Mengapa bangsa Yahudi menolak Yesus? Bahkan orang-orang yang tadinya mengikut Yesus akhirnya meninggalkan-Nya. Orang-orang yang tadinya berkata: “Hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”, berubah menjadi pekik mengerikan dengan penuh kebencian: “Salibkan Dia”. Sesungguhnya mereka bukan tidak membutuhkan Juruselamat. Mereka sedang menantikan seorang Mesias seperti yang dinubuatkan oleh Kitab Suci. Tidak heran kalau para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi bisa menjawab pertanyaan Herodes mengenai di mana Mesias akan dilahirkan (Mat. 2:1-5). Persoalannya adalah bahwa mereka menginginkan Mesias versi atau model mereka.
Mesias yang mereka idam-idamkan dan memang sangat mereka butuhkan adalah Mesias yang dapat membebaskan mereka dari kekuasaan penjajahan bangsa Roma. Mereka menginginkan kemerdekaan politik. Bangsa Yahudi menginginkan bangsa mereka mengalami masa kejayaan atau zaman keemasan seperti zaman raja Daud dan Salomo. Tentu saja sosok Mesias yang mereka mimpikan adalah sosok pahlawan yang memiliki kekuatan ekstra sehingga dapat memimpin perjuangan melawan kekaisaran Roma yang pada waktu itu menguasai Palestina.
Model Mesias yang diinginkan bangsa Yahudi berbeda dengan Mesias yang dihadirkan oleh Elohim Yahweh di tengah-tengah mereka. Mesias yang adalah Yesus sendiri dilahirkan di Bethlehem, di sebuah tempat yang hina. Terlahir dari pasangan tukang kayu yang sederhana. Yesus, sebagai Mesias, datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan dosa, bukan politik. Yesus tidak membawa bangsa Israel kepada kejayaan lahiriah atau kemuliaan duniawi, sebab kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Perlawanan-Nya tidak menggunakan senjata yang menyakiti dan melukai sesama. Yesus datang dalam kelemahan secara lahiriah, kemiskinan materi, dan kehinaan di mata manusia.
Yesus adalah Mesias dari Bapa di surga yang memikul hukuman akibat kesalahan semua manusia. Mesias yang benar ini mengajarkan bagaimana sempurna seperti Bapa, dan hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Untuk itu, Yesus sendiri berjuang untuk dapat mencapai kesempurnaan, sehingga dapat menunjukkan bagaimana memiliki kehidupan seperti itu. Ia menjadi teladan atau pokok keselamatan, artinya yang menggubah manusia menjadi manusia sesuai dengan maksud dan tujuan manusia diciptakan (Ibr. 5:7-9).
Mesias yang benar mengarahkan manusia untuk melepaskan diri dari segala ikatan duniawi, bahkan dari segala miliknya. Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala. Seirama dengan ini, Paulus menulis bahwa orang percaya harus berprinsip: asal ada makanan dan pakaian, cukup. Ini berarti harta dunia bukan lagi menjadi tujuan. Hal ini dimaksudkan agar fokus hidup orang percaya hanya kepada proses untuk dapat berkeadaan diri sesuai rancangan semula, sebab seseorang tidak akan dapat diubah atau menjadi murid Tuhan kalau tidak melepaskan diri dari segala miliknya (Luk. 14:33).
Mesias yang sejati mengarahkan manusia ke langit yang baru dan bumi yang baru, sebab bumi ini akan dihancurkan menjadi lautan api. Oleh sebab itu orang percaya harus merasa bahwa dirinya menumpang di bumi ini. Di bumi hanya untuk mempersiapkan diri menjadi umat yang layak bagi Tuhan atau menjadi mempelai-Nya. Dewasa ini, banyak gereja mengajarkan Yesus yang lain, Yesus yang diperkenalkan sebagai Mesias duniawi. Yesus yang sibuk membuat mukjizat, memenuhi berkat jasmani, menolong masalah-masalah yang dialami jemaat agar dapat membuat hidup di bumi menjadi nyaman. Ini berarti mengajarkan Mesias yang tidak berbeda dengan yang diingini bangsa Yahudi, yang akhirnya menyalibkan Yesus. Gereja seperti itu ramai dikunjungi orang, sebab mereka menawarkan apa yang sesuai dengan semangat zaman atau selera jiwa mereka. Mereka mengajarkan Mesias palsu.