Di dalam Ibrani 11:6 tertulis, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Maka, jangan kita sembarangan berkata: “saya percaya Allah itu ada.” Sebab, faktanya banyak orang mengatakan demikian tetapi kelakuannya tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Pertanyaan bagi kita: “Seberapa kita sungguh-sungguh mencari Dia? Seberapa kita sungguh-sungguh menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mencari Dia?” Tentu ini bukan sesuatu yang sederhana. Yang menjadi persoalan yang benar-benar harus kita perkarakan adalah bagaimana kita bisa sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Allah yang kita yakini Dia ada.
Banyak orang dari kecil sudah beragama Kristen, ketika remaja mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, ketika masa muda juga aktif di gereja, bahkan masuk Sekolah Tinggi Teologi, menjadi pelayan jemaat atau menjadi pendeta, tetapi hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan (teologi) walaupun STT di mana dia kuliah adalah STT atau Sekolah Tinggi Teologi yang baik. Kemudian melanjutkan kuliah lagi mencapai gelar magister teologi atau bahkan doktor teologi. Namun demikian, hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan saja. Bayangkan, kalau orang seperti ini menjadi seorang pembicara lalu mengajar jemaat, melayani jemaat, dan menggembalakannya. Dibawa ke mana jemaat yang dilayani itu?
Jadi, secara keilmuan bisa saja orang tersebut sudah belajar dan mengerti banyak hal tentang Tuhan atau cakap berteologi. Tetapi kalau seseorang belum menjumpai Allah secara konkret, tidak mungkin ia bisa menyampaikan kebenaran yang mengubah orang lain. Bahkan, mungkin ada orang-orang yang sudah mendemonstrasikan mukjizat, memiliki pengalaman-pengalaman spektakuler dalam alam roh misalnya, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah setiap hari sehingga tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai Allah, guna menjadi bekal pengertian dalam menjalani hidup ini. Ini juga percuma, atau tidak terlalu berarti bagi pendewasaan jemaat. Kalau seorang teolog hanya membuat format, merumuskan pengetahuan tentang Tuhan di dalam pikiran, tentu saja hanya akan menjadi pengetahuan di dalam rasio atau nalar, tetapi tidak akan membuat jemaat benar-benar bisa menjumpai Allah. Ironisnya, justru pengetahuan teologi yang diajarkan tidak memicu jemaat atau tidak memicu orang untuk berjuang menemukan Allah. Sebaliknya, malah menjadi stagnan; jadi mentok, jadi berhenti, tidak mau belajar menjumpai Allah secara konkret karena merasa sudah belajar mengenal Allah di dalam pikiran mereka.
Kita harus benar-benar memiliki kerinduan untuk menjumpai Allah. Bukan saja belajar mengenai Allah melalui buku, khotbah, ceramah, seminar, dan lain sebagainya, melainkan menjumpai Allah dalam kehidupan secara konkret. Baik melalui doa setiap hari, paling tidak 30 menit, juga melalui pengalaman-pengalaman yang kita peroleh setiap hari yang di dalamnya juga pasti Allah mau berbicara kepada kita. Kepada para pendeta, jangan merasa puas kalau sudah mengantongi gelar, bahkan sudah menulis banyak buku atau melewati tahun-tahun panjang dalam kegiatan pelayanan gereja. Menjumpai Allah adalah kehidupan setiap hari adalah hal yang tida pernah bisa digantikan oleh apa pun. Hal itu harus menjadi kebutuhan, bukan lagi kewajiban.
Kalau kita setiap hari menjumpai Tuhan, maka barulah mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Sebab, melalui perjumpaan dengan Allah baik melalui doa maupun kejadian-kejadian hidup yang kita alami, kita diajar langsung oleh Tuhan. Bagaimana kita memiliki kerendahan hati, kelemahlembutan, sikap mengalah, menjaga perkataan, menguasai lidah, tidak mengumbar nafsu, tidak terikat dengan dunia, dan lain sebagainya. Itulah kuliah kehidupan yang harus kita jalani, dan itu signifikan akan mengubah kita. Justru inilah inti dari hidup kekristenan. Bukan sekadar pengetahuan tentang Tuhan atau teologi,