
Sign up to save your podcasts
Or


(Taiwan, ROC) --- PUA (Pick Up Artist) berarti "seniman PDKT", awalnya mengacu pada cara membantu pria yang tidak mahir bersosialisasi untuk mendekati orang yang mereka sukai melalui teknik dan aplikasi psikologi.
Namun kemudian berkembang menjadi sekelompok orang yang berdedikasi untuk mempelajari dan menerapkan strategi dan taktik psikologis tertentu untuk mengejar lawan jenis, termasuk merendahkan target, bersikap panas-dingin dan cara-cara lain, yang akhirnya bertujuan untuk menipu dalam hal seksual dan finansial.
PUA (Pick Up Artist) berarti "seniman PDKT", awalnya mengacu pada cara membantu pria yang tidak mahir bersosialisasi untuk mendekati orang yang mereka sukai melalui teknik dan aplikasi psikologi. 圖: YAHOONEWS
5 Jebakan PUA yang Umum
Platform konsultasi psikologi "Just A Moment" mengidentifikasi lima jebakan PUA utama, meliputi keingintahuan, eksplorasi, pesona, penghancuran, dan penganiayaan.
Proses ini dimulai sejak awal perkenalan, di mana korban bisa terjebak oleh kata-kata manis, hingga akhirnya merasa terpuruk karena fitnah dan kritik, yang mana sepenuhnya masuk dalam jebakan manipulasi.
Pelaku menciptakan "persona palsu yang sempurna", seperti pengusaha sukses, tokoh masyarakat terkemuka, atau anak orang kaya, untuk menurunkan kewaspadaan korban.
2. Jebakan Eksplorasi
Pelaku sengaja menunjukkan kelemahan, menciptakan kontras dengan persona mereka untuk membangkitkan empati korban dan membuat korban merasa "spesial".
3. Jebakan Pesona
Setelah korban menunjukkan kepercayaan dan ketertarikan, pelaku akan memancing korban untuk menyatakan perasaan, tetapi tidak pernah secara aktif mengakui atau memperjelas hubungan mereka.
4. Jebakan Penghancuran
Setelah hubungan intim terjalin, pelaku akan bersikap panas-dingin, membuat korban merasa harus "melakukan apa saja untuk menyenangkan mereka", yang mengarah pada perilaku merendahkan diri dan terjebak dalam hubungan yang menyakitkan.
5. Jebakan Penganiayaan
Pelaku akan menyiksa korban secara verbal atau fisik, termasuk makian, intimidasi, pencemaran nama baik atau kekerasan pasif, bahkan KDRT dan pelecehan seksual, semua untuk mengendalikan korban sepenuhnya dan memuaskan keinginan pribadi mereka.
By Yunus Hendry, Aditya Nugraha, Cindy, Linda, Rti(Taiwan, ROC) --- PUA (Pick Up Artist) berarti "seniman PDKT", awalnya mengacu pada cara membantu pria yang tidak mahir bersosialisasi untuk mendekati orang yang mereka sukai melalui teknik dan aplikasi psikologi.
Namun kemudian berkembang menjadi sekelompok orang yang berdedikasi untuk mempelajari dan menerapkan strategi dan taktik psikologis tertentu untuk mengejar lawan jenis, termasuk merendahkan target, bersikap panas-dingin dan cara-cara lain, yang akhirnya bertujuan untuk menipu dalam hal seksual dan finansial.
PUA (Pick Up Artist) berarti "seniman PDKT", awalnya mengacu pada cara membantu pria yang tidak mahir bersosialisasi untuk mendekati orang yang mereka sukai melalui teknik dan aplikasi psikologi. 圖: YAHOONEWS
5 Jebakan PUA yang Umum
Platform konsultasi psikologi "Just A Moment" mengidentifikasi lima jebakan PUA utama, meliputi keingintahuan, eksplorasi, pesona, penghancuran, dan penganiayaan.
Proses ini dimulai sejak awal perkenalan, di mana korban bisa terjebak oleh kata-kata manis, hingga akhirnya merasa terpuruk karena fitnah dan kritik, yang mana sepenuhnya masuk dalam jebakan manipulasi.
Pelaku menciptakan "persona palsu yang sempurna", seperti pengusaha sukses, tokoh masyarakat terkemuka, atau anak orang kaya, untuk menurunkan kewaspadaan korban.
2. Jebakan Eksplorasi
Pelaku sengaja menunjukkan kelemahan, menciptakan kontras dengan persona mereka untuk membangkitkan empati korban dan membuat korban merasa "spesial".
3. Jebakan Pesona
Setelah korban menunjukkan kepercayaan dan ketertarikan, pelaku akan memancing korban untuk menyatakan perasaan, tetapi tidak pernah secara aktif mengakui atau memperjelas hubungan mereka.
4. Jebakan Penghancuran
Setelah hubungan intim terjalin, pelaku akan bersikap panas-dingin, membuat korban merasa harus "melakukan apa saja untuk menyenangkan mereka", yang mengarah pada perilaku merendahkan diri dan terjebak dalam hubungan yang menyakitkan.
5. Jebakan Penganiayaan
Pelaku akan menyiksa korban secara verbal atau fisik, termasuk makian, intimidasi, pencemaran nama baik atau kekerasan pasif, bahkan KDRT dan pelecehan seksual, semua untuk mengendalikan korban sepenuhnya dan memuaskan keinginan pribadi mereka.