Na' Wiyono Poem

Na' Wiyono Poem

By Teddy & Na DiaryArtsPerforming Arts
Download on the App Store

Na' Wiyono Poem episodes

  • BANDA NEIRA 2015 (Erna Winarsih Wiyono Feat Sabana, Sastra Banda Neira)
    Repost @sastrabandaneira
    Sebuah puisi tentang Banda Neira yang dititipkan langsung dari kakak @na_wiyono kepada SABANA yang ingin dibacakan oleh orang Banda sendiri, dan salah satu anggota SABANA kak @ferlitaaaaaa_ dengan senang hati membacakan puisi tersebut 🤗
    _
    _
    Naira Neira demikian kita sebut
    Kita menaiki perahu motor bermesin dua
    Matahari menantang birunya langit memeluk udara bersih tanpa polusi
    Ay menyambut kami
    Kebebasan setelah terkunci itu katamu
    Kebebasan yang tidak kudapatkan darinya tetapi darimu
    Apa itu?
    Tidak bisa aku katakan tetapi itu nyata, perlahan itu menjalar dan menjelma menjadi bilur rindu yang bisu
    Aku membawa sepiku
    Aku membawa sendiriku
    Pada guratan waktu
    Sketsa sketsa yang mewakili diri
    Menyepi
    Mengatakan pada diriku bahwa aku tidak bisa bertahan pada cinta sepihak
    Berkata angin yang bertiup bahwa aku memilih sunyi dalam kompas langkahku
    Sejarah buah pala dan meriam yang diletakkan di benteng atas
    Portugis, Belanda, beberapa rumah rumah pengasingan tokoh tokoh nasional
    Catatan kaki Banda Neira
    padamu kutitipkan aksara dari kagumku akan tanahmu
    Banda Neira, 2015
    Erna Winarsih Wiyono
    _
    _
    Puisi yang bagus dari bentuk perasaan kagum atas sebuah tempat bersejarah kak @na_wiyono 👏👌 teman-teman SABANA sangat menyukainya 🤗❤ pendapat mereka akan puisi tersebut sangat bagus, kekaguman yang tersampaikan lewat kata sederhana akan gaya penulisan yang cukup baik 🙏👌 // Kontak Aktif : FB : Erna Winarsih Wiyono (Na) IG : @na_wiyono YouTube : Teddy & Na Diary (Like,Komen,Share,Subscribe)
    3 min
  • PEREMPUAN & LAUT - Gamelan Sang Saptaswara, Erna WW, & Teddy Arte
    KOLABORASI MUSIK TRADISIONAL + LUKISAN + SAJAK
    PEREMPUAN & LAUT
    Gamelan Sang Saptaswara, Erna Winarsih Wiyono, Teddy Arte.
    Performa Saya dan suamiku, Teddy Arte dalam Lukisan & Puisi, kolaborasi pertama kami pasca menikah.
    Puisi terbaru karya saya dengan tema Perempuan Dan Laut.
    PEREMPUAN DAN LAUT
    #SajakSelasa
    BIRU YANG TAK SEKEDAR BIRU
    Karya : Erna Winarsih Wiyono
    1/
    Mari sesaat pejamkan mata untuk larik yang sempat terhenti, dari pena yang dibiaskan hujan, sentuhan ombak, angin, juga catatan semesta di dasar laut
    2/
    Ibu,
    Samudera Pertiwi
    The Ocean
    Sinergi jiwa dan ruh bersama daratan bumi
    Mother of the sea
    Biru yang tak sekedar biru
    3/
    Duduk dan memandangmu hingga bintang menyentuhku bahwa langit sudah gelap lalu bulan berkata;
    Kapan kau pulang?
    Layar terkembang menjaring nasib
    Perahu perahu berkawan manusia
    Para pejuang gigih
    Nelayan negeri ini
    Menaklukkan laut untuk menyambung hidup
    4/
    A dance of sea
    Ikan, kuda laut, anemon, ubur ubur, penyu
    Kisah lautku tak selalu bahagia
    Limbah mencekik aliran nadiku
    Sampah sampah plastik turut menjadi kafan, pembungkus jasad para penghuni laut
    5/
    Dear human,
    Jangan kau koyak kami lagi dengan luka luka baru
    Dear human,
    Jika kami menjadi bagian api hidupmu, jaga dan lestarikan kami
    Aku adalah lautmu
    Aku adalah lautmu
    Aku adalah lautmu
    Bogor, 14 Juni 2019
    Bentara Budaya Jakarta,
    Selasa, 25 Juni 2019.
    17 min
  • PAGELARAN KITAB DAUN, Erna W W, Teddy Arte, & Gamelan Sang Saptaswara - Galeri Indonesia Kaya
    Kategori : Sastra, Seni & Budaya, Puisi, Live Painting di atas Daun, Musik Etnik.
    Sub : Usia 15+
    "Kitab Daun" adalah sebuah pagelaran seni berdasarkan sajak dengan judul yang sama karya Erna Winarsih Wiyono yang berisi pencarian manusia akan jati diri dan Tuhan di bumi ini. Sajak ini akan dibacakan oleh penggubahnya sendiri bersamaan dengan penampilan lukis daun live oleh Teddy Arte yang akan mendeskripsikan sajak Kitab Daun. Dengan diringi tabuhan Gamelan Sang Saptaswara, penonton dari berbagai kalangan diharapkan dapat menikmati dan mengapresiasi proses melukis pada media daun sambil merasakan perubahan suasana dan emosi dari setiap bait sajak dengan iringan gamelannya.
    PROFIL PENAMPIL/PENYELENGGARA :
    TEDDY ARTE
    Teddy Arte, seorang pelukis, pernah mengikuti beberapa Pameran “Sketsa dan Lukisan” yang bertempat di; Balai Budaya Jakarta, Galeri Nasional Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dan pernah mengisi Workshop Lukisan Daun di Bentara Budaya Jakarta). Pasca menikah bersama sang istri membangun brandindie, Teddy & Na yang berfokus pada Order Lukisan Daun yang menjadi ciri khas dari seorang Teddy Arte dan Lukisan Kopi (Melukis dengan cairan kopi, cairan kopi sebagai pengganti cat warna).
    ERNA WINARSIH WIYONO
    Erna Winarsih Wiyono lahir pada bulan Oktober di Kota Bogor. Beberapa Antologi puisinya antara lain : Rampai Serenade Rasa (Jalan Pulang Pelangi Pagi@Pustaka Kata 2015), The First Drop Of Rain; Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017, A SKYFUL OF RAIN Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018, “Antologi Puisi untuk Lombok dan Nusa Tenggara Barat” – APAJAKE dan Malam Puisi
    Rantauprapat 2018. “Seribu Sisi Dini” – Bengkel Sastra Taman Maluku dan RC Semarang Kunthi 2019. “100 Penyair Indonesia dalam Antologi Puisi Binjai” – KOSAMBI 2019. Puisi Erna Winarsih Wiyono pernah di muat di beberapa media : Dinamika News Bandar Lampung, Majalah PURAKASASTRA (Peta Perpuisian Indonesia), Balgamagazine, Vemale.com
    GAMELAN SANG SAPTASWARA
    Didirkan oleh drg. R. Bambang Samodra pada tahun 2014, Gamelan Sang Saptaswara adalah kelompok pemain gamelan yang menjunjung Bhinneka Tunggal Ika; tidak hanya memainkan gending jawa namun juga dapat mendengungkan lagu lagu daerah Nusantara, lagu-lagu populer Indonesia, serta lagu-lagu Nasional. Beberapa kali mendapat kesempatan untuk mengiringi berbagai acara, baik resepsi pernikahan, mengiringi ibadah di Gereja, dan sebagainya. // FB : Erna Winarsih Wiyono (Na) // IG : na_wiyono
    17 min
  • BACA HATIKU - PUISI ERNA WINARSIH WIYONO
    Satu lagi karya puisiku dalam musikalisasi puisi oleh Yurilisme.
    Baca Hatiku terdapat ada pada halaman 30, buku kumpulan puisiku, Tea Without Sugar.
    Puisi ini bertutur tentang;
    Harapan untuk berjumpa, sepasang kekasih yang sedang LDR, namun takdir berkata lain..
    sang pria datang pada saat waktu yang tepat, saat sang wanita sudah dipinang pria yang lain.
    Monas dan stasiun kereta hanya berisi memori-memori yang tak terwujud.
    Baca Hatiku karya Erna Winarsih Wiyono, semoga berkenan🙏
    Salam Literasi... | Kontak Aktif : FB : Erna Winarsih Wiyono (Na) IG : @na_wiyono YouTube : Teddy & Na Diary (Like,Komen,Share,Subscribe) |
    1 min
  • MANTERA HATI - PUISI ERNA WINARSIH WIYONO
    Mantera Hati ada pada halaman 39, Tea Without Sugar.
    MANTERA HATI
    Aku melihat sudra yang berdiri bersama kayak atau mungkin sampan tetapi lebih besar lagi
    Kukira kamu mengerti tentang suara pecah ombak
    Pemotretan dan gaun biru yang senada dengan air laut
    Aku suka saat menari di dasar air bebas tanpa beban
    Rambutku menjulur mengikuti ritme air
    Provinsi yang indah pada titik Kolbano dan sejumput harapan ruas kota Kupang, NTT
    Jakarta,24 Juni 2015.
    Regrann from @yurilisme - "Mantera Hati"
    Karya: @na_wiyono
    Suara: @yurilisme
    Backsound: Yiruma
    Image: @hsbn_marco
    Supported by @negeripuisi#yurilisme #musikalisasipuisi #caknun #bacapuisi #puisi #kahlilgibran #boycandra #sastra #chairilanwar #sabdaperubahan #drama #music #tereliye #poem #musik #poetry #dagelan #musikpuisi @indovidgram #indovidgram #IVGStory #aanmansyur #puisicinta #fiersabesari #pidibaiq #sapardidjokodamono #jokopinurbo #dramamusikal #videopuisi #deklamasi #negeripuisi | Kontak Aktif : FB : Erna Winarsih Wiyono (Na) IG : @na_wiyono YouTube : Teddy & Na Diary (Like,Komen,Share,Subscribe) |
    1 min
  • ESTAFET - PUISI ERNA WINARSIH WIYONO
    ESTAFET
    Puisi : Erna Winarsih Wiyono
    @na_wiyono
    Pembaca Puisi : Erna Winarsih Wiyono
    @na_wiyono
    Musik : Ininnawa Sabbarae Remix
    Youtube : Emce Pro
    Video : Erna Winarsih Wiyono
    @na_wiyono
    Youtube : Teddy & Na Diary
    Foto : Dari berbagai sumber
    ESTAFET
    Akaddo Bulo
    Meratakan bara kayu sabuk kelapa
    Tabung-tabung bambu
    Sungai Jeneberang
    Potret narasi tersimpan rapih
    Lontara` Bilang
    Benteng Somba Opu
    Panakkukang juga Anak Gowa
    Dalam bahasaku disebut lemang lain aksara dengan kau
    Haus sudah tapi air tak tersisa barang setetes pun
    Kawan minumlah dari botolku
    Kita saudara
    Makassar,5 September 2015
    Erna Winarsih Wiyono
    Catatan ;
    Asap tebal mengepul dari setiap pekarangan rumah di suatu kampung yang rindang di pinggiran Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tak jauh dari tepi Sungai Jeneberang, Hampir semua orang tengah sibuk menyiapkan sebuah hajatan besar tahunan yang akar riwayatnya berusia hampir setengah milenium itu.
    Kampung itu bernama Tama’la’lang yang masuk wilayah Desa Tamanyeleng, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa. Dari pusat kota Makassar, ibu kota Sulsel, jaraknya hanya sekitar 10 kilometer.
    Setiap tahun, warga merayakan ulang tahun kampung yang disebut attamu taung dengan tradisi Akaddo Bulo atau menyantap kaddo bulo, hidangan yang juga lazim dikenal sebagai lemang. Perayaan itu diselenggarakan setelah peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.
    Akaddo bulo dalam bahasa Makassar berarti ”makanan dari bambu”. Tentu saja bukan bambunya yang dimakan, melainkan campuran beras ketan dan santan yang dibungkus daun pisang kemudian dimasukkan ke dalam potongan bambu.
    Tabung-tabung bambu berukuran panjang 40 sentimeter itu dimasak dengan cara dipanasi secara tegak mengelilingi perapian selama sekitar tiga jam sampai matang. Setelah selesai, bambu dibelah untuk mengeluarkan akaddo bulo yang telah pulen dan siap disantap dengan taburan serundeng.
    Kaddo bulo menjadi sajian utama yang dihidangkan warga kampung kepada anggota keluarga, kerabat, atau siapa pun tamu yang berkunjung ke rumah saat perayaan itu. ”Walaupun orang tak dikenal, kalau datang berkunjung saat perayaan ini, pasti diberikan akaddo bulo. |Kontak Aktif : FB : Erna Winarsih Wiyono (Na) IG : @na_wiyono YouTube : Teddy & Na Diary (Like,Komen,Share,Subscribe) |
    1 min
  • LITTLE NA PUISI ANAK - ERNA WINARSIH WIYONO - 1 - 2021
    Ibu
    ibu, suara klakson dari bus itu seperti angin yang membelai telingaku
    jangkrik, katak, ayam yang bertelur, miki yang mengeong karena lapar
    ibu, aku bisa membayangkannya
    semenjak sore kami berdua dapat mendengar suara ibu untuk pertama kali
    dan malam ini tertidur dengan pulas sebab suara ibu mengalahkan gerimis hujan yang baru saja turun | Kontak Aktif | FB : Erna Winarsih Wiyono (Na) | IG : @na_wiyono | YouTube : Teddy & Na Diary (Like,Komen,Share,Subscribe) Puisi : Erna Winarsih Wiyono Pembaca Puisi : Erna Winarsih Wiyono
    1 min

About Na' Wiyono Poem

From the publisher's feed

Selamat datang di podcast saya yang saya beri judul Na' Wiyono Poem