Pernahkah kita memerhatikan dengan serius dan teliti mengenai kisah Elia setelah bertanding melawan nabi-nabi Baal (1Raj. 18)? Elia bertanding dengan 450 nabi Baal, mengenai siapakah di antara mereka yang dapat menurunkan api dari langit dan membakar korban di mezbah mereka. Elia memenangkan pertandingan tersebut, ia menurunkan api dari langit yang membakar korban di atas mezbah Elia. Hal itu membuktikan bahwa Allah Yahwe adalah Allah yang benar dan berkuasa. Sebagai akibatnya nabi-nabi Baal tersebut dibunuh. Ini adalah sebuah prestasi yang hebat dan benar-benar mengagumkan. Tetapi setelah prestasi besar tersebut, Elia melarikan diri dan menjadi putus asa sebab ia dikejar oleh Izebel istri Raja Ahab yang mengupayakan kematiannya (1Raj. 19).
Elia benar-benar ketakutan dan berkata: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” Hal ini sebenarnya sukar dipahami. Tetapi inilah kenyataannya. Pengalaman dahsyat yang dialami Elia – yaitu melakukan mukjizat dari Tuhan- bukanlah ukuran bahwa pribadi Elia sudah matang dan dewasa. Di tengah serbuan Izebel yang memburu nyawanya, Elia yang “bisa” menurunkan api dari langit, ternyata tidak yakin bahwa Tuhan masih bisa memeliharanya. Hal ini menunjukkan bahwa Elia belum dewasa. Ternyata, mukjizat tidak mendewasakan atau tidak menjadi ukuran kedewasaan rohani.
Sekarang ini, kalau ada seorang pendeta bisa mendemonstrasikan kuasa Tuhan, seperti mengadakan mujizat, bernubuat, dan lain sebagainya, maka jemaat pasti memandang bahwa pendeta itu sudah sangat hebat. Pendeta tersebut dianggap sudah dewasa dan memiliki perkenanan di hadapan Tuhan. Pendeta tersebut dipandang sebagai orang istimewa di hadapan Tuhan dan manusia. Ini sesuatu yang harus dikoreksi. Dalam Injil Matius 7:21-23 kita dapati pernyataan Tuhan yang sukar dimengerti atau sukar dipahami, yaitu ternyata ada orang-orang yang telah bernubuat, mengusir roh-roh jahat, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama Tuhan, namun pada akhirnya tidak dikenal oleh Tuhan dan mereka terbuang ke dalam kegelapan abadi. Tentunya nama yang digunakan dalam bernubuat, mengusir roh jahat, dan mengadakan mukjizat adalah nama Yesus sebab Tuhan Yesus mengatakan hal tersebut. Tetapi pada akhirnya mereka tertolak juga.
Dalam Injil Matius 10, kita temukan kisah mengenai Tuhan yang memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil dengan mengadakan banyak mukjizat. Tentu di antara mereka termasuk Petrus yang menyangkali Tuhan Yesus dan Yudas yang mengkhianati-Nya. Hanya perbedaaan dari dua orang tersebut ialah Petrus bertobat setelah menyangkal Tuhan Yesus tetapi Yudas “kebablasan”; murtad dan terhilang. Di sini kita dapati bahwa ketidakdewasaan seseorang tidak menutup kemungkinan mukjizat tetap dapat terjadi dalam kegiatan pelayanan. Realitas seperti ini juga dapat kita jumpai dalam kehidupan orang-orang yang menyatakan diri sebagai hamba-hamba Tuhan. Dalam hal ini mukjizat tidak menahan atau menghalangi seseorang mengkhianati Tuhan sampai kemudian terhilang selamanya, seperti Yudas.
Tidak dapat dibantah, terdapat hamba-hamba Tuhan yang dapat mengusir setan, tetapi tidak bisa mengusir kebencian dalam dirinya. Mereka dapat mengusir setan, tetapi tidak dapat mengusir hasrat zina dalam dirinya dan berperilaku tidak menjadi berkat. Kenyataan yang juga kita jumpai adalah terdapat hamba-hamba Tuhan yang bisa mengadakan mukjizat, tetapi dalam hidupnya melakukan kebohongan dan kesombongan. Terdapat hamba Tuhan yang berkarunia kesembuhan dan nubuat, tetapi hidupnya tidak mendatangkan keteduhan bagi orang lain, penuh kepahitan, penghinaan, dan pelecehan terhadap hamba Tuhan yang lain. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa mukjizat yang dilakukan seseorang tidak menjamin kedewasaan rohani seseorang dan perkenanannya di hadapan Tuhan. Dengan hal ini, kita diingatkan untuk mengoreksi diri dengan jujur dan berjaga-jaga agar tidak terperangkap dalam kehidupan yang tidak ...