Di dalam dunia modern sekarang ini, di mana setiap orang dapat berbicara bebas di media sosial, dapat terlihat orang Kristen sejati dan yang palsu, hamba Tuhan yang sejati dan yang palsu, pendeta yang sejati dan yang gadungan. Hati nurani kita pasti bisa merasakan tulisan atau perkataan yang bernuansa memberkati dan yang tidak memberkati, meneduhkan dan yang melukai, yang mendatangkan berkat dan yang mendatangkan kutuk. Kita harus berhikmat terhadap segala sesuatu yang kita lihat dan kita dengar, agar jiwa kita tidak dicemari oleh “racun-racun” melalui dunia media sosial. Memang banyak manfaat dan berkat yang kita dapat peroleh dari media sosial, tetapi juga tidak sedikit kerugian yang kita peroleh kalau kita menerima masukan dari sumber yang salah.
Dunia media sosial bisa menjadi sarana seseorang belajar menguasai diri dengan tidak meng-upload apa yang tidak perlu untuk di-upload, meng-upload apa yang dapat menjadi berkat bagi orang lain. Hendaknya, kita tidak menggunakan media sosial hanya untuk mencari uang atau popularitas, tetapi untuk memberitakan kebenaran guna mengubah kehidupan banyak orang. Kehidupan banyak orang di sini maksudnya adalah perilaku seseorang; dari perilaku yang melukai hati Allah kepada perilaku yang menyenangkan hati-Nya. Kehidupan banyak orang juga menunjuk fokus kehidupan banyak orang; dari dunia ini kepada Kerajaan Allah. Media sosial bisa menjadi sarana untuk menyempurnakan kesucian atau sebaliknya untuk menyempurnakan kejahatan.
Fakta yang dapat kita temukan dalam kehidupan banyak orang hari ini adalah mereka tenggelam dalam fokus perhatian dunia media sosial sehingga tidak memfokuskan diri pada Allah. Sangat banyak waktu yang telah digunakan untuk memerhatikan dunia media sosial daripada belajar Firman Tuhan dengan saudara-saudara seiman yang dapat membangun kehidupan yang baik. Sehingga media sosial menjadi telaga kegelapan yang membinasakan banyak orang. Dari media sosial tersebut, banyak kehidupan moral manusia menjadi rusak dan fokus kehidupan banyak orang tidak diarahkan kepada Kerajaan Allah. Dalam hal ini, media sosial menjadi alat yang ampuh di tangan kuasa gelap untuk membinasakan jiwa-jiwa ke dalam neraka.
Aspek lain yang terjadi dewasa ini, media sosial menjadi arena perdebatan dan saling kecam di antara orang Kristen yang membangkitkan pertikaian, kebencian, sakit hati, dendam, dan berbagai perasaan negatif lain yang memecah belah persekutuan orang percaya. Ironisnya, hal ini tidak kita dapati dalam kehidupan orang-orang non-Kristen. Di sini orang-orang Kristen gagal menjadi berkat dan menggarami masyarakat. Kita harus menerima kenyataan adanya perbedaan pendapat di antara orang Kristen. Dalam sejarah gereja, tercatat fakta adanya perbedaan pengajaran, doktrin, dan pendapat dalam banyak hal. Tetapi hendaknya perbedaan ini tidak menjadi alasan untuk menyerang orang lain dan mengangkat diri seakan-akan seseorang memiliki otoritas ilahi untuk menghakimi orang lain dengan alasan membela kebenaran atau meluruskan ajaran.
Melalui media sosial, terbuka peluang kejatuhan dan perilaku buruk rohaniwan Kristen atau pendeta dipublikasikan. Orang-orang yang pernah kecewa terhadap pendeta dan gereja memiliki sarana untuk mengompensasi kekecewaannya. Orang-orang yang mau menjadi popular menyerang figur publik di kalangan orang Kristen. Dengan menyerang dalam bentuk kritik-kritik, kecaman-kecaman, dan tuduhan-tuduhan kepada orang lain—khususnya terhadap mereka yang dikenal oleh masyarakat—membuat diri orang tersebut menjadi pusat perhatian banyak orang. Orang yang mau menjadi berita (news) harus berani menyerang orang yang sudah menjadi berita. Tentu banyak alasan yang bisa dikemukakan untuk menyerang orang lain.
Satu aspek, hal ini sangat berguna bagi para rohaniwan Kristen atau pendeta mengoreksi diri dan menjaga diri dari kesalahan. Tetapi aspek yang lain publikasi-publikasi semacam itu meruntuhkan kepercayaan jemaat terha...