiri demi keselamatan kekal. Maksudnya adalah kita harus berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kita harus berani berkomitmen meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya; kita harus berani berkomitmen untuk menyerahkan seluruh hidup kita tanpa batas untuk kepentingan Kerajaan Surga, yang itu semua dirangkum dengan kalimat: tidak minta apa pun dari Tuhan kecuali berkenan pada-Nya. Sebenarnya, ada kerinduan itu dalam hati kita. Hanya, sering kali tidak kita kobarkan sehingga tenggelam dengan berbagai kesenangan, keinginan, hasrat yang hilir mudik dalam pikiran kita, dan kadang-kadang tersangkut sehingga akhirnya kita bisa terjebak pada keinginan-keinginan dunia atau bahkan dosa-dosa.
Supaya kita tidak terjebak dengan dosa-dosa dan keinginan-keinginan dunia tersebut, kita menjebak diri kita dengan komitmen. Kita harus berani berkomitmen. Memang kita harus berhati-hati kalau mengucapkan nazar. Ini bukan sesuatu yang murahan, ini prinsip. Misalnya kalau kita bernazar, “Kalau nanti aku selesai kuliah, aku mau menjadi pendeta,” atau “Nanti kalau bisnis ini berhasil, aku persembahkan sekian persen untuk gereja.” Sebaiknya, kita tidak usah bernazar seperti begitu. Nazar kita bukan begitu. Dalam hal ini, kita akan menggunakan kata “komitmen, janji.” Kita membuat perjanjian dengan Allah bahwa aku mau hidup tidak bercacat, tidak bercela, walaupun sebenarnya kita berkeadaan belum mampu melakukannya. Tapi Tuhan akan memberikan kemampuan. Yang kedua, aku memindahkan hati ke langit baru bumi baru, aku tinggalkan percintaan dunia. Yang ketiga, aku mau sungguh-sungguh hidup untuk kepentingan Tuhan.
Dengan komitmen ini, kita baru bisa memindahkan hati kita ke Kerajaan Surga, dan ini standar karena Yesus sendiri berkata bahwa kita tidak berasal dari dunia ini. Kesediaan kita menjebak diri kita sendiri sebenarnya seperti seorang yang membawa diri ke satu mezbah untuk dikurbankan. Seperti domba yang dibawa ke sebuah mezbah kurban, dipotong-potong, dibakar habis seluruhnya, harus berani. Saya kira orang-orang yang memberi diri menjadi relawan ke Suriah, menjadi tentara atau milisi ISIS itu ada juga yang ragu-ragu, tetapi dia menguatkan hatinya, dia meneguhkan hatinya, lalu dia mau tidak mau harus pergi. Ketika dia sampai di Suriah, dia harus berani mempertaruhkan semuanya.
Untuk indoktrinasi seperti itu, orang bisa nekat. Saya tidak katakan itu salah atau benar, itu bukan urusan saya untuk menilai. Tapi yang saya lihat, komitmennya—bukan tidak mungkin—sempat mengalami keraguan. Tetapi ketika dia terus menguatkan komitmennya, jadilah langkah itu. Demikian pula kita. Mungkin ada keraguan, tetapi pilihan ini adalah pilihan luar biasa. Tidak akan pernah disesali karena ini menyangkut kekekalan.
Seorang hamba Tuhan berdoa suatu hari, “aku berjanji tidak minta apa-apa selain menjadi anak kesukaan-Mu.” Ketika dia mengatakan itu, ada keraguan, tetapi tidak ada pilihan lain. Ini adalah pilihan yang sangat menguntungkan untuk hidup kekal dan harta surgawi yang tiada tara. Ketika hamba Tuhan itu menetapkan hatinya demikian, dia menjebak dirinya, dia menjerumuskan dirinya pada wilayah komitmen yang berat. Hidup ini hanya sekali. Mengapa kita tidak berani berkomitmen untuk nilai-nilai kekekalan.
Jangan seperti orang kaya di Lukas 19 yang ketika mendengar syarat mengikuti Yesus adalah menjual segala miliknya dan membagikannya ke orang miskin, dia pergi dengan sedih, sebab kata firman Tuhan, hartanya banyak. Ingat, bukan sebab dia tidak ditentukan selamat, melainkan hartanya banyak. Dia memilih untuk mencintai hartanya. Itu masalahnya. Beda dengan Zakheus. Dia menyambut Yesus datang ke rumahnya, dia memberi separuh hartanya pada orang miskin, dan jika ada orang yang pernah dia peras, dia kembalikan 4 kali lipat. Yesus berkata, “keselamatan terjadi atas rumah ini.” Kalau Zakheus tidak melangkah melepaskan kekayaannya,
...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Truth Daily EnlightenmentBy Erastus Sabdono

  • 5
  • 5
  • 5
  • 5
  • 5

5

3 ratings