Mutiara Dharma

Mutiara Dharma

Download on the App Store

Mutiara Dharma episodes

  • Makna Mantra: Om Hrang Hring Sah. Oleh: I Wayan Sudarma
    Makna Mantra Om Hrang Hring Sah Paramasiva aditya ya namah swaha
    Hrang: Diksa Mantra untuk Akasa
    Hring: Diksa Mantra untuk Pertiwi.
    Sah: Diksa Mantra Untuk Planet-planet lainnya.
    Om Hrang Hring Sah: Hormat kepada Akasa-Pertiwi dan Semesta Jagat Raya.
    Dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Seha menjadi: Om Pakulun Paduka Bhatara Sanghyang Surya Chandra Lintang Tranggana, Hyang Akasa-Pertiwi pinaka Saksining Bhuana Agung mwang Bhuana Alit.
    Itu sebabnya yang menjadi Saksi dalam Pemujaan adalah: Surya, Candra, Bintang (lintang), Planet-planet lain (tranggana), akasa (langit) dan pertiwi (bumi)
    Semoga bermanfaat
    Rahayu 🙏
    I Wayan Sudarma
    6 min
  • Makna Rahina Budha Cemeng Klawu (Oleh: I Wayan Sudarma)
    Makna Dari Rahina Budha Cemeng Klawu Dalam Hindu
    Oleh: I Wayan Sudarma
    Bangli, 16 Juni 2020
    Om Swastyastu
    Om Śri Lakṣmī Mahādevī, Pīta varṇā pītāmbarā, dala vāyavya sthānañ ca, sarva pāpa praharaṇam. (Aṣtadevīstava.6)
    (Om Hyang Vidhi dalam wujud-Mu yang sangat mulia, dewi Lakṣmī yang menganugrahkan kemakmuran yang maha agung. Warna dan bhusananya serba kuning, bersthana di Barat Laut dari daun bunga teratai. Melenyapkan segala kepapaan dan penderitaan).
    Rahina Budha Cemeng Klawu atau biasanya juga disebut dengan Buda Wage Klawu merupakan hari pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sedana atau juga dikenal sebagai Dewi Laksmi, yang melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan. Upacara Buda Cemeng Klawu ini jatuh pada hari Rabu Wage wuku Klawu kalender Saka-Bali, yang diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali oleh masyarakat Hindu Bali.
    Umat Hindu Bali meyakini Ida Bhatari Rambut Sedana/Dewi Laksmi sedang melaksanakan yoga dan juga pada hari ini tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang atau menabung, karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia.
    Upacara Budha Cemeng Klawu ini dilakukan oleh seluruh umat Hindu Bali, terutama mereka yang membuka usaha perdagangan, misalnya pedagang di pasar, pemilik warung, restaurant, jasa keuangan, bengkel, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan yang mengalirkan dana secara cepat dalam menjalankan perusahaaan. Biasanya pada setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang, diberikan sesajen khusus untuk menghormati Ida Bhatara Sedana atau Dewi Laksmi sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih atas pemberian-Nya.
    Filosofi dalam Budha Cemeng Klawu terdapat dalam kekawin Nitisastra IV.7 ada dinyatakan sebagai berikut:
    Singgih yan tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara.
    Artinya:
    kalau zaman kali sudah datang tidak ada yang lebih bernilai dari pada uang. Sudah susah dikatakan para ilmuwan, pemberani, orang suci maupun orang yang kuat semuanya pelayan orang kaya.
    Dari sumber Susastra Hindu tersebut diatas dapat dipahami bahwa uang itu pada hakikatnya adalah sarana bukan tujuan hidup, jadi tergantung cara manusia menggunakan sarana tersebut. Bila uang tersebut di dapat dan digunakan sesuai berdasarkan konsep ketuhanan maka uang itu amat berguna mengantarkan manusia mendapatkan hidup bahagia lahir batin, namun sebaliknya jika uang tersebut di anggap sebagai tujuan yang dianggap paling bernilai maka uang itu akan dapat membawa kesengsaraan. Karena itu tempatkanlah uang tersebut sebagai alat mewujudkan Dharma/kebenaran/kebaikan.
    Om Santih Santih Santih Om
    21 min
  • Makna Pavitri Karana (Oleh: I Wayan Sudarma
    Pavitri Karana atau Mandi Dengan Mantram
    Om Swastyastu
    Om apavitra pavitro va
    sarvavasthang gato'pi va
    yah smaret pundarikaksam
    sa bahya abhyantara sucih
    Sri Visnu, Sri Visnu, Sri Visnu".
    Artinya: Kesadaran kita waktu mengucapkan mantram tersebut hendaknya seperti ini: "Ya Tuhan YME, apakah hamba dalam keadaan tidak suci ataukah dalam keadaan telah disucikan, atau dalam keadaan apa pun hamba, dengan mengingat Tuhan Yang Maha Pengasih didalam hati, maka hamba akan disucikan lahir dan batin"
    Om Santih Santih Santih Om
    Semoga bermanfaat. (I Wayan Sudarma)
    17 min
  • Upacara Cinta. Oleh: I Wayan Sudarma
    Om Swastyastu
    Salah satu ciri menonjol pulau Bali adalah adanya upacara agama di mana-mana. Uniknya, upacara ini tidak dilakukan untuk alam atas seperti: dewa, dewi, Tuhan semata, tapi juga memberi makan dan ruang pada alam bawah.
    Di hampir setiap rumah orang Bali ada penunggun karang, semacam rumah bagi spirit-spirit setempat yang sudah tinggal di sana terlebih dahulu.
    Di banyak upacara, sering kali diisi dengan memberi suguhan pada mahluk di alam bawah. Tentu ini bukan berarti orang Bali menyembah setan, sekali lagi bukan!. Ia adalah wakil kasih sayang yang sempurna.
    Bila bisa memberi suguhan pada para Bhuta, lebih mudah menghaturkan persembahan pada Tuhan. Jika bisa memberi ruang pada mahluk dari alam gelap, mudah menghormat pada mahluk dari alam cahaya.
    Om Santih Santih Santih Om
    ♡ I Wayan Sudarma
    #kemenagbangli
    @PokjaluhHinduBangli
    Kantor Kementerian Agama Kab. Bangli
    16 min
  • Tuhan Meresapi Semuanya (Oleh: I Wayan Sudarma)
    Iswara Sarwa Bhutanam, demikian petikan Mantra Suci Weda mengemukakan akan KeMahaan Ida Sang Hyang Widhi. Pengetahuan dan pemahaman ini mengajak kita untuk dapat menghargai seluruh entitas yang ada baik yang bergerak maupun tidak bergerak. Konsep Iswara Sarwa Bhutanam ini pula yang mendasari manusia mesti selaras dan harmoni dengan semuanya (Tri Hita Karana). #sewakadharma #suluhdharma #mutiaradharma
    22 min
  • Bhagavadgita VI.1 Oleh: I Wayan Sudarma
    Belajar Melantunkan Bhagawad Gita dan Mendiskusikannya. Adhaya 6 Śloka 1.
    श्रीभगवानुवाच |
    अनाश्रित: कर्मफलं कार्यं कर्म करोति य: |
    स संन्यासी च योगी च न निरग्निर्न चाक्रिय: || 1||
    śrī bhagavān uvāca:
    anāśritaḥ karma-phalaṁ
    kāryaṁ karma karoti yaḥ
    sa sannyāsī ca yogī ca
    na niragnir na cākriyaḥ
    Kosa Kata:
    Śrī-bhagavān uvāca-Shri Krshna Bersabda;
    Anāśritaḥ-tidak menginginkan;
    Karma-phalam-hasil tindakan;
    Kāryam-wajib;
    Karma-kerja;
    Karoti-performa
    Yaḥ-orang yang;
    Saḥ-orang itu;
    Sanyāsī-dalam perintah yang ditolak;
    Ca-dan; Yogi-yogi;
    Ca-dan;
    Na-tidak/bukan;
    Niḥ-tanpa;
    Agniḥ-api;
    Na-tidak/bukan;
    Ca-juga;
    Akriyaḥ-tanpa aktivitas
    Artinya:
    Shri Krshna bersabda: Orang yang melaksanakan tugas kewajiban tanpa berlindung pada hasil dari pekerjaan-nya, sesungguhnya dia adalah seorang Sanyasi, orang yang sudah melepaskan diri dari keterikatan duniawi, dan ia adalah seorang Yogi, orang yang telah mencapai keinsyafan diri. Dan bukan (hanya) orang yang tidak menyalakan api suci (yang dinamakan sebagai seorang Sanyasi), dan juga bukan (hanya) orang yang meninggalkan pekerjaan (yang dinamakan sebagai seorang Yogi).
    Om Santih Santih Santih Om
    ❤ I Wayan Sudarma©️
    54 min
  • Manfaat Mekinyah Oleh: I Wayan Sudarma
    Mekinyah artinya berjemur di Bawah sinar Matahari Pagi sambil memuja Bhatara Surya, yang bermanfaat untuk menambah sistem kekebalan Tubuh. Dalam agama Hindu Sinar Matahari Pagi diyakini mampu menghilangkan berbagai penyakit. Ini sesuai dengan bunyi Mantram sebagai berikut:
    Om Pranamya bhaskara dewam
    Sarwa klesa winasanm
    Pranamya adityasya sivartham
    Bhukti mukti warapradam.
    Om adityasya namaskaram
    Ye kurwanti dhine dhine
    Dhirgam ayur bhalam wiryam
    Wyadi soccam winasanam 🙏
    #kemenagbangli
    @PokjaluhHinduBangli
    7 min

About Mutiara Dharma

From the publisher's feed

Om Swastyastu