
Sign up to save your podcasts
Or


Padahal sudah jelas yah kalau udara bersih itu hak dasar kita sebagai warga negara. Beberapa tahun lalu waktu polusi masih dianggap kabut oleh warga Jakarta, Greenpeace bersama masyarakat sipil telah mengajukan citizen lawsuit. Hasilnya presiden, beberapa kementrian dan beberapa pemprov divonis BERSALAH atas kerusakan udara Jakarta.
Sekarang warga semakin mawas diri dengan racun di udara Jakarta ini. Alih-alih melakukan mitigasi dan tanggung jawab kepada warganya, pemangku kebijakan malah sibuk bercanda dengan solusi semu atau solusi normatif.
Mulai dari ditiup aja polusinya, pindah ke IKN, ASN wajib pakai EV, WFH ASN, hingga yang terbaru dan paling mubadzir —kalau tidak boleh disebut bodoh—, menyemprotkan air ke jalan raya. Padahal menurut ahli menyemprotkan air ke jalan raya justru memperparah dampak polusi.
Wake up! Warga semakin pintar dan sadar, masa justru pemangku kebijakannya yang makin terbelakang. Ayo berbenah bersama dan jangan denial!
Dampak udara beracun bukan hanya penyakit fisik aja. Stres, mudah marah, jerawatan, obesitas, penurunan gairah seksual hingga mudah cemas juga makin marak karena kualitas udara yang gak layak hirup ini.
Masalah udara beracun di ibu kota memang sedemkian kompleks. Oleh karena itu podcast #NgobrolLingkungan menghadirkan dokter Andi Khomeini Takdir Haruni, Piotr Jakubowski (nafas - Indonesia Air Quality), Bondan Andriyanu dan Cristine Claudia (host).
Tahun ini menjadi tahun ke 9 Presiden Joko Wododo menyampaikan pidato pembukaan nota keuangan. Pidato ini menjadi menjadi gambaran dari proyeksi anggaran dan keseriusan pemerintah dalam mengelola anggaran.
Presiden @Jokowi menyinggung ekonomi hijau dalam Pidato Kenegaraannya pada 16/08 di Sidang Tahunan MPR RI. Tapi..... Kok setelah itu Presiden malah banyak bahas soal hilirisasi. Apakah hilirisasi itu strategi ekonomi hijau yang digadang-gadang pemerintah? Kira-kira hilirisasi untuk pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan itu Green Economy atau Green-washing ya?
Ketidakadilan iklim terjadi di mana-mana, masyarakat rentan paling jadi korban.
Sejak tahun 2000, warga Desa Timbusloko mencoba terus bertahan dari kenaikan air laut yang perlahan menenggelamkan tanah, lahan pertanian, rumah dan kenangan mereka. Bagaimana mereka bisa bertahan dan bangkit, serta apa yang mesti kita pelajari dari warga Timbusloko untuk menghadapi krisis iklim?
🌊⚓️ Dipaksa kerja 20 jam sehari, disiksa, tidak digaji, hingga mati lalu dilarung di laut. Kira-kira begitulah banyak nasib para ABK kita di kapal-kapal ikan asing. Isu perbudakan ini ada dan nyata, namun seolah tidak sampai gaungnya ke daratan.
Pemerintah sebagai regulator pun bukan tidak tahu masalah ini. Namun karena demikian kompleks, dan perbudakan modern ini terjadi di lautan yang bukan wilayah hukum Indonesia, isu ini selalu menemui jalan buntu.
Masih ada harapan: Ratifikasi ILO 188 dapat menjadi solusi regulasi yang bersifat trans-nasional. Namun ikhtiar baik ini juga bukan tanpa hambatan, banyak yang menghalanginya kelahiran regulasi ini karena satu dan lain hal. Apakah regulasi lintas negara ini akan segera terealisasi? Kami coba membahasnya bersama Serikat Buruh Migran Indonesia & Serikat Awak Kapal Transportasi Indonesia.
#overfishing #ocean #podcast #greenpeace #IUUfishing #Oceandefender #EndModernSlaveryatSEA #stopperbudakandilaut #gurugembul #beyondseafood #greenpeaceindonesia #NgobrolLingkungan #environment #climatechange
Lain dulu, lain sekarang. Jika dulu dunia mengenal bangsa-bangsa di nusantara sebagai pelaut yang ulung, sekarang tidak lagi demikian. Di laut industri perikanan kita mengalami segudang masalah. Mulai penangkapan ikan skala industri yang kian masif, sampai kesehjateraan manusia yang terlibat di dalamnya dinilai juga sangat memprihatinkan
Pemaknaan bulan suci Ramadan di masyarakat semakin tergeser akibat modernisasi dan materialisme, di mana ramadhan dipandang sebagai perayaan daripada pencapaian spiritual. Karena pemaknaan yang salah ini ada banyak sekali pemborosan yang justru semakin besar ketika Ramadan. Pemborosan pakaian, penggunaan listrik hingga penggunaan air.
Pada saat bulan Ramadan tingkat konsumsi kita, umat muslim, sadar atau pun tidak malah mengalami peningkatan. Misalnya buang-buang makanan (food waste) yang pernah kita bahas sebelumnya, justru naik 10-15% di bulan ramadan. Selain itu, tingkat pembelian kita atas kebutuhan tekstil, transportasi, air dan listrik juga justru meningkat pada bulan suci ini.
From the publisher's feed