Firman Tuhan mengatakan bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 20:27). Kata menyelidiki dalam teks aslinya adalah chapas (חָפַשׂ). Kata ini berarti sama dengan melihat dengan teliti untuk menemukan sesuatu. Adapun terjemahan kata “lubuk hati” menunjuk ruangan yang terdalam (Ibr. kal khetther beten; כָּל־חַדְרֵי־בָֽטֶן). Adapun pelita dalam teks aslinya adalah niyr (נִיר). Kalimat “seluruh lubuk hatinya” dalam bahasa Inggris diterjemahkan the inward parts of the belly or womb. Hal ini menunjuk ruangan yang paling terdalam di hati manusia. Sesungguhnya maksud Amsal 20:27 adalah bahwa roh manusia bisa menjadi mata Tuhan yang menyelidiki keberadaan hidup seseorang, bahkan sampai hal yang terdalam atau tersembunyi dalam diri seseorang.
Dalam Amsal 20:27 kata roh manusia adalah neshamah. Jadi, neshamah manusia itu sendiri yang menyelidiki diri manusianya sendiri. Hal ini mengingatkan kita kepada pernyataan Paulus dalam Roma 8. Dalam Roma 8, Paulus menunjukkan bahwa hasil dari kehidupan orang percaya yang dipimpin Roh Kudus melahirkan “roh” yang menolong percaya hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, yaitu selama mereka menuruti roh tersebut. Roh di sini bukan Roh Kudus. Roh tersebut bukan dalam arti pribadi, tetapi spirit atau gairah yang juga memiliki kecerdasan untuk mengerti kehendak Allah dan selera seperti Tuhan sendiri. Jadi, roh tersebut dihasilkan atau buah dari pergumulan hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Roh itu juga membantu orang percaya dalam berdoa. Hal ini sebenarnya paralel dengan fakta di mana nurani orang percaya (dalam neshamah-nya) oleh pimpinan Roh Kudus memiliki kepekaan untuk menyelidiki dirinya sendiri.
Kalau dikatakan bahwa roh manusia (neshamah) menyelidiki seluruh lubuk hati, artinya neshamah orang percaya diberi kemampuan untuk mengoreksi keadaan batiniahnya sendiri. Sesungguhnya maksud ayat ini adalah bahwa nurani manusia dalam neshamah tersebut memiliki kemampuan untuk mengenali keberadaan dirinya dengan tepat. Mereka yang memiliki kemampuan untuk mengoreksi diri ini adalah mereka yang membuka dirinya hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hidup dalam pimpinan Roh Kudus membuat seseorang menemukan spirit atau gairah Roh Kudus serta kecerdasan Roh Kudus, sehingga hati nurani menjadi cerdas dan memiliki sifat-sifat Allah. Hati nurani yang memiliki spirit, gairah dan kecerdasan dapat mengenali lubuk hatinya sendiri secara benar, obyektif dan tajam.
Ketika seseorang bertumbuh mengenal kebenaran secara memadai atau dalam level tertentu dan bersungguh-sungguh untuk melakukan keinginan Allah, maka dalam proses untuk melakukan kehendak Allah tersebut, ia dapat mendengar suara di dalam dirinya melalui nuraninya. Suara itu adalah nurani yang telah menerima bimbingan Roh Kudus untuk mengerti kehendak Allah. Suara itu akan semakin akrab dan menyatu dalam dirinya sehingga dapat mengarahkan kehidupan kepada kehendak Allah yang sempurna. Suara nurani seseorang yang dipenuhi Firman kebenaran, dapat menjadi suara yang seirama dengan suara Tuhan, sehingga Firman Tuhan dapat digenapi bahwa roh manusia adalah pelita Tuhan. Menjadi pelita artinya selain mengoreksi, juga memberi petunjuk.
Jika orang percaya terus bertumbuh dalam kebenaran, sehingga semakin cerdas, maka nuraninya dengan mudah mendeteksi kalau ada suara yang tidak senada dengan kebenaran atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau seseorang tidak memahami kebenaran secara memadai, karena tidak bertumbuh dalam kebenaran, maka ia tidak akan dapat mendengar suara Tuhan atau tidak memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan. Sebaliknya, ia mendengar suara lain, tetapi disangkanya suara Tuhan. Dalam hal ini banyak orang Kristen dalam kebodohannya menganggap banyak suara yang sebenarnya bukan dari Allah, dianggap sebagai suara dari Allah atau dianggap tidak menyalahi kekudusan Allah, padahal semua itu suara dari dunia yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah....