Men’s Talk

Men’s Talk - Pratfall Effect


Listen Later

(Taiwan, ROC) --- Manusia memang tidak ada yang sempurna. Gadis cantik pun bisa buang angin, pria tampan pun bisa cegukan, dan tidak mungkin ada kotoran berwarna merah muda di dunia ini.

Tanpa sengaja menumpahkan air di depan gebetan, melakukan kesalahan kecil saat presentasi tesis, atau terpeleset saat hari pertama kerja, selalu ada momen memalukan dalam hidup yang membuat kita rasanya ingin menghilang saja.

Namun, ingatlah pepatah ini, "Kesalahan kecil tidak menutupi keindahan yang besar". Hari ini, kita akan membahas bagaimana kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja ini justru bisa membuat kita lebih "sempurna".

Perlu ditegaskan, ini bukan berarti kita boleh seenaknya berbuat salah.

Semua orang membenci orang yang ceroboh. Orang yang selalu melakukan kesalahan tentu saja tidak akan disukai, dan orang yang biasa-biasa saja juga terkesan membosankan.

Masyarakat selalu mengejar standar kesempurnaan, dan orang yang unggul dalam segala hal tentu saja populer, tetapi mungkin mereka akan seperti bunga di atas menara gading, hanya bisa dipandang dari jauh dan tidak dapat disentuh.

Ada pepatah yang mengatakan, "Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya".

Orang yang semakin cakap dan berada di posisi tinggi, seringkali akan mengundang rasa iri atau terjebak dalam kesendirian. Semakin kita berusaha keras untuk menampilkan sisi sempurna, belum tentu kita akan mendapatkan perhatian atau keberuntungan yang setimpal.

Untuk memahami fenomena sosial ini, psikolog Elliot Aronson dari University of Texas melakukan eksperimen yang menarik, dan pada tahun 1966 memperkenalkan "efek kesalahan" atau "efek pratfall", yang menunjukkan bahwa orang-orang yang unggul, jika mereka melakukan kesalahan kecil secara tidak sengaja, malah justru dapat meningkatkan daya tarik mereka.

Elliot Aronson mengundang sekelompok mahasiswa psikologi untuk menonton video wawancara dan kemudian menggambarkan serta menilai kesan dan daya tarik para kandidat.

圖/dreamstime

Ada empat kandidat yang dikelompokkan:

1. Kandidat Unggul: Mampu menjawab lebih dari 90% pertanyaan dengan benar, siswa teladan, pengurus organisasi kemahasiswaan, multitalenta, dan panutan dengan kepribadian yang baik.

2. Kandidat Unggul: Mampu menjawab lebih dari 90% pertanyaan dengan benar, siswa teladan, pengurus organisasi kemahasiswaan, multitalenta, dan panutan dengan kepribadian yang baik, tetapi secara tidak sengaja menumpahkan kopi ke dirinya sendiri menjelang akhir wawancara.

3. Kandidat Biasa: Tingkat jawaban benar hanya 30%, nilai akademis rata-rata, dan kemampuan yang biasa-biasa saja.

4. Kandidat Biasa: Tingkat jawaban benar hanya 30%, nilai akademis rata-rata, dan kemampuan yang biasa-biasa saja, dan juga secara tidak sengaja menumpahkan kopi ke dirinya sendiri menjelang akhir wawancara.

"Kesalahan kecil tidak menutupi keindahan yang besar"圖/MEDIUM

Tentu saja, kandidat terakhir mendapat skor terendah. Tapi siapa yang paling menonjol?

Yang mengejutkan, 95% siswa memilih kandidat kedua — orang yang unggul tetapi sedikit ceroboh! Diikuti oleh kandidat pertama, lalu kandidat ketiga dan keempat (jadi cerita ini juga memberitahu kita, jika kamu biasa-biasa saja, lebih baik jangan membuat kesalahan).

Eksperimen ini membuktikan "efek kesalahan" yang menunjukkan bahwa kesalahan kecil atau kekurangan justru dapat membuat orang yang berbakat lebih menarik dan memesona. Mengapa?

Ada dua penjelasan dalam psikologi. Pertama, kesempurnaan seringkali memberi kesan tidak nyata, tidak mudah didekati, dan dingin. Pikirkan tentang orang-orang yang selalu mendapat peringkat pertama di sekolah, kebanyakan dari mereka dicap aneh, kutu buku, atau terlalu pintar untuk diajak bicara.

Lagi pula, tidak ada manusia yang sempurna. Citra yang terlalu sempurna justru membuat seseorang "terlalu sempurna untuk menjadi manusia", sehingga orang lain secara naluriah akan menjaga jarak atau mengagumi mereka dari jauh, dan bahkan akan menimbulkan rasa tertekan, iri, dan jarak psikologis.

Sebaliknya, kesalahan sesekali dapat mematahkan stereotip dan membuat orang-orang yang sangat cakap "turun ke bumi".

圖/BOX PIPER

Kedua, manusia memiliki mekanisme pertahanan diri.

Tidak dapat disangkal bahwa bakat dan daya tarik memiliki korelasi positif, tetapi terlalu banyak juga tidak baik. Jika seseorang terlalu cakap hingga membuat orang di sekitarnya merasa rendah diri, tidak mampu, dan diremehkan, hal itu mungkin akan menjadi bumerang.

Kesalahan kecil yang tidak disengaja tidak hanya dapat menghancurkan tembok pembatas, tetapi juga meningkatkan harga diri orang lain, sehingga membuatnya lebih disukai.

Jadi, jika kamu adalah orang yang sempurna, ingatlah untuk selalu rendah hati dan jangan menonjolkan diri. Semakin cakap seseorang, semakin ia tahu bagaimana menyembunyikan kemampuannya, dan jangan terlalu mengejar kesempurnaan. Hadapi kesalahan dengan tenang, mungkin itu akan membuatmu lebih disukai.

Tentu saja, jangan sengaja mencari perhatian dengan berpura-pura bodoh. Seperti yang ditunjukkan oleh eksperimen: jika kamu bukan orang yang sempurna, lebih baik lakukan saja pekerjaanmu dengan baik!

...more
View all episodesView all episodes
Download on the App Store

Men’s TalkBy Yunus Hendry, Aditya Nugraha, Cindy, Linda, Rti