Beberapa pertanyaan selesai dijawab antara lain; bagaiman sikap syukur nikmat yang hakiki, banyak kita dengar hanya bersifat qauli dengan menyebut Alhamdulillah, apakah hal ini cukup?; Bagaimana mengelola rasa sedih, rasa sakit dsb sehngga keimanan tetap teguh?; Dijelaskan orang kafir kalau diberi kesenangan menyombongkan diri merasa hasil kerjanya, tapi kalau diberi kesusahan akan putus asa, padahal di dunia ini banyak kaum islam tapi masih seperti itu, apakah itu termasuk kafir?