Dengan mengucapkan Doa Bapa Kami, seseorang tidak bisa tidak, harus hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hidup dalam persekutuan dengan Allah bukan sekadar kalimat filosofis, definisi-definisi, dan format-format teologi yang diucapkan atau ditulis, melainkan harus benar-benar dialami. Banyak teolog berbicara mengenai persekutuan dengan Tuhan hanya dalam rupa kalimat-kalimat yang tidak ber-spirit dan tidak ada nyawanya. Ada orang-orang yang memiliki pengetahuan teologi secara akademis dan mampu mengkhotbahkan serta menulisnya menjadi buku, tetapi tidak ada kuasa yang dapat mengubah orang lain sesuai dengan maksud keselamatan diberikan. Mereka bisa cakap berbicara, tetapi tidak memiliki roh yang kuat mengubah perilaku manusia. Kalaupun ada perubahan, orang-orang yang mendengarkan khotbahnya tidak berubah secara signifikan. Mereka bisa mengubah pengetahuan seseorang tentang Allah, memperkaya isi teologi dalam pikiran, tetapi tidak mengubah perilakunya. Kecenderungan orang seperti itu akan menyerang orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya. Dan dengan sangat mudah mengatakan orang lain sesat. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki persekutuan dengan Allah secara benar, sebab Allah hanya dinalar, tetapi tidak dialami.
Orang yang mengucapkan Doa Bapa Kami harus hidup sebagai anak-anak Allah, dan standarnya adalah Yesus sendiri. Ini kehidupan yang luar biasa, hak istimewa yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Jadi, maksud “menjadikan tubuh kita Bait Roh Kudus,” bukan hanya tubuh didiami oleh Roh Kudus tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Kalau Bait Suci Salomo didiami Roh Allah, artinya Roh Allah hadir dalam Bait Allah tersebut. Tetapi, di sana tidak ada interaksi secara pribadi antara Allah dengan bangunan Bait Suci itu, bahkan tidak dengan semua manusianya. Sebab, Bait Allah di situ hanya gedung atau benda, bukan pribadi. Tetapi orang percaya dapat memiliki persekutuan dengan Allah secara riil. Tidak ada pengalaman yang lebih membahagiakan dari pengalaman benar-benar hidup dalam persekutuan dengan Allah.
Kalau Roh Allah diam di dalam kita, seharusnya ada kegiatan, yaitu percakapan yang berlangsung terus-menerus, yaitu hubungan interaksi dengan Tuhan di dalam diri kita secara berkesinambungan. Hubungan yang mendalam ini tidak ada batasnya, sampai kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus suatu hari nanti. Kedengarannya mistis, tapi ini benar. Kita harus benar-benar senantiasa bisa merasakan dan menghayati kehadiran Allah dalam hidup kita, sehingga kita tidak memaksa diri untuk tidak takut. Kita dengan sendirinya menjadi berani menghadapi apa pun. Kita tidak memaksa diri untuk hidup suci, tapi rasa takut akan Allah akan mencegah kita melakukan kesalahan. Dan kalau sampai melakukan kesalahan, kita akan merasakan sakit yang luar biasa di dalam batin kita, sampai kita tidak mau menyentuh dosa apa pun.
Kalaupun kita tidak berbuat dosa, bukan karena takut dihukum melainkan karena kita tidak mau melukai hati Allah. Sebagaimana kita lebih rela melukai diri sendiri daripada melukai orang yang kita kasihi, demikian dalam cinta kasih kita yang mendalam kepada Allah, kita tidak ingin menyakiti hati-Nya. Kalau kita mencintai seseorang yang kelihatan, akan sangat mudah. Tetapi kalau mencintai Sosok, Entitas yang tidak kelihatan, bukanlah hal yang mudah. Tapi ini pilihan. Allah tidak memberikan kita garansi di depan dengan janji bahwa Ia akan menyatakan diri secara fisik, tetapi Dia akan menyertai kita tanpa tanda-tanda lahiriah atau harfiah. Kita percaya saja. Kita harus berani meyakini bahwa Dia hidup. Oleh sebab itu, salah satu cara untuk menstimulasi penghayatan akan Allah itu adalah menyediakan waktu bertemu dengan Allah setiap hari di dalam doa.
Oleh anugerah Allah, yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus, kita bisa menjangkau Allah. Karena Allah tinggal di dalam kita melalui dan di dalam Roh-Nya. Itulah sebabnya,